1. Lepaskanlah Rasa Kuatir & Ketakutan.
Ketakutan & kekuatiran hanyalah imajinasi pikiran akan suatu kejadian di masa depan yg blum tentu terjadi, kebanyakan hal-hal yg Anda kuatirkan & takutkan tak pernah terjadi ! It’s all only in your mind.

2. Buanglah Perasaan Dendam
Dendam & Amarah yg disimpan hanya akan menyedot energi diri Anda & hanya mendatangkan KELELAHAN JIWA, BUANGLAH !!

3. Berhentilah Mengeluh
Mengeluh berarti selalu tak menerima apa yg Ada saat ini, secara tak sadar Anda membawa-bawa beban negatif.

4. Bila Ada Masalah, Selesaikan Satu Persatu
Hanya inilah cara menangani setiap persoalan satu demi satu.

5. Tidurlah dengan Nyenyak
Semua masalah tak perlu dibawa tidur. Hal tersebut buruk & tak sehat, biasakanlah tidur dgn nyaman.

6. Jauhi Urusan Orang Lain
Biarkan masalah orang lain menjadi urusan mereka sendiri. Mereka memiliki cara sendiri u/ menangani setiap masalahnya.

7. Hiduplah Pada Saat ini, Bukan Masa Lalu
Nikmati masa lalu sebagai kenangan, Jangan tergantung padanya.
Konsentrasilah hidupmu pada kejadian saat ini, karena apa yg Anda miliki adalah saat ini, bukan kemarin, bukan besok. “Be totally present”

8. Jadilah Pendengar Yg Baik
Saat menjadi pendengar, Anda belajar & mendapatkan ide-ide baru berbeda dari org lain.

9. Berpikirlah Positif
Rasa frustasi datang dari pikiran negatif. Kembalilah berpikir positif.
Bertemanlah dgn orang2x yg berpikiran positif & terlibatlah dgn kegiatan2x positif.

10. Bersyukurlah
Bersyukurlah atas hal-hal kecil yg akan membawa Anda pada hal-hal besar.
Sekecil apapun karunia yg Anda terima, akan menghasilkan hal-hal besar & selalu membawa Anda kepada Kebahagiaan saat Anda bersyukur.

MRT atau Mass Rapid Transit adalah kereta listrik super-cepat yang sudah banyak di bangun dikota-kota besar Eropa, Amerika Serikat, dan Asia Timur, yaitu Jepang, Korea, Hong Kong dan Singapura. Tersedianya MRT ini sangat membantu masyarakat di kota-kota besar dalam mengurangi kemacetan lalulintas kendaraan bermotor, sehingga perjalan dari rumah ke kantor atau sebaliknya bisa ditempuh dalam waktu tidak lebih dari 30-menit.

Ini merupakan solusi kemacetan lalulintas di kota-kota besar modern seperti Jakarta, Surabaya dan Bandung, terutama pada hari-hari kerja. Dengan demikian perjalanan dapat ditempuh dalam waktu singkat, sehingga produktivitas kerja masyarakat bisa ditingkatkan.

Berikut ini adalah contoh kenyamanan menaiki MRT di Hong Kong:

YOGYAKARTA–Universitas Gadjah Mada Yogyakarta mengembangkan teknologi pengelolaan limbah buah menjadi biogas yang dapat digunakan untuk membangkitkan tenaga listrik. “Instalasi biogas itu dibangun di Pasar Buah Gemah Ripah Gamping, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY),” kata Koordinator Program Waste Refinary Universitas Gadjah Mada (UGM) Siti Syamsiah di Yogyakarta, Rabu.

Menurut dia, instalasi yang telah ada itu dapat digunakan untuk mengolah limbah di Pasar Buah Gemah Ripah berupa buah-buahan busuk untuk dijadikan biogas yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk menghidupkan listrik. “Pasar Buah Gemah Ripah setiap hari menghasilkan empat ton limbah buah busuk. Limbah buah yang ada selama ini tidak pernah dimanfaatkan dan langsung dibuang ke tempat pembuangan akhir,” katanya.

Ia mengatakan, melalui instalasi biogas itu, empat ton sampah buah yang dihasilkan setiap hari di pasar tersebut dikonversi menjadi biogas sebanyak 333 newton kubik meter per hari. “Biogas yang dihasilkan telah dipakai sebagai bahan bakar untuk menggerakkan generator listrik. Listrik yang dihasilkan mampu mensuplai sebagian besar kebutuhan listrik di kawasan Pasar Buah Gemah Ripah” katanya.

Menurut dia, daya listrik yang dibangkitkan sebesar 548 kwh per hari itu bisa memenuhi kebutuhan listrik sekitar 500 kepala keluarga. “Saat ini telah dibangun dua unit digester (alat untuk memfermentasi sampah buah menjadi biogas) yang dalam satu pekan mampu menghidupkan listrik untuk penerangan sebagian besar kios-kios di pasar buah tersebut” katanya.

Selain itu, juga mampu menerangi jalan-jalan di sekitar kawasan pasar. Biodigester dibangun di bawah permukaan tanah dengan diameter delapan meter dan tinggi delapan meter. Ia mengatakan, pengembangan teknologi pengolahan sampah menjadi biogas itu bekerja sama dengan pemerintah Swedia yang memberikan bantuan sebesar Rp1,6 miliar untuk pembangunan konstruksi biogas dan penelitian.

“Untuk penyediaan genset dan jaringan listrik difasilitasi Pemerintah Kabupaten Sleman dan UGM mendukung melalui sejumlah penelitian mengenai pembuatan biogas dari sampah buah,” katanya.

Menurut dia, teknologi yang dikembangkan mengadopsi teknologi pengelolaan sampah yang telah dilakukan di Swedia. Namun demikian, pemanfaatan teknologi tetap menyesuaikan kondisi lokal di Indonesia. “Teknologi pengelolaan sampah menjadi biogas itu ditransfer dari Swedia, salah satu negara yang sudah menerapkan teknologi tersebut,” katanya.

(sumber: Antara News)

Larry Page and Eric Schmidt

Pendiri Google Larry Page yang berusia 38-tahun akhirnya mengambil alih pucuk pimpinan Google dari CEO lama Eric Schmidt yang berusia 55-tahun yang menjabat selama 6-tahun dan berhasil menaikkan nilai perusahaan dari US$ 27 milyar pada tahun 2004 menjadi US$55 milyar pada tahun 2010. Eric Schmidt tahun 2004 dipilih sebagai CEO karena ke-seniorannya dan pengalamannya sebagai pemimpin perusahaan, sebab waktu itu para pendiri Google, Larry Page dan Sergei Brin masih relatif muda, berusia 31-32 tahunan, maka diperlukan seorang pemimpin yang sudah dewasa.

Walaupun Google akhirnya maju pesat sampai menjadi raksasa dalam dunia mesin pencari informasi, namun dengan pesatnya kemajuan Facebook, Google terlihat menjadi perusahaan yangmban dalam bergerak dan menciptakan inovasi-inovasi baru. Walaupun Google berhasil dalam mengembangkan layanan ponsel (Android) dan display advertising, namun ia kurang berhasil dalam layanan Google TV dan layanan social networking.

Kalangan intern Google khawatir bahwa Google akan bernasib sama seperti Microsoft, yang dahulunya adalah perusahaan teknologi yang termaju di dunia, namun sekarang pamornya sudah menurun karena tersaingi oleh banyak perusahaan lainnya. Dengan jumlah karyawan sebanyak 24.000 orang, Google saat ini bukan lagi tempat mencari kerja yang terbaik bagi para insinyur-insinyur muda, sebab banyak perusahaan Start-up yang lebih menarik dari padanya.

Komposisi Pimpinan Google sebelumnya adalah Eric Schmidt sebagai CEO, Larry Page sebagai President of Products dan Sergei Brin sebagai President of Technology. Dalam komposisi Pimpinan Google yang baru, Eric Schmidt sebagai Komisaris Utama, Larry Page sebagai CEO dan Sergei Brin sebagai President of Products and Technology. Mereka berharap bahwa dengan pergantian pucuk Pimpinan Google ini, Google dapat kembalo menjadi perusahaan yang agile, mampu menciptakan inovasi-inovasi baru, dan menjadi tempat terbaik bagi para insinyur muda yang memulai kerja mereka. Mereka berharap bahwa Google akan mampu menyaingi para bintang baru dunia Internet dan Social Networking, yaitu Facebook dan Twitter.

Apakah dengan pergantian pucuk pimpinan Google ini, maka Google akan lebih berhasil dari sebelumnya? Mari kita tunggu hasilnya dalam waktu 1-2 tahun mendatang.

Sumber berita: The New York Times:

SAN FRANCISCO — Google made the biggest managementshake-up in a decade on Thursday, handing the reins of the company to one of its co-founders in an effort to rediscover its start-up roots.

As it has grown into the dominant company in Silicon Valley, Google has lost some of its entrepreneurial culture and become a slower-moving bureaucracy, analysts and insiders say, in contrast to FacebookTwitter and other younger, more agile competitors.

To counter this, the company announced that Larry Page, its 38-year-old co-founder, would take over as chief executive from Eric E. Schmidt, a technology industry veteran who was brought in a decade ago to provide adult supervision, as Silicon Valley calls it.

Mr. Schmidt, 55, will remain executive chairman of the company, which had a market value of $200 billion at the close of trading on Thursday, up from $27 billion when it went public in 2004.

“One of the primary goals I have is to get Google to be a big company that has the nimbleness and soul and passion and speed of a start-up,” said Mr. Page in a telephone interview on Thursday. He will start his new role in April.

The shake-up comes at a time of major upheaval in Silicon Valley. The company, and the search industry, face challenges on several fronts.

Google remains immensely powerful and successful — as demonstrated by the stellar quarterly financial results it reported Thursday.

But the sudden rise of Facebook has exposed Google’s failures in areas like social networking and threatens its vast share of the online advertising market. Meanwhile, although Google has had success in new areas like mobile and display advertising, it has struggled to branch out into other businesses like television.

The unspoken fear within Google is that it could become like Microsoft, a once-dominant technology company that seems past its prime and perceived as stodgier, despite successes like XBox and Kinect. Indeed, for all its financial success, Google, which has 24,400 employees, is no longer considered by many top engineers as the most desirable place to work in the Valley; a new generation of start-ups has taken that place.

And in recent years, Google has lost scores of engineers and a string of high-profile senior executives, including Sheryl Sandberg, now chief operating officer at Facebook, andTim Armstrong, now chief executive of AOL.

Mr. Page led the company in its early days but relinquished that role in 2001, when it was still private. In tapping him to return to the post, Google becomes one of the few major companies in the Valley to be put under the control of a founder after being run for so long by a professional manager. To some, the move signaled a kind of coming-of-age for Mr. Page and Mr. Brin, who were in their late 20s when Mr. Schmidt took over. Even Mr. Schmidt characterized it as a moment for the training wheels to come off.

On his Twitter account, Mr. Schmidt wrote: “Day-to-day adult supervision is no longer needed.” Later, on a conference call with analysts after Thursday’s earnings report, he said, “I believe Larry is ready,” adding, “It’s time for him to have a shot at running this.”

The management move ends an unusual experiment in which Google, the world’s largest Internet company, was run jointly by a troika of Mr. Schmidt; Mr. Page, who was president of products; and Sergey Brin, 37, the company’s other co-founder and its president of technology.

In the interview, Mr. Page also explained the move as an effort to streamline, saying the three had selected him as the top decision-maker because of “the pace of decision-making and the scale of the company.” Mr. Brin, who joined Mr. Page and Mr. Schmidt in the interview, said the three-way process confused employees.

“We wanted to make it clear to all the executives and the managers who report to us where they should send an e-mail,” he said.

Mr. Page and Mr. Schmidt said the decision was mutual. “I don’t think there’s another person in the universe that could have done as good a job as Eric has done in the company,” Mr. Page said.

The relationship between the founders and Mr. Schmidt was rocky during its early years, as the founders frequently undercut Mr. Schmidt’s decisions. Although they worked well together for the last several years, there remained recurring strains.

Ken Auletta, the author of “Googled: The End of the World As We Know It,” said in an interview that while Mr. Schmidt may simply have been ready for a change after 10 years, he may have received some encouragement to step aside.

“I don’t think he was pushed aside, but he may have been nudged,” he said.

Under Mr. Schmidt’s helm, Google has prospered, but over the years, it has become less attractive to some engineers, who say it has become harder to develop new ideas while working there. The problem is one that all big companies face, but it is more pressing in Silicon Valley, where the most talented engineers tend to have the strongest entrepreneurial drive. Google has tried to retain dissatisfied employees with perks like giving them time to work on new projects. But some insiders say those incentives have lost effectiveness.

The news of the change rocked Silicon Valley, with analysts and company insiders offering varying theories. Some said Mr. Schmidt was tired of the day-to-day hassles of management. Mr. Schmidt said in the interview, “I would tell you, frankly, a decade is a long time to be a C.E.O., and Larry will discover this.”

Others say Mr. Page always planned to re-assert his authority at some point.

“Larry has wanted to be C.E.O., so that’s not a surprise,” said a former Google sales executive who would speak only anonymously to preserve his relationship with a powerful company. “But the timing — I’ve talked to people at Google today and they were just flabbergasted.”

Esther Dyson, a veteran Valley investor who has long known the Google founders and Mr. Schmidt, said, “It is unexpected but it makes a lot of sense.” She added: “Larry and Sergey have grown up. They want to run their own company.”

After the management change, Mr. Brin will concentrate on several new products, which he declined to name, while Mr. Schmidt will focus on external business partnerships and government outreach, including fighting regulators’ concerns about Google’s growing power.

Mr. Page and Mr. Brin co-founded Google when they were graduate students in computer science at Stanford in 1998.

Mr. Page is aloof, cerebral, intensely private and occasionally brusque. While Mr. Brin is more gregarious, the two didn’t trust outside investors and sought to keep control of the company.

The co-founders and Mr. Schmidt all have controlling stakes in the company. Forbes magazine recently estimated that Mr. Page and Mr. Brin had a net worth of $15 billion each, and Mr. Schmidt, $5.5 billion.

The former executive said the change might be a welcome one if it helps launch products more quickly. “In that respect, getting one of the co-founders in place might be just the energy charge folks need.”

Tahun 2011 adalah tahun Kelinci Logam yang mau keluar dari lobang persembunyiannya. Maka diramalkan bahwa bisnis yang akan maju di tahun 2011 adalah bisnis yang terkait dengan logam dan api, seperti bisnis emas, bisnis elektronik, ponsel, bisnis otomotif, bisnis industri kreatif, internet, bisnis online, eCommerce dan lain-lain.

Selain dari pada itu, pada tahun 2011 diramalkan pula bisnis yang akan menjamur adalah bisnis makanan dan minuman, karena dimasak pakai api. Ini juga dapat dikaitkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang mencapai 240-juta orang, yang membutuhkan makanan dan minuman dalam jumlah besar tiap hari.

Namun karena si Kelinci itu masih ada didepan lobangnya, artinya bisnis pada tahun 2011 itu harus dijalankan dengan hati-hati, ibarat kelinci yang akan meninggalkan lobang persembunyiannya, ia harus berhati-hati terhadap berbagai ancaman dari luar lobang persembunyian.

Perang Dunia Maya atau Cyber War dimulai 12-jam setelah Pengadilan Inggris memutuskan untuk menahan pendiri Wikileaks, Julian Assange atas tuduhan kejahatan sex saat ia berada di Swedia. Penahannya didasarkan atas surat perintah penahanan dari Polisi Swedia, untuk mengadili Julian Assange dan meng-ekstradisi ke Swedia.

Dampak dari serangan para Hackers ini adalah terhentikannya operasi Situs-situs perusahaan yang memusuhi Wikileaks, seperti Visa.com, Master Card, dan Amazon.com serta Pemeritah seperti Swedia untuk beberapa saat karena gencarnya serangan Distributed Denial of Service (DDoS) yang tidakdapat dihindarkan.

Sementara itu banyak pendukung Julian Assange di Astralia, Inggris dan Swedia yang melakukan protes atas ditangkapya Julian, yang menurut mereka adalah tuduhan yang dibuat-buat untuk membungkam Wikileaks.

Berikut ini adalah beritanya dari The New York Times.

LONDON — In a campaign that had some declaring the start of a “cyberwar,” hundreds of Internet activists mounted retaliatory attacks on Wednesday on the Web sites of multinational companies and other organizations they deemed hostile to the WikiLeaks antisecrecy organization and its jailed founder, Julian Assange.

Within 12 hours of a British judge’s decision on Tuesday to deny Mr. Assange bail in a Swedish extradition case, attacks on the Web sites of WikiLeaks’s “enemies,” as defined by the organization’s impassioned supporters around the world, caused several corporate Web sites to become inaccessible or slow down markedly.

Targets of the attacks, in which activists overwhelmed the sites with traffic, included the Web site of MasterCard, which had stopped processing donations for WikiLeaks; Amazon.com, which revoked the use of its computer servers; and PayPal, which stopped accepting donations for Mr. Assange’s group. Visa.com was also affected by the attacks, as were the Web sites of the Swedish prosecutor’s office and the lawyer representing the two women whose allegations of sexual misconduct are the basis of Sweden’s extradition bid.

The Internet assaults underlined the growing reach of self-described “cyberanarchists,” antigovernment and anticorporate activists who have made an icon of Mr. Assange, a 39-year-old Australian.

The speed and range of the attacks also appeared to show the resilience of the backing among computer activists for Mr. Assange, who has appeared increasingly isolated in recent months amid the furor stoked by WikiLeaks’s Web site posting of hundreds of thousands of secret Pentagon documents on the wars in Afghanistan and Iraq.

Mr. Assange has come under renewed attack in the past two weeks for posting the first tranche of a trove of 250,000 secret State Department cables that have exposed American diplomats’ frank assessments of relations with many countries, forcing Secretary of State Hillary Rodham Clinton to express regret to world leaders and raising fears that they and other sources would become more reticent.

The New York Times and four other news organizations last week began publishing articles based on the archive of cables made available to them.

In recent months, some of Mr. Assange’s closest associates in WikiLeaks abandoned him, calling him autocratic and capricious and accusing him of reneging on WikiLeaks’s original pledge of impartiality to launch a concerted attack on the United States. He has been simultaneously fighting a remote battle with the Swedish prosecutors, who have sought his extradition for questioning on accusations of “rape, sexual molestation and forceful coercion” made by the Swedish women. Mr. Assange has denied any wrongdoing in the cases.

American officials have repeatedly said that they are reviewing possible criminal charges against Mr. Assange, a step that could lead to a bid to extradite him to the United States and confront him with having to fight for his freedom on two fronts.

The cyberattacks in Mr. Assange’s defense appear to have been coordinated by Anonymous, a loosely affiliated group of activist computer hackers who have singled out other groups before, including the Church of Scientology. Last weekend, members of Anonymous vowed in two online manifestos to take revenge on any organization that lined up against WikiLeaks.

Anonymous claimed responsibility for the MasterCard attack in Web messages and, according to one activist associated with the group, conducted waves of attacks on other companies during the day. The group said the actions were part of an effort called Operation Payback, which began as a way of punishing companies that attempted to stop Internet file-sharing and movie downloads.

The activist, Gregg Housh, who disavows a personal role in any illegal online activity, said that 1,500 supporters had been in online forums and chat rooms organizing the mass “denial of service” attacks. His account was confirmed by Jose Nazario, a senior security researcher at Arbor Networks, a Chelmsford, Mass., firm that tracks malicious activity on computer networks.

Most of the corporations whose sites were targeted did not explain why they severed ties with WikiLeaks. But PayPal issued statements saying its decision was based on “a violation” of its policy on promoting illegal activities.

Almost all the corporate Web sites that were attacked appeared to be operating normally later on Wednesday, suggesting that any economic impact was limited. But the sense of an Internet war was reinforced when Netcraft, a British Internet monitoring firm, reported that the Web site being used by the hackers to distribute denial-of-service software had been suspended by a Dutch hosting firm, Leaseweb.

A sense of the belligerent mood among activists was given when one contributor to a forum the group uses, WhyWeProtest.net, wrote of the attacks: “The war is on. And everyone ought to spend some time thinking about it, discussing it with others, preparing yourselves so you know how to act if something compels you to make a decision. Be very careful not to err on the side of inaction.”

Mr. Housh acknowledged that there had been online talk among the hackers of a possible Internet campaign against the two women who have been Mr. Assange’s accusers in the Swedish case, but he said that “a lot of people don’t want to be involved.”

A Web search showed new blog posts in recent days in which the two women, identified by the Swedish prosecutors only as Ms. A. and Ms. W., were named, but it was not clear whether there was any link to Anonymous. The women have said that consensual sexual encounters with Mr. Assange became nonconsensual when condoms were no longer in use.

The cyberattacks on corporations Wednesday were seen by many supporters as a counterstrike against the United States. Mr. Assange’s online supporters have widely condemned the Obama administration as the unseen hand coordinating efforts to choke off WikiLeaks by denying it financing and suppressing its network of computer servers.

Mr. Housh described Mr. Assange in an interview as “a political prisoner,” a common view among WikiLeaks supporters who have joined Mr. Assange in condemning the sexual abuse accusations as part of an American-inspired “smear campaign.”

Another activist used the analogy of the civil rights struggle for the cyberattacks.

“Are they disrupting business?” a contributor using the name Moryath wrote in a comment on the slashdot.org technology Web site. “Perhaps, but no worse than the lunch counter sit-ins did.”

Gunung Merapi dan Lempeng Tektonik

Aliran Lava Merapi

Aliran Lava Merapi

Gunung Merapi dikenal sebagai stratovolcano, terdiri dari lapisan abu vulkanik dan material piroklastik lainnya dan lava. Gunung ini secara geologis muda dan mulai meletus di Pleistosen, periode dari 2,6 juta sampai sekitar 12.000 tahun yang lalu. Karena letusan gunung berapi banyak dari bagian yang terbuka, dibantu oleh kondisi iklim yang sulit pada ketinggian hampir 3000 m. Aliran piroklastik yang sangat mematikan dan lahar (lumpur) lebih beraturan daripada letusan besar. Terutama daerah selatan dan barat dari gunung berapi itu yang sering dipengaruhi.

Lokasi gunung berapi di Jawa adalah suatu kebetulan dan semuanya terkait dengan lempeng tektonik. Pergerakan bumi lempeng Australia di bawah lempeng Eurasia terjadi di arah timur laut. Pulau Jawa terletak di tepi lempeng Eurasia. Lempeng Australia membutuhkan banyak air ke dalam mantel di mana titik leleh batuan jatuh. Aliran magma yang meluas, membuat vulkanisme skala besar di Indonesia.

November 4

Ledakan 4 Nov 2010

Ledakan 4 Nov 2010

Aktivitas gunung berapi pada 4 November sangat tinggi. Awan abu gunung berapi menyembur keatas mencapai hingga setinggi 10 km, yang luar biasa. Dalam radius 15 km, semua orang dievakuasi. Ahli geologi lokal Indonesia melihat perkembangan letusan dengan ketakutan. “Kami tidak tahu apa yang terjadi sekarang,” kata salah seorang ahli geologi. Gambaran jumlah gempa bumi (terkait dengan letusan) pada tanggal 4 November terus berlanjut.

November 5

Awan abu panas lebih dari 15 km dari Merapi turun ganas dan menimbulkan korban baru, banyak orang luka bakar. Yogyakarta, sebuah kota dengan lebih dari setengah juta jiwa, adalah lebih dari 30 km di selatan Merapi. Kota ini adalah kedua kalinya tertutup abu vulkanik, kali ini lebih tebal dari pertama kalinya. Juga ada arus berputar lumpur Kali Code, sungai yang mengalir melalui kota. Letusan memuntahkan awan panas tidak hanya abu gunung (aliran piroklastik), namun aliran lava. Pada lebih dari 30 km dari gunung berapi yang gemuruh dapat didengar.

Gempa bumi di gunung berapi begitu besar sehingga jarum dari seismograf kertas menjeplak dan cipratan tinta tergeletak di sekitar. Selain itu, terjadi gempa bumi yang lebih dalam (6-8 km) dibandingkan dengan letusan sebelumnya. Dengan semua kegiatan ini sudah menjadi peristiwa terburuk dalam lebih dari 100 tahun. Kepala Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Dr Surono, mengatakan: “Ini sudah merupakan skenario ketiga, yang saya tidak suka.” Letusan sangat besar akan mungkin terjadi.

Ada banyak ketidakpastian tentang apakah zona evakuasi sekarang 20 atau bahkan 25 km yang harus ditetapkan. Peralatan pengamatan di lokasi (termasuk Webcam) mungkin karena letusan pecah dan kita harus melakukannya sekarang dengan memakai saksi mata melalui twitter dan blog.

Gunung Merapi di pulau Jawa timbul di atas dataran subur di sekitarnya dan Yogyakarta sendiri adalah lereng subur. Daerah ini padat penduduknya dan karena itu lebih rentan. Hal ini juga membuat sulit bagi masyarakat untuk mengungsi yang perlu waktu lebih lama untuk evakuasi.

November 6

Pada malam 5 sampai 6 November, banyak orang terkejut dengan abu awan panas yang turun di beberapa desa. Puluhan orang tewas. Ada daerah di mana bantuan pekerja dan bahkan tentara tidak berani datang.

Bahkan saat ini gunung berapi itu masih aktif. awan abu besar menggantung di atas Pulau Jawa. Oleh karena itu, KLM, seperti maskapai lainnya, memutuskan untuk tidak terbang ke ibukota Jakarta untuk saat ini. Bukan karena tidak akan mungkin saat ini, tetapi sebagai tindakan pencegahan. Penerbangan udara juga dihentikan pada bulan April tahun ini akibat letusan gunung berapi Eyjafjallajökull Islandia. Ini kemudian diketahui bahwa beberapa penerbangan bisa melewatinya.

Di Yogyakarta bantuan kemanusiaan untuk 36.000 orang dilokasikan di stadion setempat. CNN melaporkan bahwa lebih dari 200.000 orang dipaksa mengungsi.

Gunung Merapi

Melihat makin banyaknya korban-korban yang berjatuhan dari bencana meletusnya gunung Merapi, yang terutama disebabkan oleh sulitnya meramalkan kapan gunung itu akan meletus, sehingga membuat banyak korban-korban berjatuhan karena tidak tahu hari apa, jam berapa dan detik keberapa gunung itu akan meletus, maka kami ingin menyampaikan sebuah pemikiran atau solusi.

Para korban itu tewas karena ketidak-tahuan mereka saat meletusnya gunung Merapi itu, mereka tetap berada di lokasi yang berbahaya itu dan perkiraan mereka itu meleset. Seperti sudah diakui oleh Bapak Surono, Ketua Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana, secara ilmiah tidak mungkin untuk meramalkan secara tepat kapan sebuah gunung berapi akan meletus. Jadi ini merupakan faktor utama yang menyebabkan banyaknya korban-korban yang berjatuhan.

Gunung Berapi yang akan meletus adalah ibarat bisul yang siap akan pecah. Untuk mempercepatnya, kita bisa memencet bisul itu hingga keluarlah nanah kotor yang menyebabkan kita sakit. Penderita sakit bisul itu akan segera sembuh setelah dikeluarkannya nanah dari bisulnya.

Lalu bagaimanakah caranya untuk “memencet” gunung berapi yang siap meletus itu agar saatnya dapat kita tetapkan sesuai rencana, dan sebelumnya seluruh penduduk disekitarnya sudah terlebih dahulu kita ungsikan untuk satu hari saja, pada hari dimana gunung itu kita upayakan meletus.

Ini akan sangat mengurangi penderitaan penduduk disekitar gunung berapi itu, karena hanya diperlukan untuk mengungsi cukup satu hari saja. Selain itu mereka tidak harus was-was terus selama satu bulan penuh karena tidak tahu kapan waktunya gunung akan meletus.

Usul kami untuk meledakkan gunung yang siap meletus pada saat yang kita tentukan adalah dengan menjatuhkan ratusan ton bom dari pesawat tempur secara cepat dan akurat ke kawah gunung berapi itu. Hasil yang diharapkan adalah terbukanya sumbatan batu-batuan dan pasir gunung itu, sehingga tidak terjadi ledakan yang terlalu hebat akibat sumbatan yang terlalu lama yang dapat meningkatkan energi ledakan gunung itu, Bagaikan bisul yang dikempeskan, tekanan dari dalam perut bumi dapat diturunkan ketingkat yang tidak terlalu membahayakan.

Wedus Gembel

Wedus Gembel

Kalau Angkatan Udara R.I. belum mempunyai cukup banyak pesawat-pesawat tempur dengan jumlah bom-bom yang cukup, mungkin ini adalah sebuah kesempatan baik untuk dibicarakan dengan Presiden AS Barack Obama yang akan datang ke Jakarta pada hari Selasa 9 November 2010. Ini akan lebih baik dan bermanfaat bagi ummat manusia dari pada menjatuhkan bom-bom di tempat-tempat yang berpenduduk tak berdosa di Iraq dan Afghanistan.

Silahkan ditanggapi dan semoga bermanfaat sebagai solusi yang baik untuk menghindarkan korban-korban letusan gunung berapi yang tidak dapat diramalkan.

Mbah Maridjan

Mbah Maridjan

Sang Juru Kunci Gunung Merapi yang legendaris, Mbah Maridjan, yang foto-foto iklannya sampai saat ini menghiasi iklan “JOSS” bus-bus kota di Ibukota Jakarta sebagai seorang yang “kuat” atau “rosa” yang dapat mengendalikan perilaku Gunung Merapi agar tidak membahayakan penduduk yang tinggal di kaki gunung itu, akhirnya harus menghadap Sang Maha Kuasa, Allah SWT, setelah perjuangannya yang ingin tetap bertahan di rumah beliau di kaki gunung itu gagal, tidak sanggup menahan panasnya abu gunung itu yang mencapai lebih dari 600 derajat Celsius. Beliau gugur di medan tugas dalam posisi bersujud.

Ada anggota masyarakat yang mengusulkan agar beliau diangkat sebagai seorang pahlawan bangsa, namun ada pula yang menganggap bahwa beliau tidak mematuhi titah Sultan Hamengku Buwono X untuk segera turun gunung untuk menghindarkan panasnya si “Wedus Gembel“, awan panas yang akan segera menerjang desa dimana beliau tinggal. Akibatnya ada 11 orang lagi yang ikut tewas bersama beliau, ketika sedang berupaya untuk membujuk beliau agar segera turun gunung, diantaranya adalah wartawan dari Viva News, anggota Polri dan anggota PMI.

Namun ada pula anggota masyarakat yang menganggap bahwa tindakan beliau adalah gegabah dan sombong, menentang hukum alam. Tetapi anehnya, ada seorang tetangga beliau beserta keluarganya yang selamat tanpa cacad, keluar hidup-hidup dari reruntuhan rumah mereka karena sang istri mendapatkan wahyu atau bisikan Illahi untuk memakai mukenah, bantal dan kasur untuk melindungi diri mereka dari panasnya abu gunung Merapi. Keluarga ini adalah keluarga Bapak Ponimin yang fotonya telah menghias media-media TV dan koran Nasional, sebagai seorang calon pengganti Mbah Maridjan.

Ponimin calon Pemngganti Maridjan

Ponimin calon Jurukunci

Ada sebagian masyarakat menganggap bahwa selamatnya Pak Ponimin sekeluarga dari panasnya abu Gunung Merapi adalah karena suatu mukjizat. Namun dapat pula kejadian ini dijelaskan secara ilmiah, karena abu gunung Merapi yang panas itu setelah menyentuh bumi, atap rumah, batu2an, dan pepohonan, akan mengalirkan panasnya kepada benda-benda itu. Proses ini berlangsung sekitar 15-menit-an, setelah itu secara hukum fisika, abu gunung itu akan turun temperatur-nya ke temperatur udara sekelilingnya kembali, sekitar 25 derajat Celsius atau kurang.

Asalkan atap rumah atau genteng rumah tidak rontok dan jatuh kebawah, maka panas dari abu Merapi itu akan berubah menjadi radiasi yang turun ke bawah. Bila tubuh kita dislimuti oleh mukenah, bantal atau kasur, maka radiasi panas itu tidak akan melukai tubuh kita, sebab radiasi panas itu tertahan oleh bahan2 yang menghambat aliran panas, seperti tersebut diatas.

Jadi kesimpulannya, kita sebenarnya bisa membantu menyelamatkan para penduduk yang tinggal di kaki gunung Merapi itu, dengan meminta mereka untuk membangun bunker dibawah lantai rumah-rumah mereka dengan ukuran 2 meter x 2 meter sedalam 2 meter, dimana dinding-dindingnya dilapisi oleh bahan penghambat radiasi panas, seperti kapas, kain, bantal, kasur atau serat silikon, dll.

Ini sebuah langkah yang tepat, asalkan para penduduk itu tidak tingal lebih dekat dari 3-km dari puncak Gunung Merapi, sebab bila terlalu dekat, maka yang jatuh ke rumah2 mereka bukan “wedus gembel” atau awan panas, melainkan batuan-batuan panas yang dapat menembus genteng dan memecahkannya, kemudian melukai para penghuni rumah itu.

Solusi ini mungkin lebih baik dari pada solusi yang diberikan pada saat ini, dimana semua penduduk yang ada di radius 10-km dari Merapi harus mengungsi untuk jangka waktu yang lama, sekitar 1-bulan, sampai Gunung Merapi benarbenar beristirahat. Ini tentu akan memakan biaya mahal, dan mempersulit kehidupan mereka se-hari-hari, untuk makan, minum, tidur, dan bekerja mencari nafkah.

Dengan solusi membangun bunker-bunker dibawah lantai mereka untuk rumah-rumah diluar radius 3-km, maka mayoritas penduduk masih dapat beraktivitas seperti biasanya, sementara itu mereka sewaktu-waktu juga siap bersembunyi didalam bunker, bila “wedus gembel” tiba menghampiri mereka.

Silahkan ditanggapi dan dicoba dilapangan.

Gempa di Kepulauan Mentawai yang menimbulkan lebih dari 400 orang tewas perlu di carikan solusinya agar hal serupa tidak akan terulang kembali. Sebenarnya masyarakat Kepulauan Mentawai sudah memiliki pengamanan dari Tsunami secara tradisional turun-temurun dari Nenek-moyang mereka, yaitu aturan penyelamatan diri, begitu ada gempa, semuanya lari secepat-cepatnya menuju ke bukit atau tanah tinggi didekat desa atau kampung mereka.

Benteng Tsunami

Benteng Tsunami

Tenyata Sistem Peringatan Dini Tradisionil tersebut diatas itu lebih efektif dari pada menunggu pengumuman dari Sistem Tsunami Early Warning System (EWS) yang khabarnya telah dipasang di Pantai Barat Sumatra dengan bantuan asing yang nilainya beberapa juta Dollar AS. Pengumuman EWS ini disalurkan melalui jaringan komunikasi Telpon dan SMS, yang tentunya akan memakan waktu 10-20 menit paling tidak.

Dalam kasus Tsunami di Kepulauan Mentawai, terutama Pulau Pagai Utara dan Pulau Pagai Selatan, gelombang Tsunami datang begitu cepat, sekitar 15 menit setelah terjadinya gempa. Anehnya, BMKG malah mengumumkan setelah 30-menit kemudian, bahwa gempai itu tidak akan menimbulkan bahaya Tsunami, seperti dapat kita saksikan dari tayangan-tayangan TV-One dan Metro TV. Sepertinya ada yang salah dalam Sistem EWS yang ada saat ini.

Dalam kasus Tsunami di Kepulauan Mentawai ini, waktu 15-menit memang tidak cukup untuk memberikan tanda bahaya ke desa-desa terpencil di Kepulauan Mentawai itu, apapun sistem elektronik yang dibangun.

Oleh karena itu Pemerintah hendaknya men-sosialisasikan Sistem Peringatan Dini Tsunami Tradisional saja seperti yang diwariskan Nenek-moyang Penduduk Kepulauan Mentawai itu, dari pada mencoba mengandalkan EWS made in Luar negeri, yang biaya Investasi dan Pemeliharaannya sangat mahal, namun tidak banyak gunanya.

Untuk lokasi-lokasi yang jauh dari perbukitan, kami menyarankan agar Pemerintah membangun Benteng2 Tsunami dengan ukuran 100 meter x 100 meter dan yang ketingginya 10-meter dan bentuknya segi-4 Ketupat, dimana ujung runcing Ketupat itu menghadap kelaut agar mengurangi tekanan gelombang Tsunami terhadap Benteng itu.

Semoga mendapat sambutan yang positif dari Pemerintah dan Pemda di wilayah-wilayah yang rawan Tsunami di Indonesia.