TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Ajang Indocomtech 2011 terasa lebih kuat mensosialisasikan ICT yang ramah lingkungan dengan diadakannya Green ICT International Conference di Jakarta Convention Center.

Konferensi ini merupakan salah satu program unggulan Indocomtech 2011 yang menghadirkan para pembicara dari dalam dan luar negeri, antara lain Christina Bueti (ITU), Atsuko Agata (JEITA), Nur Faezal Elias (Green ICT Working Group Malaysia), Mark Winter (FFITS), Jean K. Tang (CompTIA), John Simacklis (RIM), Dr. Idris Sulaiman (Australia National University), Prof Dr. Ing Kalamullah Ramli (Depkominfo), Eddy Satriya (Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian), Handoyo Budi Santoso (BP Migas), Sugianto (TAITRA), Dr. Hammam Riza (BPP Teknologi), Dr. Lia G. Partakusuma (RS Fatmawati), Naning Adiwoso (Green Building Council Indonesia), Dr. Eko K. Budiardjo (Pusilkom UI), Reinhardt Winata-Lim (Siemax), Charles Simanjuntak (Hewlett-Packard Indonesia), Haskar Lianus Pasang (AES), David Darmawan (Darmawan Green Fund), serta Hidayat Tjokrodjojo (Aspiluki).

Acara yang dihadiri para praktisi IT, asosiasi, pemerintah, serta mahasiswa tersebut mengupas tentang pentingnya green ICT, green of IT, green by IT, dan green economy. Green of IT sendiri dimaksudkan untuk penggunaan produk-produk ICT yang ramah lingkungan, dimana ukuran dasarnya adalah dilihat dari konsumsi listrik atau bahan bakar. Sedangkan green by ICT merupakan aplikasi ICT untuk menerapkan di bidang lain.

“Salah satu penerapan green ICT untuk industri migas sudah mulai disosialisasikan oleh BP Migas terhadap perusahaan-perusahaan migas di Indonesia,” kata Handoyo Budi Santoso dari BP Migas. Dari kalangan industri pun saat ini berlomba-lomba menghadirkan inovasi produk yang lebih ramah lingkungan, seperti yang diungkapkan Charles Simanjuntak, Commercial Channel Manager Hewlett-Packard Indonesia. HP sendiri dalam ajang Indocomtech 2011 ini menghadirkan produk printer HP Ink Advantage yang diklaim sangat hemat mampu mencetak 600 halaman dengan harga hanya 80 ribu rupiah.

Kalangan asosiasi pun mengamini bahwa green ICT sebaiknya diterapkan lebih konkret di semua lini bisnis, bukan sekadar wacana saja. “Untuk itu, Indonesia perlu mempersiapkan roadmap kebijakan green ICT yang dapat menjadi panduan bagi perusahaan menjalankannya,” jelas Hidayat Tjokrodjojo yang mewakili Asosiasi Piranti Lunak Telematika Indonesia (Aspiluki).

Hal tersebut sejalan dengan misi dari penyelenggaraan konferensi ini untuk membentuk Green ICT Council Indonesia, yang memiliki misi untuk mendidik, memotivasi, dan mengubah profesional IT dan organisasi menjadi praktisi ICT Sustainability. Green ICT Council Indonesia bertujuan agar masyarakat menjadi lebih strategis dan efektif, negara ini lebih ramah lingkungan, dan dampak ekonominya akan menopang profitabilitas.

Prof. Dr. Ing. Ir. Kalamullah Ramli, Staf Ahli Kementerian Komunikasi dan Informasi Bidang Teknologi mengungkapkan bahwa pembentukan Green ICT Council ini merupakan langkah baik untuk mensinergikan peran pemerintah, industri dan asosiasi ICT, serta komunitas maupun akademisi untuk mempersiapkan roadmap green ICT.

Selain konferensi internasional tersebut, berbagai promo dari para exhibitor juga menarik bagi masyarakat untuk mengunjungi Indocomtech 2011. Salah satunya adalah program doorprize yang dibuat penyelenggara, dimana setiap belanja 500 ribu rupiah maupun kelipatannya, pengunjung mendapatkan 1 voucher undian dan berhak memperebutkan hadiah berupa sepeda motor, Blackberry smartphone, Blackberry playbook, sepeda dan lain-lain dengan total nilai hadiah sebesar 100 juta rupiah.

Untuk memberikan kenyamanan pengunjung selama pameran, penyelenggara juga terus meningkatkan pelayanan dan fasilitas, mulai dari foodcourt area, ATM, official shuttle taxi Express, serta free wifi di seluruh hall JCC, dan yang terbaru adalah area khusus untuk parkir sepeda di depan main lobby.

Pada hari kedua Indocomtech, panitia mencatat telah 51.980 orang mengunjungi pameran yang akan berakhir hari Minggu ini. Bambang Setiawan, General Manager Divisi IT Dyandra Promosindo mengatakan bahwa di akhir pekan akan semakin banyak program-program hiburan disajikan oleh exhibitor yang dapat dijadikan sarana hiburan untuk keluarga.

JAKARTA – Telkomsel meluncurkan  Mobile WiFi Seamless untuk meningkatkan akses ke jasa data bagi para pelanggannya.

Mobile WiFi Seamless  merupakan akses mobile yang memungkinkan pelanggan melakukan perpindahan koneksi jaringan 2G/3G (offloading) dengan Wifi secara otomatis  sebagai jaringan seluler tambahan.

“Perpindahan dapat dilakukan tanpa  memasukkan password atau ID. Kita bidik ada dua juta pelanggan di layanan ini,” ungkap Head of Product Marekting Telkomsel  Ririn Windaryani.

Diklaimnya,  kecepatan akses Wifi Seamless ini mencapai  100 Mbps. “Saat ini masih tahap trial, bisa 100 Mbps, secara mudah kecepatan  Seamless mengikuti profile data pelanggan, misalkan menggunakan paket  72 Mbps maka akses kala di WiFi juga setara,” katanya.

Layanan Mobile Wi-Fi Seamless Telkomsel dapat digunakan oleh pelanggan yang memiliki ponsel pintar dengan teknologi Seamless Wi-Fi atau EAP-SIM (Extensible Authentication Protocol-Subscrider Identity Module). Jika di perangkat BlackBerry  minimal pada sistem operasi 5.

Pelanggan dapat menggunakan Wi-Fi ini dengan syarat telah berlangganan paket data Telkomsel Flash dan perangkat yang mendukung teknologi EAP-SIM.

Pelanggan dapat memanfaatkan jaringan hotspot WiFi flashzone-seamless di 6000 titik di seluruh Indonesia di berbagai wilayah area publik. Jaringan tersebut memanfaatkan jaringan hotspot dari Telkom.

Untuk menikmati layanan ini, pelanggan harus melakukan setting pertama kali sebelumnya pada perangkat dengan mengaktifkan WiFi dan memilih Service Set Identifier (SSID) flashzone-seamless. Jika sudah tersetting, pelanggan akan langsung terkoneksi  ke jaringan WiFi tanpa perlu memasukkan password.

Layanan data juga secara otomatis beralih ke jaringan 2G/3G jika sudah tidak mengaktifkan Flash Zone-Seamless.

Telkomsel telah melakukan tiga percobaan layanan ini yaitu layanan Wi Fi untuk pelangan regular, layanan Wi Fi untuk pelanggan corporate, dan layanan Wi Fi untuk SSID.(id)

Sekitar enam tahun lalu marak fenomena pencarian energi alternatif untuk mengatasi kekurangan bahan bakar konvesional seperti minyak dan lain-lain. Salah satu sumber energi alternatif adalah jarak pagar atau jatropha curcas. Jarak ini dikatakan berpotensi besar dan ramah lingkungan. Benarkah demikian?

Menurut Henky Widjaja mahasisa S3 di bidang agriculture beyond food atau pertanian non pangan, dua-duanya tidak benar.

Lebih lanjut ia  menjelaskan, sekitar tahun 2005 ada cetak biru pemerintah Republik Indonesia tentang energi alternatif. “Tanaman-tanaman yang dikembangkan itu adalah ubi kayu, jagung, tebu, kelapa sawit dan tanaman jarak, yang menjadi sumber bahan baku pembuatan bahan bakar nabati. Dan tanaman jarak mendapat dukungan utama,” katanya kepada Radio Nederland.

Alasan yang disebut saat itu adalah bahwa tanaman jarak sangat cocok bagi daerah pinggiran atau marginal. “Daerah marginal, daerah yang tanahnya tandus, itu cocok ditanami tanaman jarak,” katanya menirukan ucapan para pendukung jarak sebagai sumber energi alternatif.

Euforia

Bukan hanya pemerintah Indonesia yang mendukung jarak sebagai sumber alternatif, tapi juga dunia internasional. Dukungan global masa itu menjadi semacam euforia. Malah ada yang menyebut tananam jarak sebagai tanaman proletar atau tanaman untuk rakyat miskin, jelas ilmuwan yang melakukan studinya di Belanda ini.

Pada tahun 2006 pemerintah RI menyediakan dana khusus untuk menggalakkan penelitian potensi tanaman jarak sebagai sumber energi nabati. Dan investasi pun digalakkan, sehingga orang berlomba-lomba untuk terlibat. Namun Henky meragukan motif mereka. Ia menilai mereka ikut-ikutan karena mau meraih subsidi, bukan motif komersial yang murni.

“Motif komersial yang murni tidak ada. Dan lebih digerakkan oleh motif untuk mendapat subsidi,” jelasnya.

Henky menambahkan sebagai contoh, pernah ada investor dari Belanda  yang menawarkan MoU di Indonesia, demi uang, bukan  untuk ditindaklanjuti. “Karena MoU itu sendiri sudah menghasilkan uang,” jelas Hengky.

Produktivitas

Menurut para pendukung, tanaman jarak per hektar bisa menghasilkan sampai sembilan ton per tahun. Namun menurut Henky Widjaja, berdasarkan penelitian, bukan hanya di Indonesia, tapi juga di luar negeri, maksimal hasilnya hanya 400 kg.

Ilmuwan asal Sulawesi Selatan ini juga mengkritik cara pihak-pihak terkait menyebar informasi. Menurut dia, baik aktor internasional maupun aktor lokal melakukan manipulasi dan eksploitasi penduduk lokal. Misalnya warga ditawari bibit unggulan dengan harga mahal, padahal bibit unggulan untuk jarak sampai sekarang sebenarnya tidak ada, tambahnya.

Selain itu jarak yang dikampanyekan juga tidak jelas jenisnya. Para petani mengira jarak pagar yang dimaksudkan adalah jarak yang dulu pernah digalakkan Jepang pada akhir masa penjahanan Jepang dulu.

Menurut Henky tidak jelas apakah jarak yang digalakkan ditanam oleh mantan penjajah Indonesia itu jarak pagar atau jenis lain. “Apakah itu jarak pagar atau jarak kastor,” ia bertanya-tanya.

Tidak ramah lingkungan

Terakhir Henky menilai penanaman jarak pagar tidak ramah lingkungan sama sekali. Untuk memenuhi sepuluh persen kebutuhan konsumsi solar di Indonesia diperlukan berhektar-hektar lahan tanaman jarak.

Ini akan ada akibatnya bagi lahan produktif. Karena supaya produktif, jarak juga harus ditanam di lahan produktif. Selain itu, tambah Henky, para petani di daerah marginal banyak tertipu. Setelah mereka ramai-ramai meninggalkan tradisi menanam ubi kayu untuk menggeluti tanaman jarak, beberapa tahun kemudian, ternyata hasilnya tidak memadai.

Sejak tahun 1997 Dr. Robert Manurung dari Institut Teknologi Bandung (ITB) meneliti ektraksi minyak dari tanaman jarak. Sejak tahun 2004, penelitian ini mendapat dukungan dari Mitsubishi Research Institute (Miri) dan New Energy and Industrial Technology Development Organization (NEDO) dari Jepang.

Menghadapi krisis BBM dan kenaikan harga BBM di Indonesia, Pemerintah mulai menggali sumber-sumber energi alternatif. Minyak jarak ini pun mulai mendapatkan perhatian serius dari Pemerintah.

Peluang pasar minyak jarak ini cukup terbuka dengan munculnya pernyataan Direktur Utama Pertamina yang menyebutkan bahwa Pertamina siap menampung minyak jarak dari masyarakat untuk diproses lebih lanjut sebagai Biodiesel.

Bahkan Jepang yang terikat komitmen Protokol Kyoto bersiap-siap membeli produk energi alternatif dari minyak jarak ini.

Sumber: http://www.irwantoshut.net/info_jarak.html

1. Lepaskanlah Rasa Kuatir & Ketakutan.
Ketakutan & kekuatiran hanyalah imajinasi pikiran akan suatu kejadian di masa depan yg blum tentu terjadi, kebanyakan hal-hal yg Anda kuatirkan & takutkan tak pernah terjadi ! It’s all only in your mind.

2. Buanglah Perasaan Dendam
Dendam & Amarah yg disimpan hanya akan menyedot energi diri Anda & hanya mendatangkan KELELAHAN JIWA, BUANGLAH !!

3. Berhentilah Mengeluh
Mengeluh berarti selalu tak menerima apa yg Ada saat ini, secara tak sadar Anda membawa-bawa beban negatif.

4. Bila Ada Masalah, Selesaikan Satu Persatu
Hanya inilah cara menangani setiap persoalan satu demi satu.

5. Tidurlah dengan Nyenyak
Semua masalah tak perlu dibawa tidur. Hal tersebut buruk & tak sehat, biasakanlah tidur dgn nyaman.

6. Jauhi Urusan Orang Lain
Biarkan masalah orang lain menjadi urusan mereka sendiri. Mereka memiliki cara sendiri u/ menangani setiap masalahnya.

7. Hiduplah Pada Saat ini, Bukan Masa Lalu
Nikmati masa lalu sebagai kenangan, Jangan tergantung padanya.
Konsentrasilah hidupmu pada kejadian saat ini, karena apa yg Anda miliki adalah saat ini, bukan kemarin, bukan besok. “Be totally present”

8. Jadilah Pendengar Yg Baik
Saat menjadi pendengar, Anda belajar & mendapatkan ide-ide baru berbeda dari org lain.

9. Berpikirlah Positif
Rasa frustasi datang dari pikiran negatif. Kembalilah berpikir positif.
Bertemanlah dgn orang2x yg berpikiran positif & terlibatlah dgn kegiatan2x positif.

10. Bersyukurlah
Bersyukurlah atas hal-hal kecil yg akan membawa Anda pada hal-hal besar.
Sekecil apapun karunia yg Anda terima, akan menghasilkan hal-hal besar & selalu membawa Anda kepada Kebahagiaan saat Anda bersyukur.

MRT atau Mass Rapid Transit adalah kereta listrik super-cepat yang sudah banyak di bangun dikota-kota besar Eropa, Amerika Serikat, dan Asia Timur, yaitu Jepang, Korea, Hong Kong dan Singapura. Tersedianya MRT ini sangat membantu masyarakat di kota-kota besar dalam mengurangi kemacetan lalulintas kendaraan bermotor, sehingga perjalan dari rumah ke kantor atau sebaliknya bisa ditempuh dalam waktu tidak lebih dari 30-menit.

Ini merupakan solusi kemacetan lalulintas di kota-kota besar modern seperti Jakarta, Surabaya dan Bandung, terutama pada hari-hari kerja. Dengan demikian perjalanan dapat ditempuh dalam waktu singkat, sehingga produktivitas kerja masyarakat bisa ditingkatkan.

Berikut ini adalah contoh kenyamanan menaiki MRT di Hong Kong:

YOGYAKARTA–Universitas Gadjah Mada Yogyakarta mengembangkan teknologi pengelolaan limbah buah menjadi biogas yang dapat digunakan untuk membangkitkan tenaga listrik. “Instalasi biogas itu dibangun di Pasar Buah Gemah Ripah Gamping, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY),” kata Koordinator Program Waste Refinary Universitas Gadjah Mada (UGM) Siti Syamsiah di Yogyakarta, Rabu.

Menurut dia, instalasi yang telah ada itu dapat digunakan untuk mengolah limbah di Pasar Buah Gemah Ripah berupa buah-buahan busuk untuk dijadikan biogas yang bisa dimanfaatkan sebagai bahan bakar untuk menghidupkan listrik. “Pasar Buah Gemah Ripah setiap hari menghasilkan empat ton limbah buah busuk. Limbah buah yang ada selama ini tidak pernah dimanfaatkan dan langsung dibuang ke tempat pembuangan akhir,” katanya.

Ia mengatakan, melalui instalasi biogas itu, empat ton sampah buah yang dihasilkan setiap hari di pasar tersebut dikonversi menjadi biogas sebanyak 333 newton kubik meter per hari. “Biogas yang dihasilkan telah dipakai sebagai bahan bakar untuk menggerakkan generator listrik. Listrik yang dihasilkan mampu mensuplai sebagian besar kebutuhan listrik di kawasan Pasar Buah Gemah Ripah” katanya.

Menurut dia, daya listrik yang dibangkitkan sebesar 548 kwh per hari itu bisa memenuhi kebutuhan listrik sekitar 500 kepala keluarga. “Saat ini telah dibangun dua unit digester (alat untuk memfermentasi sampah buah menjadi biogas) yang dalam satu pekan mampu menghidupkan listrik untuk penerangan sebagian besar kios-kios di pasar buah tersebut” katanya.

Selain itu, juga mampu menerangi jalan-jalan di sekitar kawasan pasar. Biodigester dibangun di bawah permukaan tanah dengan diameter delapan meter dan tinggi delapan meter. Ia mengatakan, pengembangan teknologi pengolahan sampah menjadi biogas itu bekerja sama dengan pemerintah Swedia yang memberikan bantuan sebesar Rp1,6 miliar untuk pembangunan konstruksi biogas dan penelitian.

“Untuk penyediaan genset dan jaringan listrik difasilitasi Pemerintah Kabupaten Sleman dan UGM mendukung melalui sejumlah penelitian mengenai pembuatan biogas dari sampah buah,” katanya.

Menurut dia, teknologi yang dikembangkan mengadopsi teknologi pengelolaan sampah yang telah dilakukan di Swedia. Namun demikian, pemanfaatan teknologi tetap menyesuaikan kondisi lokal di Indonesia. “Teknologi pengelolaan sampah menjadi biogas itu ditransfer dari Swedia, salah satu negara yang sudah menerapkan teknologi tersebut,” katanya.

(sumber: Antara News)

Larry Page and Eric Schmidt

Pendiri Google Larry Page yang berusia 38-tahun akhirnya mengambil alih pucuk pimpinan Google dari CEO lama Eric Schmidt yang berusia 55-tahun yang menjabat selama 6-tahun dan berhasil menaikkan nilai perusahaan dari US$ 27 milyar pada tahun 2004 menjadi US$55 milyar pada tahun 2010. Eric Schmidt tahun 2004 dipilih sebagai CEO karena ke-seniorannya dan pengalamannya sebagai pemimpin perusahaan, sebab waktu itu para pendiri Google, Larry Page dan Sergei Brin masih relatif muda, berusia 31-32 tahunan, maka diperlukan seorang pemimpin yang sudah dewasa.

Walaupun Google akhirnya maju pesat sampai menjadi raksasa dalam dunia mesin pencari informasi, namun dengan pesatnya kemajuan Facebook, Google terlihat menjadi perusahaan yangmban dalam bergerak dan menciptakan inovasi-inovasi baru. Walaupun Google berhasil dalam mengembangkan layanan ponsel (Android) dan display advertising, namun ia kurang berhasil dalam layanan Google TV dan layanan social networking.

Kalangan intern Google khawatir bahwa Google akan bernasib sama seperti Microsoft, yang dahulunya adalah perusahaan teknologi yang termaju di dunia, namun sekarang pamornya sudah menurun karena tersaingi oleh banyak perusahaan lainnya. Dengan jumlah karyawan sebanyak 24.000 orang, Google saat ini bukan lagi tempat mencari kerja yang terbaik bagi para insinyur-insinyur muda, sebab banyak perusahaan Start-up yang lebih menarik dari padanya.

Komposisi Pimpinan Google sebelumnya adalah Eric Schmidt sebagai CEO, Larry Page sebagai President of Products dan Sergei Brin sebagai President of Technology. Dalam komposisi Pimpinan Google yang baru, Eric Schmidt sebagai Komisaris Utama, Larry Page sebagai CEO dan Sergei Brin sebagai President of Products and Technology. Mereka berharap bahwa dengan pergantian pucuk Pimpinan Google ini, Google dapat kembalo menjadi perusahaan yang agile, mampu menciptakan inovasi-inovasi baru, dan menjadi tempat terbaik bagi para insinyur muda yang memulai kerja mereka. Mereka berharap bahwa Google akan mampu menyaingi para bintang baru dunia Internet dan Social Networking, yaitu Facebook dan Twitter.

Apakah dengan pergantian pucuk pimpinan Google ini, maka Google akan lebih berhasil dari sebelumnya? Mari kita tunggu hasilnya dalam waktu 1-2 tahun mendatang.

Sumber berita: The New York Times:

SAN FRANCISCO — Google made the biggest managementshake-up in a decade on Thursday, handing the reins of the company to one of its co-founders in an effort to rediscover its start-up roots.

As it has grown into the dominant company in Silicon Valley, Google has lost some of its entrepreneurial culture and become a slower-moving bureaucracy, analysts and insiders say, in contrast to FacebookTwitter and other younger, more agile competitors.

To counter this, the company announced that Larry Page, its 38-year-old co-founder, would take over as chief executive from Eric E. Schmidt, a technology industry veteran who was brought in a decade ago to provide adult supervision, as Silicon Valley calls it.

Mr. Schmidt, 55, will remain executive chairman of the company, which had a market value of $200 billion at the close of trading on Thursday, up from $27 billion when it went public in 2004.

“One of the primary goals I have is to get Google to be a big company that has the nimbleness and soul and passion and speed of a start-up,” said Mr. Page in a telephone interview on Thursday. He will start his new role in April.

The shake-up comes at a time of major upheaval in Silicon Valley. The company, and the search industry, face challenges on several fronts.

Google remains immensely powerful and successful — as demonstrated by the stellar quarterly financial results it reported Thursday.

But the sudden rise of Facebook has exposed Google’s failures in areas like social networking and threatens its vast share of the online advertising market. Meanwhile, although Google has had success in new areas like mobile and display advertising, it has struggled to branch out into other businesses like television.

The unspoken fear within Google is that it could become like Microsoft, a once-dominant technology company that seems past its prime and perceived as stodgier, despite successes like XBox and Kinect. Indeed, for all its financial success, Google, which has 24,400 employees, is no longer considered by many top engineers as the most desirable place to work in the Valley; a new generation of start-ups has taken that place.

And in recent years, Google has lost scores of engineers and a string of high-profile senior executives, including Sheryl Sandberg, now chief operating officer at Facebook, andTim Armstrong, now chief executive of AOL.

Mr. Page led the company in its early days but relinquished that role in 2001, when it was still private. In tapping him to return to the post, Google becomes one of the few major companies in the Valley to be put under the control of a founder after being run for so long by a professional manager. To some, the move signaled a kind of coming-of-age for Mr. Page and Mr. Brin, who were in their late 20s when Mr. Schmidt took over. Even Mr. Schmidt characterized it as a moment for the training wheels to come off.

On his Twitter account, Mr. Schmidt wrote: “Day-to-day adult supervision is no longer needed.” Later, on a conference call with analysts after Thursday’s earnings report, he said, “I believe Larry is ready,” adding, “It’s time for him to have a shot at running this.”

The management move ends an unusual experiment in which Google, the world’s largest Internet company, was run jointly by a troika of Mr. Schmidt; Mr. Page, who was president of products; and Sergey Brin, 37, the company’s other co-founder and its president of technology.

In the interview, Mr. Page also explained the move as an effort to streamline, saying the three had selected him as the top decision-maker because of “the pace of decision-making and the scale of the company.” Mr. Brin, who joined Mr. Page and Mr. Schmidt in the interview, said the three-way process confused employees.

“We wanted to make it clear to all the executives and the managers who report to us where they should send an e-mail,” he said.

Mr. Page and Mr. Schmidt said the decision was mutual. “I don’t think there’s another person in the universe that could have done as good a job as Eric has done in the company,” Mr. Page said.

The relationship between the founders and Mr. Schmidt was rocky during its early years, as the founders frequently undercut Mr. Schmidt’s decisions. Although they worked well together for the last several years, there remained recurring strains.

Ken Auletta, the author of “Googled: The End of the World As We Know It,” said in an interview that while Mr. Schmidt may simply have been ready for a change after 10 years, he may have received some encouragement to step aside.

“I don’t think he was pushed aside, but he may have been nudged,” he said.

Under Mr. Schmidt’s helm, Google has prospered, but over the years, it has become less attractive to some engineers, who say it has become harder to develop new ideas while working there. The problem is one that all big companies face, but it is more pressing in Silicon Valley, where the most talented engineers tend to have the strongest entrepreneurial drive. Google has tried to retain dissatisfied employees with perks like giving them time to work on new projects. But some insiders say those incentives have lost effectiveness.

The news of the change rocked Silicon Valley, with analysts and company insiders offering varying theories. Some said Mr. Schmidt was tired of the day-to-day hassles of management. Mr. Schmidt said in the interview, “I would tell you, frankly, a decade is a long time to be a C.E.O., and Larry will discover this.”

Others say Mr. Page always planned to re-assert his authority at some point.

“Larry has wanted to be C.E.O., so that’s not a surprise,” said a former Google sales executive who would speak only anonymously to preserve his relationship with a powerful company. “But the timing — I’ve talked to people at Google today and they were just flabbergasted.”

Esther Dyson, a veteran Valley investor who has long known the Google founders and Mr. Schmidt, said, “It is unexpected but it makes a lot of sense.” She added: “Larry and Sergey have grown up. They want to run their own company.”

After the management change, Mr. Brin will concentrate on several new products, which he declined to name, while Mr. Schmidt will focus on external business partnerships and government outreach, including fighting regulators’ concerns about Google’s growing power.

Mr. Page and Mr. Brin co-founded Google when they were graduate students in computer science at Stanford in 1998.

Mr. Page is aloof, cerebral, intensely private and occasionally brusque. While Mr. Brin is more gregarious, the two didn’t trust outside investors and sought to keep control of the company.

The co-founders and Mr. Schmidt all have controlling stakes in the company. Forbes magazine recently estimated that Mr. Page and Mr. Brin had a net worth of $15 billion each, and Mr. Schmidt, $5.5 billion.

The former executive said the change might be a welcome one if it helps launch products more quickly. “In that respect, getting one of the co-founders in place might be just the energy charge folks need.”