Macet berjam-jam seperti menjadi siksaan rutin pengguna jalan di Ibukota Jakarta. Namun bagi mereka yang berkantong tebal, siksaan itu bisa berganti kenikmatan terbang dengan Taksi Udara. Peminat taksi udara berupa helicopter itu terus bertambah meski tariff angkutnya jutaan rupiah, begitu tulis Novita Amelilawaty, wartawan Jawa Pos pada hari Sabtu, 22 Desember 2007.
Saat ini baru ada satu buah perusahaan Taksi Udara jarak pendek yang ada di Indonesia, yang dimiliki oleh PT Air Pacific yang mulai tahun 1996 membuka layanan taksi udara ini untuk umum. Untuk sistem sewa transportasi udara jarak jauh, sudah ada Pelita Air Service, anak perusahaan Pertamina, memakai pesawat berpenumpang 35 orang atau lebih. Sedangkan Taksi Udara Air Pacifik ini khusus menggunakan Helkopter Bell 407 yang hanya mampu memuat 4-5 orang saja. Oleh karena itu sewa charteran per-jam-nya adalah US$1,400.00 atau Rp 13,6 juta (Tigabelas juta enamratus ribu rupiah saja!).
Memang bagi para Eksekutif Perusahaan Konglomerat seperti Lippo Group, Salim Group, Bakrie Group, dan lainnnya, mengeluarkan biaya transport sebesar Rp 13,6 juta per jam tidak ada artinya bagi mereka, sebab Output dari Meeting yang mereka hadiri yang nilainya bisa Milyar atau Trilyun Rupiah, baik secara langsung atau berupa sebuah Upportunity Bisnis masa depan. Jadi singkat kata, bagi mereka pengeluaran uang sebesar Rp 13,6 juta itu adalah “WELL JUSTIFIED”. Sehingga menurut laporan wartawan Jawa Pos tersebut diatas, terdapat antrean panjang untuk layanan Taksi Udara PT Air Pacific yang melayani rute-rute:
- Karawaci – Hotel Aryaduta pp
- Karawaci – Hotel Grand Hyatt pp
- Karawaci – Hotel Mulia pp
- Karawaci – Karawaci – Citra Graha pp
- Karawaci – Bukit Sentul pp
- Karawaci – Kemang Village pp
- Rute-rute ke Bandara Sukarno Hatta dan Halim Perdanakusuma
Namun bagaimanakah pertimbangannya kalau uang sewa sebesar Rp 13,6 juta per jam dikeluarkan untuk biaya transport para Pejabat Pemerintahan, para Birokrat, Karyawan atau Eksekutif perusahaan ikan teri seperti kita-kita ini? Tentu jawabannya adalah “TOTALLY NOT JUSTIFIED”.
Sehingga solusi terbaik, paling cost-effective dan paling cepat dilaksanakannya adalah dengan menerapkan Budaya Kerja Baru, yaitu Telecommuting, atau e-Work atau Home Working, sebagaimana kami uraikan dalam posting pada beberapa Milis beberapa waktu yang lalu. Solusi ini dapat secara langsung menghindari terjebak dalam kemacetan lalulintas, menghemat waktu dan biaya transportasi, meningkatkan produktivitas pejabat/birokrat/eksekutif/karyawan yang melaksanakan budaya kerja baru ini. Rincian penjelasannya dapat bapak/ibu simak melalui link dibawah ini
Variant dari solusi Telecommuting ini adalah dengan selalu membawa Laptop yang dilengkapi dengan DC-to-AC Converter (150 Watt seharga Rp 150.000,-) dan Modem 3.5G dari Indosat-m2, XL, Telkomsel atau Three (sewa perbulan untuk data 1,2 Giga Bytes sebesar Rp 350.000,- atau kurang). Ini biasa dilakukan oleh Ms. Jessica Quantero, Direktur Kemang Village. Saat kita bepergian di Jakarta untuk urusan bisnis dan terjebak kemacetan, maka tidak masalah, kita tetap dapat menyelesaikan pekerjaan kita dengan Laptop, ber-email, ber-Chatting via YM, atau Google Chat, ber-Audioconferencing pakai Skype atau sejenisnya, atau ber-Videoconferencing bila sinyal 3.5G-nya cukup kuat untuk mendukung transmisi HSDPA atau UMTS/EDGE.
Kami saat ini juga sedang melakukan Telecommuting dalam perjalanan saya dari Jember ke Surabaya, menulis artikel ini, serta mengirim ke Milis ini dan Blog saya di:
Dengan terlebih dahulu memohon maaf kepada Bapak Eddy Satriya, Asisten Deputi 5/V Menteri Koordinator Perekonomian, kami ingin menanggapi usul beliau untuk memindahkan Kantor2 Pemerintahan Pusat ke beberapa kota di Indonesia untuk menghindari kemacetan lalulintas di Jakarta. Tanggapan kami: usul pak Eddy Satriya kurang praktis, sangat mahal, memakan waktu yang lama, dan bisa menimbulkan masalah kordinasi antar Departemen-departemen Pemerintahan Pusat. Beliau belum mempertimbangkan permasalahan2 yang akan timbul sbb:
- Memindahkan Pejabat/Staff/karyawan Pemerintahan Pusat ke kota2 lain di Indonesia akan membutuhkan pemindahan rumah y.b.s., membeli rumah baru atau menyewa rumah baru, memindahkan sekolah/kuliah anak2 mereka, perlu ongkos pindah kota, pindah sekolah/kuliah, perlu waktu penyesuaian, ganti KTP, nomor mobil, dsb. Untuk sekitar 1-juta pegawai Pemerintahan Pusat yang dipindahkan ke kota-kota diluar Jakarta, dengan asumsi rata2 biaya pemindahan Rp 10 juta/karyawan, maka perlu dana pemindahan karyawan sebesar Rp 10 Trilyun
- Untuk menghadiri pertemuan2 Koordinasi Pemerintahan Pusat yang sewaktu-waktu diperlukan, perlu biaya perjalanan jauh yang memakan biaya besar.
- Untuk integrasi jaringan data Pemerintahan Pusat, diperlukan jaringan Data Nasional yang berbiaya sewa besar perbulannya, karena perlu Bandwith transmisi data yang besar.
Usul Bapak Eddy Satriya ini dapat dilihat pada Blog beliau:
http://eddysatriya.blogspot.com/2007/11/memindahkan-ibukota-membangun-indonesia.html
Tulisan kami ini kami maksudkan sebagai pemanasan untuk:
“Diskusi Akhir Tahun Telematika Indonesia” yang akan diselenggarakan pada hari Kamis, 27 Desember 2007, di Ruang Graha Sawala, Gedung Utama Lantai 1, Departemen Keuangan R.I., Jalan Lapangan Banteng Timur No 2-4, Jakarta, 10710.
Silahkan ditanggapi, disanggah, ataupun didukung, sehingga bisa mempercepat solusi penanggulangan masalah kemacetan lalulintas di kota-kota besar.
Bila mungkin, target penerapan Budaya Telecommuting, atau e-Work atau Home working ini adalah saat Fajar menyingsing diufuk timur pada tanggal 1 Januari 2008, dimulai dengan Perintah atau Himbauan dari Presdien R.I. Susilo Bambang Yudhoyono kepada:
- Para Pimpinan Departemen Pemerintahan, Lembaga dan Institusi Pemerintah
- Para Pimpinan Universitas
- Para Eksekutif Perusahaan BUMN, Swasta, Koperasi dan UKM
- Masyarakat Umum
Semoga upaya ini dapat membawa kemajuan yang pesat bagi bangsa Indonesia.













December 24, 2007 at 8:20 am |
[...] Read the rest of this great post here [...]
December 26, 2007 at 5:02 am |
Komentar dari Bapak Didy Ariady (email: didy_tanbu@yahoo.com )
yth pak sumitro Roestam
saya salut dg informasi bapak karena walau kami dari kalsel tepatnya kabupaten tanah bumbu hampir akhir-akhir ini hampir tiap minggu kami ke jkt karena tgs-tgs tertentu dengan pimpinan, tetapi cuman barang satu or dua hari saja stay di jkt.
Memang kemacetan perlu solusi bapk ketibang naik helikopter 13,6 jt sekali trayek…mahal sekali..
tapi saya sempat berpikir juga memindahkan sebagian pusat-pusat perkantoran pemerintah pusat ke daerah…selain mengurangi arus padat ke jakrata juga menumbuhkan perekomian daerah baru di luar jakarta..kalau mau lebih ekstrim sebagian ke kalimantan dan sulawesi lah…ya cuma sekedar usul malaysia dengan kota putra jaya misalnya…
makasih
didy ariady
pemkab tanah bumbu, kalsel
alumni tot egov kominfo-JICA angk II tahun 2005 MMTC Yogyakarta
sobat mas ibenk cs
December 26, 2007 at 3:36 pm |
Irwin Day berkata melalui telematika@yahoogroups.com:
Pak Mitro,
Memang benar bahwa harga koneksi internet saat ini sudah mencapai
100ribu/bln/384kbps, namun perlu diingat jangan sampai memberi
informasi yang benar namun tidak memperhitungkan informasi lainnya.
Untuk bekerja secara remote, paling tidak kita membutuhkan beberapa
hal:
1. Koneksi Telepon.
2. Koneksi Internet.
3. Fax.
4. Komputer.
Suka tidak suka, semuanya adalah satu bagian yang tidak terpisahkan
dalam kehidupan berkantor kita sehari-hari. Internet murah saja
tidak cukup, apalagi bicara internet murah yang merata. Saya
termasuk yang beruntung karena bisa menikmati akses internet yang
murah (dan cepat) dari fastnet. Tapi tetap saja saya tidak bisa
bekerja remote karena rekan-rekan kantor saya yang lain ternyata
tidak memiliki keberuntungan tersebut. Saya sebut beruntung karena
jumlah yang memiliki akses ke internet dengan lebar data 786kbps dan
cukup bagus untuk ber VoIP maupun bekerja dengan file-file berukuran
besar itu jumlahnya hanya segilintir, itupun hanya di Jakarta.
Diluar itu, biaya komunikasi masih tetap terhitung mahal, alih-alih
bekerja remote nanti kalau biaya telepon dan hp malah nggak ketutup.
Kalau mau memurahkan internet saya setuju sekali, tapi jangan lupa
kalau internet itu baru satu bagian. Kita masih perlu komputer yang
murah dan bagus (bukan jamannya lagi murah tapi jelek), biaya telepon
dan hp yang murah dan bagus juga.
Soal ibukota negara kita, sulit dipindahkan tapi ada satu langkah
yang bisa ditempuh adalah mulai merelokasi Kementrian yang sebenarnya
tidak pantas berada di Jakarta, sebagai contoh: Kementrian yang
mengurusi Kehutanan. mustinya di Kalimantan, Papua atau Sumatera.
Karena disana yang paling banyak hutannya. kalo diJakarta kan cuma
hutan beton. Kementrian Pendidikan apa tidak sebaiknya di Jogja atau
di Bandung saja? Kan kedua kota itu yang terkenal dengan kota
pendidikan. Kalau Kementrian yang ngurus pertambangan juga
sebaiknya di Kalimantan saja. dst.
Salam,
ID
December 26, 2007 at 3:38 pm |
Pak Irwin dan Kawan2 Yth,
Wah, wah, baru pemanasan untuk Diskusi Akhir Tahun Telematika 2007
besok pagi, suasana sudah mulai hangat! Tetapi saya ingin mengucapkan
terimakasih kepada kawan saya pak Irwin Day, Ketua Umum AWARI (Asosiasi
Warnet Indonesia), yang telah membuat saya berpikir keras untuk
menjawab sanggahan tersebut, sbb:
1. Kita semua saat ini sudah memasuki Era Web 2.0, jaringan Social
Networking menggunakan sistem komunikasi interaktif antar individu yang
efektif, efisien dan cepat, yang menggantikan Era lama Web 1.0, yang
lebih bersifat statis dan kurang dinamis, serta berbiaya mahal.
Pak Irwin masih memikirkan penggunaan layanan jasa telekomunikasi
lama, yaitu Telpon PSTN dan Facsimile yang jelas berbiaya mahal, karena
masih menggunakan sistem Circuit Switching. Sedangkan sistem yang baru
semuanya berbasis IP (Internet Protocol) dan Packet Switching.
Jadi bila kita sudah tersambung ke jaringan berbasis IP (Internet),
maka Voice Call (VoIP) (Pengganti Telpon PSTN) dan File Transfer
(Pengganti Fax) menjadi sangat murah (gratis), cepat, efektif dan
efisien.
Jadi kesimpulannya, kalau kita sudah menerapkan Telecommuting berbasis
IP, maka tinggalkan saja layanan mahal Telpon PSTN dan Facsimile, dan
gantikan dengan Voice Call (VoIP) dan File Transfer yang murah atau
gratis!
2. Untuk koneksi Komputer dan Internet, kalau mau murah tetapi efektif
dan efisien, kita dapat memakai Broadband Wireless connction yang
berbiaya bulanan murah (dibawah Rp 100.000,- per bulan), seperti
layanan broadband First Media dan XL. Kalau mau lebih murah lagi, dan
hanya untuk Voice Call, Video Call, browsing ringan dan baca e-mail,
bisa pakai HP 3G Samsung SGH-Z170, dengan kapasitas Flash Disk 500
Mbytes, harganya sekitar Rp 1,5 juta. E-Mail dan Browsing sekitar 10
menit hanya kena biaya Rp 2000,-. Ini bisa anda bandingkan dengan
ongkos bolak-balik ke Kantor minimal Rp25.000,- per hari, plus
kehilangan waktu kerja 3 jam sehari, plus stress karena jalan macet
tiap hari! Perangkat HP Samsung tsb sudah dilengkapi dengan Camera
untuk Video Call, jadi kalau mau tatap muka dengan Boss anda, cukup
hidupkan sistem Video Call ini.
3. Kalau mau Komputer murah dan canggih, bisa pakai Laptop merek XO
yang dijual bulan Desember 2007 ini di Mal-mal USA laris-manis. Harga
asalnya US$200,- Juga bisa dipakai Laptop OLPC (One Laptop Per Child)
kreasi Prof.Negroponte, harganya sekitar US$150,- Rinciannya silahkan
anda lihat via Link dibawah ini:
http://sroestam.wordpress.com/2007/11/28/quo-vadis-flagship-detiknas-
11-cheap-pc/
PC-PC tersebut sudah dilengkapi dengan Video Camera, sehingga bisa
dipakai untuk Video Call atau Video Teleconferencing.
4. Dengan menggunakan HP 3G Samsung SGH-Z170, kita sudah bisa
melakukan Telecommuting berbiaya murah. Bandingkan bila kita harus
pakai Desktop PC, yang membutuhkan daya listrik minimal 500 Watt. Kalau
pakai HP 3G, konsumsi listriknya hanya dalam hitungan Mili-Watt!.
Kalau saja ada 1-juta karyawan yang pakai HP Samsung 3G untu ber-
Telecommuting, maka akan dihemat biaya daya listrik sebesar 500 Mega
Watt, cukup untuk memberi supply listrik sebuah Kota Besar!
5. Soal usul anda untuk memindahkan Dept. Kehutanan ke hutan di
Kalimantan, saya sih setuju-setuju saja, tetapi ini adalah tahap
berikutnya, setelah Presiden R.I. SBY mencanangkan Telecommuting atau e-
Work bagi Pemerintah, BUMN, Swasta, Koperasi dan UKM pada tanggal 1
Januari 2008 (asumsi-nya, hasil “Diskusi Akhir Tahun Telematika 2007:”
menyepakati hal ini).
Terimakasih atas perhatian anda. Semoga jawaban ini memuaskan
semuanya,
Wassalam,
December 26, 2007 at 6:15 pm |
yth pak Sumitro Roestam,
Saya sendiri sebenarnya tertarik untuk menjadi salah satu teleworker. Namun di Indonesia sekarang ini masih belum banyak perusahaan yang mengijinkan karyawannya untuk bekerja dari rumah/remote, dan saya salah satu ‘korban’nya. Kebanyakan perusahaan, bahkan yang bergerak dibidang IT, juga mempunyai peraturan untuk bekerja dikantor.
Benar kata bapak, bahwa untuk bertransportasi diwilayah jakarta sudah tidak efisien lagi baik dari segi biaya maupun waktu dan tenaga. Namun, dengan kondisi seperti sekarang ini, maka untuk menjadi seorang tele-worker maka saya harus juga menjadi seorang entrepreneur.
Mungkin bapak punya solusi untuk saya ?
Terima Kasih
December 26, 2007 at 9:40 pm |
Pak Indrio dan Kawan2 Yth,
Di banyak negara maju maupun negara berkembang seperti India, Tele-working telah banyak diterapkan dengan memanfaatkan kecanggihan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) untuk berbagai jenis pekerjaan, seperti Operator Call Centers, Financial Analysts, Software Designers dan Developers, Web Master dan Administrators, Konsultan berbagai bidang, Staff Planning dan Budgeting, Graphic Designers, Staff Ahli, maupun Karyawan2 khusus yang tidak memerlukan kehadiran di Kantor tiap hari, dll.
Saya sependapat dengan anda, bahwa banyak Teleworkers adalah juga Enterpreneurs UKM, seperti Web Master dan Administrator, Content Provider, Pengelola Situs atau Portal Khusus, seperti Situs yang fokus terhadap masalah2 Marketing (www.lonelymarketer.com), Konsultasi Pekerjaan (www.jobDB.com), dan lain-lain lagi.
Kalau boleh tahu, apakah keahlian atau profesi anda, agar saya bisa mencarikan jenis kerja Telework yang tepat untuk anda.
Terimakasih atas tanggapan dan saran-saran anda.
Wassalam,
Sumitro Roestam
December 26, 2007 at 9:55 pm |
Pak Irwin (Ketua AWARI), pak Rudy (Ketua APWKomitel) dan kawan2 Warnetters Yth,
Saya ingin menambahkan bahwa di Era Telecommuting atau Teleworking, maka bisnis Warnet juga akan berkembang pesat, sebab bila jutaan karyawan Indonesia melakukan Telecommting atau Teleworking, untuk efisiensi dalam membaca/mengirim e-mail, melakukan Voice Call atau Video Call atau Video Conferencing, kirim/terima file besar (pengganti fax), download file-file besar, dll, maka lebih baik, murah, efektif dan efisien kalau mereka pergi ke Warnet terdekat.
Biaya sewa-nya per jam hanya sekitar Rp 4000-5000 saja.
Semoga usul penerapan Telecommuting, Teleworking atau Home Working ini mendapat dukungan asosiasi-asosiasi Pengusaha Warnet Indonesia.
Terimakasih atas perhatiannya.
Wassalam,
Sumitro Roestam
December 27, 2007 at 9:03 pm |
Pak Onno, dik Si Nung dan Kawan2 Yth,
Saya setuju usul dik Si Nung agar para Operator membuat layanan Flat-
Rate Data/Internet sbb:
a). Kecepatan GPRS (56 kbit/sec) seharga Rp 100.000,- per bulan Flat
Rate
b). Kecepatan EDGE (384 kbit/sec) seharga Rp 200.000,- per bulan Flat
Rate
c). Kecepatan UMTS/3G (2 Mbit/sec ) seharga Rp 300.000,- per bulan
Flat Rate
d). Kecepatan 3.5G/HSDPA (3,6 Mbit/sec) seharga Rp 350.000,- per bulan
Flat Rate
Saya tembuskan kepada para Dirut Perusahaan Telekomunikasi dan ISP
agar segera ada action.
Mudah2an dengan tarif Flat Rate Data/Internet ini yang relatif murah,
maka pengguna Internet di Indonesia akan meningkat tajam, para Operator
mendapat Profit yang makin tinggi, dan perekonomian dan bisnis makin
lancar dan berkembang, kesejahteraan masyarakat makin membaik.
Digabung dengan Keputusan Presiden RI SBY yang memerintahkan
(menghimabu?) agar semua Departemen Pemerintahan, Lembaga/Institusi,
Pimpinan Universitas, Pimpinan BUMN/Swasta, Koperasi dan UKM untuk
menerapkan Telecommutin atau Tele-working bagi Pejabat, Eksekutif,
Staff dan karyawan yg memungkinkan berdasarkan jenis pekerjaannya mulai 1
Januari 2008, maka ada banyak keuntungannya:
- Bisnis berlancar, cepat, efektif dan efisien
- Jalan2 menjadi sepi, tidak lagi macet tiap hari
- Pengguna jalan tidak lagi stress
- Penghematan besar-besaran dalam biaya transportasi, bensin, dsb
- Penghematan dala waktu kerja (tidak lagi harus macet di jalan)
- dll
Semoga bermanfaat.
Wassalam,
Sumitro Roestam
————————
—-Original Message—-
From: caksinung@gmail.com
Date: 27/12/2007 7:13
To:
Subj: Re: [Telematika] Re: Pemanasan Diskusi ICT Akhir Tahun: Solusi
Kemacetan LL: Pakai Taksi Udara atau Telecommuting?
On 27 Dec 2007 at 6:09, onno@indo.net.id wrote:
> >> 3 tahun lalu di Bisnis Indonesia saya pernah utarakan
) ..
> >> misalnya agar>> biaya Internet bisa flat Rp 150-200 k per bulan,
tapi
> >> kelihatannya>> banyak yang protes tidak mungkin. Lalu siapa dan
untuk
> apa
> >> orang->> orang di daerah dan desa harus menggunakan Internet,
kalau
> >> biaya nya>> diluar kemampuan mereka.
> >
> > Yang bilang “tidak mungkin” cuman tidak tahu aja.
> > Kalau tanya pada “bakul”-nya, langsung ditawarin akses internet.
> > Hehehe….
> >
> Betul OM Adi
> kayanya masalahnya bukan di Murah-nya
> kayanya masalahnya di Niat-nya …
>
ikut nimbrung pak
sudah waktunya operator membangunkan “telepon_tidur”,
dengan menyediakan tarif unlimited_data berkecepatan (cukup) 56kbps
seharga flat Rp 150-200 k per bulan,
berikutnya,
pola isp-xl atau isp-speedy akan dapat diberlakukan pula di sini
> – Onno @ Pekanbaru via XL 3G
sinung
December 28, 2007 at 12:34 am |
Pak Indrio menulis di Blog-nya:
Terinspirasi dari tulisan pak Roestam mengenai Telecommuting / Home Working saya jadi iseng – iseng ingin hitung biaya yang sudah saya hemat selama saya bekerja secara remote dirumah. Sebelumnya saya perlu untuk menjelaskan terlebih dahulu bahwa sekarang ini saya sudah menerapkan metode yang pak Roestam usulkan diartikelnya tersebut setelah sebelumnya saya bekerja dikantor seperti pada umumnya orang lain.
Biaya bekerja dikantor dengan angkutan umum ( per bulan)
Ongkos angkutan umum :
Rp. 20.000 x 25 hari = Rp. 500.000
Biaya makan :
Rp. 10.000 x 25 hari = Rp. 250.000
Waktu perjalanan :
Rp. (30.000 x 4 jam) x 25 = Rp. 3.000.000
Total pengeluaran per bulan : (500.000+250.000+3.000.000) = Rp. 3.750.000
Biaya bekerja dikantor dengan mobil ( per bulan)
Biaya Bensin :
Rp. (4.500 x 20 liter) x 25 hari = Rp. 2.250.000
Biaya makan :
Rp. 10.000 x 25 hari = Rp. 250.000
Waktu perjalanan :
Rp. (30.000 x 3 jam) x 25 = Rp. 2.250.000
Total pengeluaran per bulan : (2.250.000+250.000+2.250.000) = Rp. 4.750.000
Biaya bekerja dikantor dengan motor ( per bulan)
Biaya Bensin :
Rp. (4.500 x 3 liter) x 25 hari = Rp. 337.500
Biaya makan :
Rp. 10.000 x 25 hari = Rp. 250.000
Waktu perjalanan:
Rp. (30.000 x 2 jam) x 25 = Rp. 1.500.000
Total pengeluaran per bulan : (337.500+250.000+1.500.000) = Rp. 2.087.500
Biaya bekerja dirumah ( per bulan)
Biaya Bensin :
Rp. (4.500 x 20 liter) x 4 hari = Rp. 360.000
Biaya makan :
Rp. 0 x 25 hari = Rp. 0
Waktu perjalanan:
Rp. (30.000 x 2 jam) x 4 = Rp. 240.000
Biaya internet : Rp. 100.000
Total pengeluaran per bulan : (360.000+0+240.000+100.000) = Rp. 700.000
Jadi biaya yang bisa saya hemat untuk masing – masing jenis transportasi adalah sebagai berikut :
Penghematan dibandingkan dengan transportasi umum : 3.750.000 – 700.000 = Rp. 3.050.000
Penghematan dibandingkan dengan mobil pribadi : 4.750.000 – 700.000 = Rp. 4.050.000
Penghematan dibandingkan dengan motor : 2.087.000 – 700.000 = Rp. 1.387.500
Asumsi :
Jumlah hari kerja sebanyak 25 hari.
) .
Harga bensin Rp. 4.500 per liter
Waktu tempuh perjalanan bolak – balik kekantor dikondisi normal di Jakarta.
Gaji per jam sebesar Rp. 30.000
Biaya investasi untuk laptop/modem/mobil/motor/dll tidak diperhitungkan.
Wah, berarti selama ini saya sudah bisa berhemat sebesar itu ya ? Pantesan istri saya sekarang jadi jarang marah
Mah, karena kamu sudah tidak pernah marah lagi, gimana kalau kita tahun baru-an di Bali ?