Siapakah yang punya waktu untuk membaca Buku? FT Press memberi Anda solusi

February 8, 2010

Siapakah dimasa kini yang punya waktu luang yang sangat sempit? Mungkin para pensiunan dan para asyakar yang tak berguna saja yang sehari-harinya antar jemput istri dan para cucu saja. Selebihnya adalah manusia-manusia yang serba sibuk untuk dapat sejenak membaca sebuah buku.

Melihat peluang bisnis ini, maka sebuah Penerbit FT Press, anak perusahaan Pearson, menerbitkan eBook yang dinamakan Elements dan Shorts, yang merupakan ringkasan buku-buku yang tebal, dengan harga dibawah US2.99 yang dapat dibaca melalui perangkat Kindle dan dapat di-download dari toko buku online seperti Amazon.com dan Barnes & Noble.

Elements dijual seharga US$1.99 yang berisikan ringkasan buku 1.000 sampai 2.000 kata dari buku-buku yang telah diterbitkan, sedangkan Shorts djual seharga US$2.99 berisikan ringkasan sebanyak 5.000 kata.

Berikut ini adalah berita lengkapnya:

Who has time to read a whole book anymore?

The FT Press, a unit of Pearson, has introduced two series of short, digital-only titles for professionals who want quick snippets of advice for $2.99 or less.

The publisher, through a new imprint named FT Press Delivers, has quietly begun selling what it is calling Elements and Shorts through the Kindle electronic bookstore onAmazon.com and Barnes & Noble’s e-bookstore. The Elements, which the publisher has priced at $1.99, are stripped-down, 1,000- to 2,000-word versions of already-published books, while the Shorts are newly written essays of about 5,000 words, priced at $2.99.

Titles include “Reengineering the Rules of Management,” by James Champy, the co-author, with Michael Hammer, of “Reengineering the Corporation,” one of the biggest business best sellers of the 1990s, and “Keeping It Honest, From Kitchen to Coca-Cola,” by Seth Goldman, co-founder and chief of Honest Tea, the maker of organic drinks.

Amazon.com is already discounting the prices of the Shorts to $2.39 and the Elements to $1.59. So far, Barnes & Noble has kept the publisher’s pricing.

“It’s a good idea to be able to provide people with shorter, more expedient, more time-sensitive” content, said Timothy C. Moore, publisher of the FT Press.

Mr. Moore said the company had already published 242 titles and planned to have 500 by the end of the year. For the Shorts, the company is working with New Word City, a digital publisher. Mr. Moore acknowledged that sales of the new short-form titles could cannibalize traditional book sales. But, he said, “other sources of information that aren’t books are already causing upheaval” in the book market.

Mr. Champy, a consultant, said demand for longer books had fallen. “There are people who only want to access pieces of what you write,” he said. “I don’t think they have an appetite for reading a long, serious business book.”

According to Mr. Goldman, FT Press is not paying advances to authors and is offering royalties equivalent to 20 percent of the publisher’s net proceeds from each sale. Mr. Moore declined to comment, saying that such details were proprietary.

Mr. Goldman said he hoped the new mini e-books were priced cheaply enough to lure readers. “There is size and substance to it, but it’s not a full meal,” Mr. Goldman said. “It’s a healthy lunch on the go as opposed to the seven-course meal.” MOTOKO RICH (NYT)


Google blokir Aplikasi Android yang bahayakan keamanan Pelanggan

January 14, 2010

Dalam upaya untuk menghindari munculnya berbagai aplikasi Google Android yang dikembangkan oleh pengembang independen pada Pasar Android yang dapat merugikan keamanan para pelanggan, maka Google telah memblokir serangkaian aplikasi2 baru yang mencurigakan, yaitu aplikasi yang dikembangkan oleh pengembang dengan kode 09Droid.

Pengembang ini memakai brand institusi perbankan yang terkenal, seperti Chase, Sun Trust dan Bank of America, namun tanpa izin dari institusi perbankan tersebut. Kasus ini mirip dengan kasus penggunaan nama Bank BCA untuk menjebak para pelanggan untuk membuka rahasia account mereka agar rekening mereka dapat dibobol, seperti yang terjadi di Indonesia beberapa tahun yang lalu.

Google bertindak cukup sigap, sebelum para pengembang yang mencurigakan itu dapat melakukan kejahatan untuk membobol rekening para nasabah Android, maka pengembang2 yang mencurigakan tersebut langsung diblokir karena melanggar aturan Google untuk para pengembang aplikasi independen.

Referensi: KLIK DISINI


SK Telekom Korea luncurkan HP Android untuk gantikan iPhone

January 7, 2010

Operator Seluler Korea Selatan SK Telecom yang sebelumnya meluncurkan iPhone sampai mencapai 125.000 pelanggan, tiba-tiba memtuskan untuk merubahnya dengan rencana peluncuran HP pesaing yang berbasiskan operating system Google Android mulai bulan Februari 2010 dengan produksi beberapa Vendor, seperti Motorola, Samsung dan LG dengan sekitar 12-model HP.

Alasan utama adalah karena Andoid memilki platform teknologi lebih tinggi dari pada platform teknologi iPhone dan MS Windows Mobile yang sudah tertinggal. Alasan lainnya adalah karena iPhone maupun Windows dikembangkan dengan konsep proprietary. Aplikasi2 Apple iPhone walaupun dikembangkan oleh berbagai pemasok independen, namun semuanya hanya bisa dijual lewat Apple eStore. Ini merupakan sebuah konsep proprietary, sehingga diperkirakan bila iPhone sudah berkembang pesat dalam jumlah penggunanya, maka iPhone akan mirip software2 MS Windows yang semuanya proprietary, sehingga harga jualnya juga jauh lebih mahal.

Kelemahan ini terlihat oleh para pegembang Google Android yang Open Source dan berbagai aplikasinya boleh dikembangkan secara bebas atau Open Source, sehingga biaya pengembangannya akan turun jauh dibawah biaya pengembangan aplikasi2 iPhone.

Dengan harga jual HP Android serta aplikasi2nya  yang akan lebih murah walaupn dengan platform teknologi yang lebih tinggi, maka nilai kompetitif HP ini akan lebih bagusdari pada HP iPhone atau yang berbasiskan MS Windows Mobile. Itulah perimbangan SK Telecom untuk beralih dari HP iPhone ke HP Android.

Pilihan SK Telecom Korea perlu menjadi referensi para Operator Indonesia untuk segera mengikuti jejak-langkanhya, agar pelanggan Indonesia juga bisa menikmati berbagai jenis feature canggih dari Android, dengan biaya yang lebih murah.

Siapa cepat maka dialah yang akan menjadi Market Leader di Indonesia!

(sumber: telecomasia.net)
———————-0——————
South Korea’s dominant cellco SK Telecom has announced that it will launch more than 12 Android-powered Google smartphones in South Korea from next month.
The smartphones will rival Apple’s iPhone 3GS devices, which SKT rival KT launched in the market on November 30, 2009.
SKT said US vendor Motorola will manufacture its first Google device, while other foreign and local vendors, including Samsung Electronics and LG Electronics, will provide about 10 Google devices.
For its part, KT has attracted relatively strong interest in the iPhone, with sales exceeding more than 160,000 devices in the first four weeks of the smartphone’s release. KT is offering the 32GB iPhone 3GS for 132,000 won ($116.68) to customers on 24-month contracts.
SKT, on the other hand, has been forced to slash the price of Samsung’s Omina2 smartphone – which is powered by Microsoft’s Windows 6.5 mobile operating system – from $900 to only $300 for postpaid customers in order compete against the iPhone. SKT is even offering free Omina2 devices for customers taking $80 monthly plans.
Some reports say that SKT’s strong support of Android may see it snub plans to release the iPhone in South Korea. The Korea Times recently reported that some of SKT’s leading decision-makers are seriously considering shelving plans to release the iPhone.
“We are maintaining a wait-and-see approach for the iPhone,” an SKT official told KT in mid-November. “But we don’t intend to be aggressive and push for an early release.”
SKT shunning the iPhone could seriously hamper Apple’s plans to make a huge dent in the South Korean smartphone market, given the firm has more than a 50% subscriber market share.
Meanwhile, US mobile giant AT&T Mobility has finally announced plans to retail an Android-enabled smartphone by June, becoming the last US cellco to jump on the Android bandwagon.
“In the first half of the year, AT&T will launch five new devices from Dell, HTC and Motorola based on the Android platform,” Ralph de la Vega, CEO of AT&T Mobility, is quoted as saying.

Tender Internet Pedesaan Desa Pinter: Penggunaan Open Source akan mendapat Keunggulan Kompetitif

November 2, 2009

JAKARTA: Enam dari 25 penyelenggara jasa Internet (PJI) dinyatakan tidak lolos prakualifikasi proyek Internet perdesaan Desa Pinter.

“Mereka tidak lulus seleksi dokumen,” ujar Gatot S. Dewa Broto, Kepala Pusat Informasi Depkominfo, kepada Bisnis kemarin.

Keenam perusahaan itu adalah PT Cyber Network Indonesia (Mitra), PT Inet Global Indo, PT Nettocyber Indonesia, PT Sejahtera Globalindo, PT Total Info Kharisma, dan PT Core Mediatech.

Gatoto menambahkan ada tiga perusahaan yang dikurangi jumlah paket incarannya karena tidak lulus di paket wilayah tertentu.

“Seperti PT Indointernet yang semula berencana menawar di semua paket berkurang menjadi enam paket saja,” katanya.

Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo) melalui Balai Telekomunikasi dan Informatika Perdesaan (BTIP) Ditjen Postel membagi pengerjaan proyek Desa Pinter dari dana Universal Service Obligation (USO) menjadi 11 paket pekerjaan.

Ada tiga paket favorit peserta, yaitu paket 4 Jawa Barat dan Banten dengan pagu anggaran tahun pertama Rp41,5 miliar, paket 5 Jawa Tengan dan Yogyakarta dengan pagu senilai Rp35,6 miliar, serta paket 7 Bali, Nusa Tenggara Barat dan Nusa Tenggara Timur dengan pagu senilai Rp27,9 miliar.

Sebanyak enam perusahaan dinyatakan tidak lulus mengikuti paket 4, sementara empat perusahaan tidak lulus prakualifikasi di paket 5 dan paket 7.

PT Telkomsel dan PT Indonesia Comnet Plus, yang mendaftarkan diri juga sebagai calon peserta, diketahui telah memenangi hak kontrak sebagai penyedia program USO untuk akses telekomunikasi bagi 31.824 desa atau disebut Desa Berdering. Kedua perusahaan tersebut dinyatakan lulus prakualifikasi di seluruh paket.

Penggunaan Software Sumber Terbuka (Open Source)

Terkait dengan spesifikasi terminal komputer pada proyek Desa Pinter, Depkominfo tidak mewajibkan para pemenang tender untuk menggunakan peranti komputer dengan kandungan konten lokal dan berbasis sistem operasi open source.

Gatot menjelaskan dalam aturan mengenai tender menggunakan dana universal service obligation (USO) yang ditetapkan tidak ada kewajiban tersebut, pengadaan perangkat operasional bergantung pada pemenang tender di setiap paket.

“Kami mewajibkan pemenang menyediakan komputer lengkap minimal satu unit di setiap desa ibu kota kecamatan, tetapi dari siapa vendor dan bagaimana sistem pengadaannya diserahkan kepada pemenang tender,” ujarnya.

Dia menjelaskan besar kemungkinan merek komputer maupun peranti lunak yang ada di dalamnya setiap paket berbeda. Selain itu, para pemenang juga bisa mengadakan peralatan tersebut menggunakan sistem tender atau penunjukan langsung.

Hal ini sedikit bertentangan dengan pernyataan Menkominfo Tifatul Sembiring dalam acara Global Conference Open Source (GCOS) di Jakarta pekan lalu yang berjanji mendorong penggunaan open source di masyarakat. (fita.indah@bisnis.co.id)

Namun dari hasil pembicaraan kami dengan Bapak Santoso Serad, Kepala BTIP Ditjen POSTEL, dijelaskan oleh beliau bahwa untuk pengadaan haedware Komputer diperlukan jaminan dari fabrikan/vendor serta jaminan pemeliharaan selama 4-tahun, sedangkan untuk pengadaan Perangkat Lunak, maka diperlukan Perangkat Lunak yang LEGAL dan support dari Distributor Software serta jaminan pemeliharaan selama 4-tahun.

Menurut pemahaman kami, maka tiap Peserta Tender diperbolehkan untuk menggunakan Perangkat Lunak Sumber Terbuka (Open Source) sebab perangkat lunak jenis ini sudah dikenal sebagai Perangkat Lunak LEGAL berlisensi GPL (General Public License). Distributor atau Distro Perangkat Lunak Sumber Terbuka sudah banyak terdapat di Indonesia yang dibuat oleh anak-anak Bangsa, seperti IGOS Nusantara yang berbasis Distro Fedora dan dikemas kembali oleh Tim Kemetrian Negara  RISTEK, Distro turunan dari Ubuntu yang dikemas oleh para ahli software Indonesia dengan merek Blankon dan Ki Hajar, Distro turunan dari Mandriva dengan merek PC Linux OS dan PC Linux OS-3D (tampilan Desktop 3 Dimensi) yang berbahasa Indonesia dan dijamin BEBAS VIRUS!

Kesimpulannya, para Peserta Tender Internet Pedesaan Desa Pinter akan mendapatkan keunggulan kompetitif bilamana mereka memakai Distro Open Source buatan anak-anak Bangsa tersebut diatas karena mendapat support penuh dan dukungan pemeliharaan yang tak terbatas waktunya, sebab mereka semuanya berdomisil di Indonesia. Keuntungan lainnya adalah terbebas dari gangguan Virus yang biasa menyebar di Sistem Operasi Microsoft Windows, berbahasa Indonesia, tampilan Desktop yang bisa 3 Dimensi (bila dikehendaki), biaya yang kompetitif serta yang lebih penting lagi adalah tidak adanya DEVISA Nasional yang bocor ke Luar Negeri.

Kami harapkan pihat Depkominfo/Ditjen Postel/BTIP bersedia untuk mendukung kesimpulan kami tersebut diatas, sehingga para peserta Tender Internet Pedesaan Desa Pinter mendapat kepastian hukum untuk mengajukan proposal dengan menggunaan Perangkat Lunak Sumber Terbuka (Open Source).


WiFi Direct: Komunikasi Langsung Antar Terminal WiFi

October 16, 2009

Kelompok Kerja WiFi Alliance telah menyelesaikan spesifikasi standar spesifikasi yang memungkinkan komunikasi langsung antar perangkat terminal WiFi tanpa melalui tranceiver WiFi yang dinamakan WiFi Direct. Produksi perangkat WiFi dengan spesifikasi tersebut diatas akan dimulai dan disertifiaksi dengan jadwal operasional pada pertengahan tahun 2010.

Perkembangan baru ini memungkinkan makin mudahnya komunikasi antar terminal WiFi yang terpasang di Laptop, Handphone dan Smartphone tanpa harus ada tranceiver WiFi sebagai perantaranya seperti yang dilakukan saat ini. Ini mirip dengan komunikasi langsung antar terminal BlueTooths.

Dampaknya tentu akan makin memudahkan komunikasi antar pelanggan dan meningkatkan efisiensi, kecepatan dan produktivitas masyarakat pemakai jasa.


Dapatkah Gempa Bumi diramalkan secara ilmiah? Software Open Source dapat membantu.

October 8, 2009

Informasi akan terjadinya sebuah gempa di suatu wilayah merupakan informasi yang sangat berharga bagi masyarakat yang hidup di wilayah sering mengalami gempa bumi, terutama masyarakat Indonesia yang hidup di wilayah “the Ring of Fire” atau “Lingkar Api”, sebab dibawah tanah yang kita pijak terdapat pergerakan kerak bumi yang saling bertabrakan dan begesekan, sehingga meninbultak gempa tektonik. Celah yang ditibulkannya dapat pula menyebabkan keluarnya magma panas dari perut bumi dan memicu letusan gunung berapi.

Gempabumi tidak hanya terjadi di Indonesia, tetapia di wilayah-wilayah tertentu diseluruh dunia, sehingga dalam waktu 1-minggu saja dapat terjadi 288 gempa, atau sekitar 41 gempa per hari, seperti terlihat pada peta dibawah ini:

Peta Lokasi Gempa Dunia dalam 1-minggu

Peta Lokasi Gempa Dunia dalam 1-minggu

Sebuah software yang dapat menampilkan terjadinya gempa dimana saja di dunia tiap 5-menit, ternyata adalah software Open Source yang merupakan add-on plugin bagi Browser Firefox, yaitu software eQuake Alert addon. Untuk meng-install add-on software ini, silahkan click link dibawah ini, yaitu:

Install eQuake Alert Firefox Addon

Setelah terpasang, maka software Firefox perlu di-reset agar Addon tersebut beroperasi, Setelah itu maka pada footer bar disisi kanan bawah akan muncul informasi tentang kekuatan gempa dan lokasinya diatas bumi setiap 5-menit (bisa diubah). Dari data ini akan dapat dibuat statistik dan pola kejadian gempa dimuka bumi. Bila pola gempa itu berlokasi makin mendekat ditempat kita tinggal, maka ini merupakan peringatan agar kita bersiap-siap untk menghadapi terjadinya gempa tektonik ditempat kita tinggal.

Kompilasi rincian lokasi gempa tiap jam, hari, dan minggu dapat dilihat di Situs Web US Geoegraphic Survey Earthquake Hazards di URL: http://earthquake.usgs.gov/ seperti gambar dibawah ini:

Rincian Gempa di Padang 30 Sep 09

Rincian Gempa di Padang 30 Sep 09

Demikian pula Peta Rincian Kekuatan Gempa yang melanda daratan Pulau Sumatra dapat dilihat pada peta dibawah ini.

Semoga bermanfaat bagi masyarakat Indonesia agar dapat mempersiapkan diri menghadapi gempa dengan lebih baik dan tidak terlena.

Peta Kekuatan Gempa di wilayah Padang

Peta Kekuatan Gempa di wilayah Padang[/capti


Apakah bentuk Wireless Mobile Web masa depan?

October 3, 2009

Awal tahun 2000-an kita mengalami kehancuran model bisnis Web Dotcom yang sebelumnya diperkirakan akan mengambilalih bisnis perdagangan fisik ke perdagangan virtual (eCommerce). Hanya segelintir Web Dotcom yang mampu bertahan, yang umumnya adalah situs berita online seperti detik.com dan kompas.com.

Antara tahun 2005-2007 kita juga mengalami kegagalan layanan 3G yang tadinya diperkirakan akan berkembang pesat dengan traffik yang meningkat tajam sebab akan menjadi “killer apllication” yang baru. Kegagalan ini dipicu oleh ketidakmampuan layanan ini untuk memberikan kinerja layanan yang berkecepatan tinggi dan berkapasitas tinggi seperti yang diharapkan masyarakat pemakai jasa. Dalam kasus 3G Indonesia, permasalahan utamanya adalah karena sempitnya alokasi pita frekwensi yang diberikan kepada tiap operator 3G, dengan hasil layanan yang sangat lelet dan menjengkelkan bagi pelanggan. Pengalaman buruk ini berakibat para pengguna enggan untuk mengembangkan berbagai aplikasi yang innovatif dan kreatif untuk bisnis dan entertainment.

Namun dalam perkembangan mutakhir di banyak negara, internet dial-up yang sebelumnya menjadi andalan masyarakat, sekarang mulai ditingglkan dan dilupakan, sebab muncul layanan baru yang jauh lebih memuaskan, yaitu layanan broadband melalui kabel tembaga (ADSL, Speedy, Coaxial) dan serat optik (FTTH). Selanjutnya berkembang pula layanan HotSpot di cafe, restauran maupun perumahan dengan memanfaatkan layanan wireless WiFi baik yang berbayar maupun yang gratis.

Di banyak negara, layanan 3G mulai dibenahi dengan menyediakan pita frekwensi yang cukup dan memanfaatkan teknoloogi transmisi data berkecepatan tinggi HSDPA (High Speed Data Packet Access) yang nantinya akan berevolusi ke sistem transmisi Long Term Evolution (LTE). Di beberapa negara dimunculkan pula layanan tandingan mobile wireless, yaitu WiMAX standar 802.16e, namun jumlah pelanggannya masih jauh dibawah pelanggan layanan jasa 3G atau 3.5G.

Bila kita bandingkan layanan 3G Indonesia dengan 3G di negara-negara maju, maka akan sangat terlihat beda kecepatan dan kapasitasnya. Untuk membandingkannya, coba saja mengakses youtube lewat handphone, maka akan terasa betapa lambat danterputus-putusnya layanan ini di Indonesia. Pengalaman mengakses Youtube via HP di LN akan sangat jauh berbeda dan nyaman. Terlepas dari kondisi ini, kita aakn mencoba melihat masa depan Wireless Mobile Web.

Dengan membaiknya layanan broadband berkecpatan tinggi melalui wireless 3.5G atau HSDPA serta WiFi, maka muncul produk-produk Handphone (Smartphone) berlayar lebar, berkeyboard QWERTY, touchscreen, dan berdaya prosesor tinggi dari vendor besar seperti Nokia, Ericsson, Samsung, Motorola, Blackberry, K-Touch, Nexian, Android, dan lain-lain. Dampaknya saat ini adalah makin banyaknya pengguna HP yang menafaatkannya untuk layanan data dan Internet. Hasil survey menunjukkan bahwa duapertiga pengguna HP sekarang memanfaatkannya untuk layanan data, meningkat dari angka 25% pengguna yang memakai HP untuk layanan data pada 3-tahun yang lalu. 60% dari layanan data itu saat ini adalah untuk browsing Internet. Pembelian Smartphone di AS, Kanada dan Inggris meningkat dari 3% beberapa tahun yang lalu, menjadi 20% tahun ini.

Beberapa tahun yang lalu, layanan MMS gagal menempatkannya pada posisi killer apllication, karena leletnya GPRS dan 3G. Namun sekarang layanan HSDPA dan WiFi di banyak negara maju sudah cukup baik, sehingga pertanyaannya adalah bentuk apakah layanan Wireless Web melalui Handphone/Smartphone yang akan datang? Apakah merupakan replika layanan Web di Internet konvensional, ataukah akan ada simplifikasi atau kompresi yang akan digunakan agar dapat lebih cepat dan efisien dalam penampilannya?

Silahkan ditanggapi.


Advantages of Direct-to-Home Satellite TV as compared to Terrestrial Cable TV

September 14, 2009

With a transmitting satellite located at 22,000 miles above the earth in a Geostationary Earth Orbit, a Direct-to-Home Satellite all digital TV offers many advantages as compared to the conventional terrestrial Cable TV. The first one being its large earth coverage, the whole continental US can be served easily and installed quickly at relatively lower costs. The second advantage, it provides more all digital High Definition TV channels, 130 plus channels as compared to only 60 terrestrial cable TV channels, which may not all in High Definition format.

Third advantage point, Direct-to-Home Satellite TV as provided by the DIRECTV Satellite TV gives the customers more TV Programs than programs provided by its terrestrial cable TV competitors.

The forth advantage point is when a customer is moving his/her home from one state to another state, then the same DIRECT TV Satellite TV operator is available in view of its large coverage area. There will be no need to change to another TV Operator as may be the case of a terrestrial Cable TV operator.

Information on the Direct-to-Home Satellite TV provided by DIRECTV Satellite TV is available for the following States:

Many customers had chosen the Direct TV Satellite TV operator as their Direct-to-Home Satellite TV provider for many years because of their proven good and reliable operation, quick and prompt response to any complain that they may have. Others may had tried different Home TV providers, but at the end they finally decided that their best choice is the Direct-to-Home Satellite TV as provided by the DIRECTV Satellite TV operator.

In addition, Direct TV Satellite TV operator offers a 5 months free for its Premier Package of 265+ Channels Free, including 31 Premium movie channels.


Network Security for WiFi Networks – A Suggested Solution

September 2, 2009

Wi-Fi just got a little less secure – though not by as much as some headlines might lead you to believe.

Two computer scientists in Japan say they’ve figured out a way to crack the WPA (Wi-Fi Protected Access) encryption system in wireless routers in under a minute.

Details are scarce, but the attack, developed by Toshihiro Ohigashi of Hiroshima University and Masakatu Morii of Kobe University, builds off a theoretical attack against WPA revealed in November 2008.

That attack turned out to be … well, not as huge a deal as it may have sounded. Ars Technica has a good explanation here, but in essence the attack was of limited use and didn’t crack the Temporal Key Integrity Protocol (TKIP), which means it didn’t allow the hacker to recover the keys used to encrypt the keystream. So while the attack could be used for something like DNS poisoning or spoofing, it didn’t let hackers take over a router or intercept the traffic running through it.

The November 2008 attack also took about 15 minutes. The new hack claims to be a more practical approach that shortens the attack to less than one minute by adding a physical element – namely, a relay between the client and the AP. Otherwise, it’s essentially the same hack, but faster.

Should you worry? Not as far as I can tell. Sysadmins can render both attacks useless by either using really long network keys or by simply upgrading their router encryption – if they haven’t already – from WPA (which uses TKIP) to WPA2 (which supports AES-CCMP).

Not that people aren’t working on theoretical attacks on AES. We’ve seen several papers already this year proposing theoretical AES attacks. But switching to AES should keep your Wi-Fi network safe. For now. (source: telecomasia.net)


Gold Coins as a Secure Investment in the Era of Financial Crisis

August 29, 2009

The Financial Crisis which was started a year ago triggered by  the failure of the US Domestic Housing Loans has not seen an end yet, although Presdent Barack Obama Government has poured several Trillion US Dollars in rescue packages and stimulus packages up to this date. The cumulative total US Government Financial Deficit has reached almost US$ 10 Trillion.

Several private banks and financial institutions had declared bancruptcy and changed their ownership, mainly to the US Government as the majority shareholder. Several US Industry Sectors had similar experience, such as the Automotive Manfacturing Industry and others. General Motors and Ford Motor Company had asked financial rescue from the Government to maintain their production operation. Most of their production had greatly been reduced and follwed by the reduction of their employees.

Even giant Software Companies such as Microsoft Corporation which had never reduced its employees compulsorily during its long history had to do so by terminating some 5,000 employees recently to keep the company healthy during this financial crisis.

We as individuals can get a secure investment by purchasing gold coins and keep them in some safe places. They are much more secure than having savings in US Dollars or any other currencies that could change its real value in a short time during a financial crisis. Similarly, investments in public or private stocks are considered much less secure as compared to gold coins.

Now where could we find and buy gold coins? A good web address that provides you with a complete list of investment instruments is in this LINK.

Other type of gold investment instrumen that people commonly buy and keep is in the form of bullion , which we can also buy bullion from the same reference website.