Archive for December, 2007

Beberapa hari menjelang Tahun baru 1 Januari 2008, saya heran melihat deretan antrean panjang ratusan Jerrycan Plastik sepanjang Jalan Rempoa Raya, dekat rumah saya. Ketika saya tanyakan, ternyata sudah beberapa hari mereka menunggu penjualan terakhir minyak tanah, sebab ada rumour (apakah rumour atau ada pengumuman resmi?) bahwa mulai 1 Januari 2008 minyak tanah tidak lagi dijual buat masyarakat, sebab sudah ada progam penggunaan tabung gas dan kompor gas sebagai penggantinya.

Kemarin malam saat sedang menonton Siaran Berita TransTV Bandung, saya tersentak kaget melihat sebuah wawancara dengan seorang Wirausahawan di Kota Ciamis, bahwa perusahaannya sudah berhasil membangun Pabrik Pemrosesan Sampah menjadi Briket Arang sebagai pengganti Minyak Tanah seharga Rp 1.600,- per Kilogram. Produksinya cukup besar untuk memenuhi permintaan masyarakat kota Ciamis, sehingga di kota itu tidak diperlukan lagi Minyak Tanah!

Terpikir oleh saya, mengapa solusi atas berbagai permasalah di Indonesia yang direncanakan oleh Pemerintah, selalu akan membuat masyarakat makin repot atau menderita, seperti:

  • Mengganti Distribusi Minyak Tanah dengan tabung-tabung Gas Elpiji yang harganya relatif lebih mahal
  • Untuk menaggulangi kemacetan Lalulintas di kota2 besar, dan untuk mengurang Subsidi BBM, maka dilakukan langkah2 sbb:
    • Penerapan Pola 3-in-1
    • Membangun jaringan Busway di jalur jalan protokol yang membuat jalan2 pinggiran makin macet (menurut pakar, menanggulangi kemacetan dengan kemacetan)
    • Menaikkan harga BBM dengan mengubah Brand Premium 88 menjadi Premium 90 (Rp 6.250/liter)
    • Pompa Bensin Premium 88 dipindahkan ke luar kota, untuk memaksa masyarakat kota membeli bensin yang lebih mahal!

Untuk meningkatkan citra baik Kabinet Indonesia Bersatu, maka kami sarankan agar Pemerintah melakukan langkah-langkah dan himbauan kepada masyarakat , melaui Pidato Kenegaraan oleh Presiden R.I. SBY menyambut Tahun Baru 1 Januari 2008, yang antara lain menyampaikan hal-hal sbb:

  • Menunda Pengumuman Penghentian Distribusi MinyakTanah untuk memberi kesempatan kepada Masyarakat untuk mencari penggantinya yang lebih murah
  • Menghimbau pengusaha swasta/UKM di tiap kota untuk mengikuti jejak pengusaha swasta Kota Ciamis, yaitu membangun Pabrik Pemrosesan Sampah menjadi Briket Arang pengganti Minyak Tanah
  • Menunda Kenaikan Harga BBM Premium 90
  • Menghimbau kepada Perusahaan BUMN/Swasta dan Masyarakat menerapkan secara bertahap Budaya Telecommuting, atau Teleworking atau Home Working dengan memanfaatkan Jaringan Broadband 3G, 3.5G, EDGE, GPRS, CDMA-EVDO, ADSL-Speedy, dial-up Internet, dan Warnet2 yang terdekat, sehingga mengurangi kemacetan di jalan-jalan kota besar, dan mengurangi konsumsi BBM.

Effort yang dibutuhkan oleh Pemerintah untuk hal tersebut diatas adalah sangat minimal, tidak perlu ada investasi apa-apa, sebab semuanya dilakukan oleh Swasta atau Masyarakat sendiri. Keuntungannya adalah meningkatnya CITRA Kabinet Persatuan Indonesia (sebab tidak mengumumkan hal-hal yang membuat Rakyat repot atau menderita) dan tidak ada investasi apapun yang diperlukan, dan Rakyat akan menerima berita awal tahun 2008 ini dengan rasa gembira serta optimisme yang tinggi.

Khusus tentang rincian Swadaya Masyarakat dalam pembuatan Briket Arang dari Sampah, kami cuplikan berita dari koran “Tribun Jabar Online” (sekaligus mohon ijin copyright-nya). Sedangkan untuk Perubahan Budaya Telecommuting, dapat dilihat link sbb:

https://sroestam.wordpress.com/2007/12/11/per-1-jan-2008-harga-bensin-premium-naik-ke-rp6250liter-apa-tidak-ada-alternatif-lain/

———– Cuplikan Berita Tribun Jabar Online ————

GOOD CITIZEN : UJANG SOLICHIN
UJANG SULAP SAMPAH JADI BRIKET

KOPRAL Kepala (Kopka) Ujang Solichin boleh dibilang prajurit rancage (kreatif). Di sela-sela kesibukannya sebagai prajurit TNI ia mampu memanfaatkan waktunya dengan gagasan yang penuh inovatif.
Salah satu diantaranya dengan membuat arang briket berbahan baku sampah. Sampah apa saja, terutama sampah organik kering seperti daun-daun, rumput, serpihan kayu, bongol kayu, serbuk gergaji, kertas dan segala macam sampah yang bisa dibakar jadi arang dan abu. Di tangan bapak empat anak ini, arang dan abu hasil pembakaran sampah tadi dicetak jadi briket arang setelah dipress dengan mesin khusus rancangan sendiri.

Briket arang kemudian dijadikan bahan bakar kompor dengan nyala apinya tak kalah dengan nyala api kompor gas. Satu kilo arang briket buatan Ujang Solichin yang dijual seharga Rp 1.600 itu, setara dengan kekuatan 1 liter minyak tanah yang HETnya Rp 2.235/liter.

Usaha briket arang ini sudah dirintis Ujang sejak bulan Juli 2005 lalu, hanya beberapa hari setelah masyarakat Indonesia diguncang kebijakan kenaikan bahan bakar minyak (BBM) pada bulan April 2005. Saat itu harga minyak tanah melambung dari Rp 900/liter sampai jadi Rp 2.235/liter di tingkat masyarakat umum.

Dengan ide awal untuk mencari energi alternatif, Ujang kini sudah menjadi ‘jendral’ di bidang usaha pembuatan briket arang. Dan penduduk Lingkungan Pasir Angin RT 06 RW 06 Kelurahan Kertasari ini punya markas khusus di jalan raya Ciamis-Banjar Nomor Km 7 (CMS) No 341 Desa/Kecamatan Cijeungjing. Markas yang dikontraknya Rp 10 juta per tahun tersebut sekaligus merupakan kantor APABRIC (Asosiasi Pengusaha Arang Briket Ciamis) yang ketuanya Ujang Solichin sendiri.

Sebagai prajurit TNI yang suka keluyuran dari kampung ke kampung, Ujang mengaku merasakan sekali kesulitan warga akibat kenaikan BBM. Sebagai orang yang pernah mengenyam pendidikan di sekolah teknis, Ujang yang tamat dari STM Dr Sutomo Cilacap tahun 1987 ini merasa mendapat ide saat menyaksikan buruh-buruh penggergajian kayu memanfaatkan serbuk gergaji untuk bahan tungku saat memasak air maupun nasi liwet.

‘Serbuk gergaji tersebut dipadatkan dibakar dalam tungku khusus, apinya biru menyala. Saya pikir kenapa serbuk gergaji tersebut tidak dibikin briket arang saja. Saya mulai mengutak-atik di lantai II rumah saya di Pasir Angin. Akhirnya terciptalah briket arang seperti sekarang, bahan bakunya tidak hanya serbuk gergaji, tetapi dari bermacam-macam sampah,’ tutur Ujang Solichin kepada Tribun Senin (18/9).

Briket arang berbahan baku sampah buatan Ujang ini tidak menimbulkan perih asap dan tidak menyisakan limbah beracun B2 seperti halnya briket batu bara. Briket arang buatan Ujang ini bisa digunakan untuk memasak dengan memakai kompor khusus, dan juga bisa digunakan untuk bahan arang pembakar sate ‘Niat saya sekarang memproduksi briket arang ini bukan untuk menyaingi minyak tanah. Terlebih adalah untuk memanfaatkan sampah yang sekarang menumpuk di TPA Handapherang dan TPA Ciminyak. Ada 40 KK pemulung yang sudah siap dibina untuk menjadi produsen arang dari timbunan sampah di kedua TPA tersebut. Bagaimana pun juga sampah kota, kini menjadi persoalan serius, ingat saja kejadian TPA Leuwigajah atau musibah longsor TPA Bantargebang baru lalu,’ imbuhnya.
Menurut Ujang, tumpukan sampah kota yang dibuang ke TPA tersebut sebenarnya bisa digunakan dan bermanfaat. Salah satu diantaranya dibakar jadi arang dan arangnya kemudian jadi briket.

Dengan bahan baku serbuk gergaji, arang batok, limbah tapas kelapa kini Ujang memproduksi arang briket 1-2 kuintal per hari dengan mempekerjakan sembilan pemuda pengangguran dan putus sekolah.

‘Tiap orang diberi upah secara borongan Rp 300/kg briket. Seorang pekerja mampu mendapatkan upah Rp 15.000/hari, tergantung produktivitasnya,’ ujar Ujang yang melakoni usaha briket arangnya ini setelah meminjam uang dari BRI sebesar Rp 31 juta untuk membeli dan membuat berbagai mesin.

Bila usahanya berkembang, menurut Ujang, pihaknya akan bekerja sama dengan sejumlah SLB yang ada di Ciamis, merekrut pemuda cacat untuk jadi pekerja pembuatan arang briket. ‘Yang penting yang bersangkutan bisa melihat akan kami terima. Pemuda cacat kan susah masuk kerja dimana pun,’ ujarnya.

Ujang sendiri sekarang mengaku pusing karena pesanan briket arang terus mengalir. Misalnya dari Pabrik Peleburan Tima Aki di Leuwigajah sebanyak 10 ton perminggu. Dan dari Perkebunan Teh di Bandung selatan sebanyak 50 ton per bulan.

‘Sementara kami hanya mampu memproduksi briket arang 7 kuintal sampai 1 ton seminggu. Untuk saja mereka mau menampung berapa pun adanya,’ ujar Ujang yang berniat segera menyerahkan usaha arang briketnya kepada yang lebih professional.

‘Saya tentu tetap mengutamakan tugas saya sebagai prajurit. Usaha briket arang akan serahkan kepada yang lebih professional. Saya sekarang, hanya punya keinginan untuk mempaten hak cipta briket arang ini. Cuma biayanya cukup besar, katanya sampai Rp 10 juta,’ tutur Ujang yang setelah tamat STM Dr Sutomo Cilacap tahun 1987 lalu langsung membuat PLTA mini di Curug Panganten Desa Kepel, Cisaga sehingga mampu menerangi dua desa. Tapi PLTA minihidro yang dikelola Ujang ini tersingkir setelah listrik PLN masuk desa tersebut pada tahun 1992. Ujang sendiri memilih masuk jadi prajurit TNI yang kini berdinas di Ciamis.

‘Dari tumpukan sampah masih banyak yang mungkin bisa digunakan. Seperti untuk membuat pavingblock, eternity, keramik, batako dan segala macamnya. Tinggal sekarang bagaimana memilah-milah sampah yang mungkin digunakan,’ ujar Ujang tentang idenya yang masih belum terlaksana dalam pemanfaatan tumpukan sampah di TPA Handapherang. (andri m dhani)

————————–0———————-

Pada kesempatan ini kami ingin mengusulkan agar Pemerintah memberikan penghargaan kepada Pak Ujang atau para inventor Indonesia lainnya, agar makin banyak yang ber-kreasi dan ber-innovasi untuk memajukan bangsa dan negara Indonesia.

Semoga bermanfaat.

Wassalam,

Advertisements

Diskusi TIK Des07

Diskusi Akhir Tahun Telematika 2007 diselenggarakan pada hari Kamis, 27 Desember 2007 di Ruang Sawala Gedung Utama Dept. Keuangan R.I. atas prakarsa Bapak Eddy Satiya, Asdep bidang Telematika dan Infrastruktur Menko Perekonomian, dan dibuka oleh Bapak Kemal Stamboel, Wakil Ketua Harian DeTIKNas.

Acara kemudian dilanjutkan dengan penyampaian pandangan oleh dua orang nara sumber, yaitu Bapak Giri Suseno, Ketua MASTEL dan Bapak Eddy Satriya.

Bapak Giri Suseno menyampaikan ulasan tentang filosofi dan pengertian Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), serta mencoba untuk menelaah keberhasilan atau kekurang berhasilan pengembangan TIK di Indonesia sebagai enabler pembangunan perekonomian di Indonesia selama ini.

Selanjutnya dalam acara diskusi dan tanya-jawab, pak Haitan Rahman menyampaikan tentang belum transparannya layanan publik di bidang Telematika, juga tentang belum adanya Repository Knowledge di Indonesia, dengan akibat hilangnya Knowledge ketika para Knowledge Workers ber-migrasi ke L.N. (Malaysia) karena alasan tidak adanya lagi tempat kerja mereka yang sesuai dengan keahlian mereka (contoh, PT Dirgantara Indonresia).

Pak Hartoyo yang dizaman Krismon tahun 1997 pernah sesumbar bahwa beliau bisa meningkatkan Kurs rupiah vs Dollar, US$1=Rp 1000,-, menyatakan bahwa Pemerintah adalah bagian dari permasalahan di Indonesia. Beliau juga meng-kritik ketidak-hadiran Menko Budiono di acara ini, sebagai simbol ke-tidak adanya komitmen untuk beliau atas peran TIK selaku enabler untuk memajukan perekonomiasn Indonesia.

Senada dengan pak Hartoyo, pak Setyanto P Santosa, mantan Diruttel, menyatakan bahwa diperlukan e-Leadership di bidang TIK bila ingin keberhasilan peran TIK dalam memajukan perekonomian bangsa. E-Leadership dalam TIK yang dapat dicontoh adalah sebagaimana ditunjukkan oleh mantan Perdana Menteri Malaysia Mahatir Muhammad, diamana beliau secara pribadi memang memanfaatkan dan menghayati kegunaan TIK dalam meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja. Beliau memiliki visi yang jelas bagaimana mengembangkan TIK di negerinya.

Pak Setyanto juga menyatakan bahwa Proyek Serat Optik Palapa Ring perlu ditinjau ulang, mengingat kita belum mengoptimalkan penggunaan Satelit yang kita miliki. Untuk jarak jauh, Satelit lebih cost-effective dibandingkan dengan Serat Optik, terutama juga mengingat kebutuhan akan bandwidth di Indonesia Timur belum terlalu besar untuk saat ini.

Pak Wahyu yang mewakili APJII menyatakan keheranannya, bahwa ditingkat perencana, BAPPENAS tidak bisa menunjukkan dimana posting-nya dan berapa besarnya anggaran TIK Pemerintah. Rupanya anggaran TIK itu terbenam dalam pos-pos anggaran lainnya, bukan spesifik anggaran TIK.

Perihal masih mahalnya tariff Internet di Indonesia, pak Wahyu menjelaskan bahwa profit margin perusahaan-perusahaan anggota APJII sudah sangat tipis, sehingga penurunan tarif Internet hanya bisa dilakukan oleh para Operator yang memiliki jaringan backbone (dengan profit margin yang besar).

Pak Barata dari INDOWLI menyampaikan keluhannya bahwa sudah lebih dari 2 tahun perijinan baru Jaringan Akses Wireless di-bekukan, sehingga banyak pengusaha yang kehilangan kesempatan berusaha.

Pak Benny Nasution mengingatkan bahwa Rencana Pembangunan Palapa Ring yang ibarat Jalan Toll, belum sinkron dengan rencana pembangunan Feederline-nya, yaitu akses jaringan ke para calon pengguna.

Pak Srijanto mengingatkan agar dalam pelaksanaan Proyek USO, jangan sampai menjurus ke “akal-akalan“, tidak sesuai dengan ketentuan Undang-Undang, sebab menurutnya, Proyek USO 1 dan 2 dianggap gagal.

Pak San Herib dari PT Pos Indonesia menawarkan jaringan fisik PT Pos Indonesia dalam layanan USO, karena menjangkau banyak lokasi-lokasi pedesaan yang terpencil.

Ibu Dayu dari INDOSAT menyarankan agar tarif BHP didasarkan atas pemakaian Bandwidth sesuai perijinannya, sehingga pihak Ditjen Postel tidak teralu di-repotkan dengan survey dan inspeksi lapangan.

Ibu Dayu juga menyarankan agar Regulator Indonesia melakukan Benchmarking dengan negara-negara lain (Australia), contohnya, Perangkat Payphone disediakan dengan menggunakan teknologi baru, bukan teknologi yang lama.

Pak Rahman dari LSM Pejuang Tanpa Akhir, mengingatkan agar berhati-hati dalam menerapkan modernisasi, jangan sampai kita hanya menjadi ajang “pemerasan” asing.

Pak Naswil Idris dari APWKomitel mempertanyakan angka-angka yang sering di-quote para pejabat yang diragukan kebenarannya, seperti tingkat pembajakan yang sebesar 87% dan jumlah pengguna Internet yang 25 juta orang.

Ibu Nies dari XL meminta konfirmasi apakah Peraturan Perundangan tentang kepemilikan Asing berlaku surut atau tidak?

Pak Sunyoto dari UGM menyarankan agar masyarakat dipersiapkan secara matang agar bisa menerima kemajuan TIK. Contohnya, Yogya sudah menerapkan e-Gov, tetapi tetap saja para Pejabat diharuskan baca e-mail lewat sekreataris-nya, karena e-mail itu harus di-arsipkan dulu nomor-nya.

Pak Sumitro Roestam dari MASTEL meneruskan kritik dari Dr. Ir. Taufik Hasan, mantan Kapuslitbangtel, bahwa pemanfaatan TIK di Indonesia sangat lambat, sehingga banyak sekali Opportunity yang hilang untuk memajukan bangsa ini.

Pak Sumitro juga menyarankan agar sinkronisasi dan koordinasi antar Departemen, Instansi dan Lembaga Pemerintahan lebih ditingkatkan, agar tidak terjadi tumpang tindih atau duplikasi dalam pemanfaatan TIK di Indonesia.

Dipertanyakan pula perihal Flagship DeTIKNas yang hanya dilaporkan yang 7-butir saja, padahal yang 9-butir lagi juga cukup penting atau strategis, misalnya Program Cheap PC, yang bila dilaksanakan sebagai produk nasional akan dapat membangkitkan Industri Manufacturing dan Software Dalam Negeri.

Pak Sumitro juga mengimbau agar para Penyelenggara Jaringan Backbone Internet untuk menurunkan tariff jasa mereka, mengingat ROE atau EBITDA mereka sangat tinggi. Ini juga menjadi perhatian KPPU dengan keputusannya agar menurunkan tarif jasa sampai 15%.

Akhirnya pak Sumitro menyarankan agar segera diterapkan budaya bekerja jarak jauh (Telcommuting, Teleworking) atau kerja dari rumah (Home Working), mengingat sudah banyak tersedia berbagai jaringan akses Internet, seperti Broadband Wireless (WiFi, 3G, 3.5G/HSDPA), Broadband Wirelines (Serat Optik, ADSL-Speedy), maupun dial-up Internet di Indonesia dengan tarif yang terjangkau. Disamping itu sudah ada lebih dari 5.000 warnet yang dapat digunakan utuk akses murah Internet. Keuntungannya, jalan-jalan di kota-kota besar menjadi tidak macet lagi, konsumsi BBM menurun, Pemerintah tidak perlu menaikkan harga BBM, lebih banyak lagi waktu untuk bekerja (tidak pelu buang waktu karena macet 3-jam tiap hari), sehingga produktivitas nasional meningkat.

Pak Djiwatampu menyarankan kepada pak Setyanto agar mengikuti Milis Telematika, agar mengetahui perkembangan Proyek Palapa Ring.

Akhirnya pak Kemal Stamboel, Pak Heru, pak Ismail dan pak Cahyana mewakili Pemerintah mencoba menjawab dan menjelaskan posisi Pemerintah/Regulator tentang berbagai masalah dan saran-saran yang disampaikan dari audience.

Diskusi ditutup pada sekitar pukul 14:00 WIB dan dlanjutkan dengan makan siang bersama.
Semoga catatan hasil Diskusi Akhir Tahun Telematika ini dapat memberikan manfaat bagi kemajuan bangsa dan negara.

Taksi Udara

Macet berjam-jam seperti menjadi siksaan rutin pengguna jalan di Ibukota Jakarta. Namun bagi mereka yang berkantong tebal, siksaan itu bisa berganti kenikmatan terbang dengan Taksi Udara. Peminat taksi udara berupa helicopter itu terus bertambah meski tariff angkutnya jutaan rupiah, begitu tulis Novita Amelilawaty, wartawan Jawa Pos pada hari Sabtu, 22 Desember 2007.

Saat ini baru ada satu buah perusahaan Taksi Udara jarak pendek yang ada di Indonesia, yang dimiliki oleh PT Air Pacific yang mulai tahun 1996 membuka layanan taksi udara ini untuk umum. Untuk sistem sewa transportasi udara jarak jauh, sudah ada Pelita Air Service, anak perusahaan Pertamina, memakai pesawat berpenumpang 35 orang atau lebih. Sedangkan Taksi Udara Air Pacifik ini khusus menggunakan Helkopter Bell 407 yang hanya mampu memuat 4-5 orang saja. Oleh karena itu sewa charteran per-jam-nya adalah US$1,400.00 atau Rp 13,6 juta (Tigabelas juta enamratus ribu rupiah saja!).

Memang bagi para Eksekutif Perusahaan Konglomerat seperti Lippo Group, Salim Group, Bakrie Group, dan lainnnya, mengeluarkan biaya transport sebesar Rp 13,6 juta per jam tidak ada artinya bagi mereka, sebab Output dari Meeting yang mereka hadiri yang nilainya bisa Milyar atau Trilyun Rupiah, baik secara langsung atau berupa sebuah Upportunity Bisnis masa depan. Jadi singkat kata, bagi mereka pengeluaran uang sebesar Rp 13,6 juta itu adalah “WELL JUSTIFIED”. Sehingga menurut laporan wartawan Jawa Pos tersebut diatas, terdapat antrean panjang untuk layanan Taksi Udara PT Air Pacific yang melayani rute-rute:

  • Karawaci – Hotel Aryaduta pp
  • Karawaci – Hotel Grand Hyatt pp
  • Karawaci – Hotel Mulia pp
  • Karawaci – Karawaci – Citra Graha pp
  • Karawaci – Bukit Sentul pp
  • Karawaci – Kemang Village pp
  • Rute-rute ke Bandara Sukarno Hatta dan Halim Perdanakusuma

Namun bagaimanakah pertimbangannya kalau uang sewa sebesar Rp 13,6 juta per jam dikeluarkan untuk biaya transport para Pejabat Pemerintahan, para Birokrat, Karyawan atau Eksekutif perusahaan ikan teri seperti kita-kita ini? Tentu jawabannya adalah “TOTALLY NOT JUSTIFIED”.

Sehingga solusi terbaik, paling cost-effective dan paling cepat dilaksanakannya adalah dengan menerapkan Budaya Kerja Baru, yaitu Telecommuting, atau e-Work atau Home Working, sebagaimana kami uraikan dalam posting pada beberapa Milis beberapa waktu yang lalu. Solusi ini dapat secara langsung menghindari terjebak dalam kemacetan lalulintas, menghemat waktu dan biaya transportasi, meningkatkan produktivitas pejabat/birokrat/eksekutif/karyawan yang melaksanakan budaya kerja baru ini. Rincian penjelasannya dapat bapak/ibu simak melalui link dibawah ini

https://sroestam.wordpress.com/2007/12/11/per-1-jan-2008-harga-bensin-premium-naik-ke-rp6250liter-apa-tidak-ada-alternatif-lain/

Variant dari solusi Telecommuting ini adalah dengan selalu membawa Laptop yang dilengkapi dengan DC-to-AC Converter (150 Watt seharga Rp 150.000,-) dan Modem 3.5G dari Indosat-m2, XL, Telkomsel atau Three (sewa perbulan untuk data 1,2 Giga Bytes sebesar Rp 350.000,- atau kurang). Ini biasa dilakukan oleh Ms. Jessica Quantero, Direktur Kemang Village. Saat kita bepergian di Jakarta untuk urusan bisnis dan terjebak kemacetan, maka tidak masalah, kita tetap dapat menyelesaikan pekerjaan kita dengan Laptop, ber-email, ber-Chatting via YM, atau Google Chat, ber-Audioconferencing pakai Skype atau sejenisnya, atau ber-Videoconferencing bila sinyal 3.5G-nya cukup kuat untuk mendukung transmisi HSDPA atau UMTS/EDGE.

Kami saat ini juga sedang melakukan Telecommuting dalam perjalanan saya dari Jember ke Surabaya, menulis artikel ini, serta mengirim ke Milis ini dan Blog saya di:

https://sroestam.wordpress.com

Dengan terlebih dahulu memohon maaf kepada Bapak Eddy Satriya, Asisten Deputi 5/V Menteri Koordinator Perekonomian, kami ingin menanggapi usul beliau untuk memindahkan Kantor2 Pemerintahan Pusat ke beberapa kota di Indonesia untuk menghindari kemacetan lalulintas di Jakarta. Tanggapan kami: usul pak Eddy Satriya kurang praktis, sangat mahal, memakan waktu yang lama, dan bisa menimbulkan masalah kordinasi antar Departemen-departemen Pemerintahan Pusat. Beliau belum mempertimbangkan permasalahan2 yang akan timbul sbb:

  • Memindahkan Pejabat/Staff/karyawan Pemerintahan Pusat ke kota2 lain di Indonesia akan membutuhkan pemindahan rumah y.b.s., membeli rumah baru atau menyewa rumah baru, memindahkan sekolah/kuliah anak2 mereka, perlu ongkos pindah kota, pindah sekolah/kuliah, perlu waktu penyesuaian, ganti KTP, nomor mobil, dsb. Untuk sekitar 1-juta pegawai Pemerintahan Pusat yang dipindahkan ke kota-kota diluar Jakarta, dengan asumsi rata2 biaya pemindahan Rp 10 juta/karyawan, maka perlu dana pemindahan karyawan sebesar Rp 10 Trilyun
  • Untuk menghadiri pertemuan2 Koordinasi Pemerintahan Pusat yang sewaktu-waktu diperlukan, perlu biaya perjalanan jauh yang memakan biaya besar.
  • Untuk integrasi jaringan data Pemerintahan Pusat, diperlukan jaringan Data Nasional yang berbiaya sewa besar perbulannya, karena perlu Bandwith transmisi data yang besar.

Usul Bapak Eddy Satriya ini dapat dilihat pada Blog beliau:

http://eddysatriya.blogspot.com/2007/11/memindahkan-ibukota-membangun-indonesia.html

Tulisan kami ini kami maksudkan sebagai pemanasan untuk:

Diskusi Akhir Tahun Telematika Indonesia” yang akan diselenggarakan pada hari Kamis, 27 Desember 2007, di Ruang Graha Sawala, Gedung Utama Lantai 1, Departemen Keuangan R.I., Jalan Lapangan Banteng Timur No 2-4, Jakarta, 10710.

Silahkan ditanggapi, disanggah, ataupun didukung, sehingga bisa mempercepat solusi penanggulangan masalah kemacetan lalulintas di kota-kota besar.

Bila mungkin, target penerapan Budaya Telecommuting, atau e-Work atau Home working ini adalah saat Fajar menyingsing diufuk timur pada tanggal 1 Januari 2008, dimulai dengan Perintah atau Himbauan dari Presdien R.I. Susilo Bambang Yudhoyono kepada:

  • Para Pimpinan Departemen Pemerintahan, Lembaga dan Institusi Pemerintah
  • Para Pimpinan Universitas
  • Para Eksekutif Perusahaan BUMN, Swasta, Koperasi dan UKM
  • Masyarakat Umum

Semoga upaya ini dapat membawa kemajuan yang pesat bagi bangsa Indonesia.

Gelombang Cinta

Setelah perjalanan jauh yang kami tempuh seharian pada hari Jumat, 21 Desember 2007 dari Jakarta-Surabaya-Malang via Porong, esok paginya kami sekeluarga menuju Jember dengan mobil, berangkat pada pukul 06:00 WIB dan tiba di tujuan pada pukul 11:00 WIB.

Kami langsung ketempat acara Siraman keponakan kami yang akan melangsungkan pernikahannya pada esok harinya. Acara siraman dilangsungkan di Mess PT Perkebunan, Jalan Gajah Mada 78 Jember, dihadiri oleh sekitar 50 orang kerabat dekat dari berbagai penjuru tanah air. Acara ini berjalan lancar sesuai adat Jawa, dimana keponakan kami mendapat siraman air kembang setaman suci dari para para sesepuh keluarga sebagai simbol pensucian diri sebelum melangsungkan akad nikah dengan gadis idamannya pada esok pagi.

Sore harinya kami mengunjungi rumah seorang kerabat di Jember yang berprofesi sebagai dokter dan sekaligus juga seorang kolektor tanaman Anthurium yang terkenal. Beliau penah memenangkan lomba tanaman hias di Jember beberapa waktu yang lalu. Kebun tanaman hias pak dokter ini sangat indah dan serasi, terletak di belakang rumah. Koleksi tanaman beliau antara lain adalah bermacam-macam Anthurium Jemani seperti Anthurium Gelombang Cinta, a. Jemani Kobra, Keris, Selendang, Anturium Bunga, Anthurium Corong dan Anthurium Kuping Gajah, Anthurium Hookery, Aglaonema, Adenium, Euphorbia, dan lain-lain.

Pak Dokter bercerita bahwa saat memenangkan lomba tanaman hias di Jember, beliau menolak tawaran untuk menjual koleksi Anthurium yang terpilih pada lomba tersebut seharga Rp 80 juta. Berita ini sempat dimuat di koran-koran lokal, dan terbaca oleh seorang kolekor lain. Koleksi tanaman indah itu akhirnya terjual dengan harga Rp 150 juta.

Saya tertarik dengan koleksi tanaman pak Dokter, sehingga akhirnya saya memutuskan membeli sebuah bibit Anturium Gelombang Cinta seharga Rp 150.000,- untuk saya bawa pulang ke Jakarta. Siapa tahu nanti setelah besar ada kolektor kaya yang mau beli seharga Rp 150 juta. Ini sebuah investasi ayng sangat menguntungkan, dengan Return-on-Investment sebesat 1000-kali dalam waktu 2-3 tahun!

Sebuah cerita yang menarik dari pak Dokter, suatu hari beliau bertemu kawan yang kelihatannya sangat serius memperhatikan tiap koleksi tanaman yang ada di sebuah Pameran Tanaman Hias. Waktu ditanya, sang kawan menjawab: “Aduh, gelombang cintaku hilang!“. Ternyata memang benar, koleksi tanaman kawan tersebut hilang 3-hari sebelum pameran. Sayang sekali, kawan tadi tidak juga bisa menemukan gelombang cintanya yang hilang dicuri orang.

Tukar Cincin

Kisah selanjutnya, hari Sabtu malam tanggal 22 Desember 2007, kami sekeluarga menghadiri acara Midodareni di rumah calon mempelai wanita. Pada acara tersebut dilakukan penyerahan Peningset bagi calon mempelai wanita, dan dilanjutkan dengan penyerahan Catur Weda, sebuah wejangan dari Ayah calon mempelai wanita kepada calon mempelai pria.

Selanjutnya para tamu-tamu wanita diperbolehkan melihat ke kamar penganten calon mempelai wanita, memasikan bahwa ia memang siap untuk dipertemukan dengan calon suaminya esok harinya.

Setelah menyantap hidangan makan malam dari tuan rumah, dan dilanjutkan dengan sedikit hiburan penyanyi solo dan volunteer, maka kami sekeluraga meninggalkan tempat acara Midodareni untuk beristirahat dan mempersiapkan acara akad nikah esok harinya.

Acara akad nikah keponakan saya, Reza dengan Rima, dilaksanakan pada hari Minggu pagi pukul 07:00 WIB di Masjid Agung Jember. Acaranya berjalan lancar, diawali dengan persiapan administrasi pernikahan, pendaftaran saksi-saksi dari masing-masing keluarga, Khutbah Nikah, kemudian dilanjutkan dengan Ijab Kabul, Ayah mempelai wanita menyerahkan tanggung jawab kehidupan lahir-bathin mempelai wanita kepada mempelai pria. Mempelai pria selanjutnya menyerahkan seperangkat alat sholat dan perhiasan sebagai mahar kepada mempelai wanita.

Keluarga Rima

Setelah pembacaan doa syukur, acara berikutnya adalah tukar-menukar pemasangan cincin di masing-masing jari mempelai wanita dan mempelai pria. Selanjutanya adalah acara foto-foto bersama antara kedua mempelai dengan keluarga kedua belah pihak. Sore harinya, pukul 17:00 WIB dilangsungkan acara adat berupa Temu antara penganten Pria dan Wanita. Malam harinya dilangsungkan acara Resepsi Pernikahan di Gedung Pertemuan PT Perkebunan Jember.

Foto Keluarga

Yang menarik dari kisah ini, adalah berseminya cinta kedua penganten. Keponakan kami Reza, kami kenal sebagai anak yang sholeh, berbakti kepada kedua orang tuanya. Ia telah lulus sebagai Sarjana Ekonomi dan telah memiliki pekerjaan tetap yang baik di Surabaya. Reza adalah anak yang pemalu, sering tidak mau diajak main keluar rumah. Ia lebih senang tinggal dirumah, dan paling-paling mau keluar main Internet dan game di Warnet.

Sewaktu adik iparnya ingin memperkenalkan Reza kepada kawannya, Reza enggan menemui. Tetapi berkat keuletan adik-adiknya, akhirnya Reza mau menemui calon isterinya Rima. Begiu melihat dan berkenalan dengan Rima, Reza jatuh hati pada Rima pada pandangan pertama. Cinta keduanya bersemi dan diakhiri ke jenjang pernikahan dalam waktu 6-bulan saja.

Kita semua mendoakan agar kedua mempelai hidup berbahagia, murah rezeki, menjadi keluarga yang sakinah, mawadah dan warohmah, serta dikaruniai anak-anak yang manis yang berbakti kepada kedua orang tuanya, serta berguna bagi bangsa dan negara. Amien ya Rabbal Alamien!

Kisah selanjutnya, hari JumatBlogged with Flock

Masjid Sabilillah

Hari ini, Jumat 21 Desember 2007 kami beserta Istri berangkat dari Jakarta ke Surabaya dengan pesawat AirAsia pukul 06:50 WIB dan tiba di Airport Juanda Surabaya sekitar pukul 08:00 WIB. Cuaca cukup cerah, dan penerbangan cukup lancar.

Setelah istirahat sebentar kami melanjutkan perjalanan dengan mobil sewaan menuju Malang, via Porong, Sidoarjo, sehingga kami sempat melihat kondisi lingkungan disekitar semburan Lumpur Sidoarjo. Kondisinya sungguh sangat memprihatinkan, rumah-rumah dan pabrik ditinggalkan penghuninya/pemiliknya, sebab lumpur sudah mengepungnya. Jalan Toll yang melintas areal lumpur sudah dibongkar/diputus, sebab retak-retak yang membahayakan kendaraan yang lewat. Kendaraan yang kami tumpangi terpaksa harus melalui jalan pedesaan, sebab jalan raya menuju ke Malang macet total.

Saat pukul 12.00 WIB kami mendengan suara azan di kejauhan yang berasal dari mesjid Sabilillah, desa Beringin-Pamotan-Porong, pertanda bahwa sholat Jumat akan segera dimulai. Kami bersama sopir menyempatkan diri sholat Jumat di masjid Sabilillah ini. Khotibnya adalah Bapak K.H Nawawi Baidlowi, yang antara lain menyampaikan khutbah tentang perlunya kerja keras dan pengorbanan besar untuk mencapai sebuah cita-cita besar.

Saya jadi teringat khutbah Khotib sholat Idul Adha sehari sebelumnya (Kamis 20 Desember 2007) di Masjid Al Falah, Rempoa, Ciputat, yang antara lain beliau menyampaikan bahwa ada orang muslimin yang banyak amal ibadahnya, tetapi banyak menerima musibah. Penjelasan beliau, bahwa orang muslimin itu disayang oleh Allah, dan sebelum dinaikkan derajatnya, Ia harus melalui ujian dalam bentuk musibah. Kalau Ia sabar dan tawakal, maka Ia akan lulus ujian dan mendapat kenaikan derajat.

Namun bisa juga musibah itu adalah bentuk kemurkaan Allah karena hambanya tidak melaksanakan perintah2Nya, sehingga Allah menunjukkan kepadanya sedikit contoh besarnya siksa di neraka. Allah masih memberinya kesempatan untuk bertobat sebelum ajal menjemputnya.

Ketiga hal yang diungkapkan kedua Khotib tersebut diatas sangat erat kaitannya dengan musibah Lumpur Lapindo. Kita ambil yang positifnya saja, yaitu Allah masih sayang kepada bangsa Indonesia, makanya Beliau memberi kita musibah sebagai ujian untuk kenaikan derajat.
Pesan_korban

Selain itu, kita perlu mencontoh keberhasilan Bapak Presiden R.I. Susilo Bambang Yudhoyono dengan motto beliau yang ampuh: “Bersama kita bisa!”. Maka kita perlu berjuang bahu-membahu untuk menanggulangi luapan Lumpur Panas Lapindo, dan jangan saling menyalahkan tanpa berbuat sesuatu yang positif.

Lumpur di Kali Porong

Berikut ini kami ingin menyampaikan cara lain untuk menyumbat luapan Lumpur Lapindo, setelah kegagalan upaya penyumbatan dengan menggunakan ratusan bola-bola beton yang di-cemplungkan ke pusat semburan lumpur:

  • Inti dari upaya penyumbatan lumpur Lapindo kali ini menggunakan Hukum Fisika Archimedes: Ketinggian lumpur dalam sebuah tabung akan mencapai titik keseimbangan bilamana tekanan dari bawah lumpur = berat lumpur yang ada diatasnya. Dengan demikian semburan lumpur Lapindo akan terhenti dengan sendirinya!
  • Langkah awal pelaksanaannya adalah dengan mengukur diameter lubang semburan Lumpur Lapindo.
  • Langkah berikutnya adalah mengukur besarnya tekanan dari bawah lumpur, dengan meletakkan sensor tekanan semburan lumpur (pressure sensor).
  • Berikutnya kita perlu mengetahui Berat-Jenis (BJ) lumpur.
  • Dari rumus keseimbangan Archimedes tersebut diatas, dan dengan mengetahui tekanan dari bawah lumpur, serta BJ lumpur, maka diperoleh Volume (V meter kubik) lumpur diatas lobang semburan yang dapat menghentikan semburan itu.
  • Bila diameter lubang semburan adalah D meter, maka tinggi tabung raksasa untuk menghentikan semburan lumpur adalah = 4V/(DxDx3,14159) (meter).
  • Pembuatan Tabung Raksasa atau Sumur Beton/Baja raksasa kita serahkan kepada para Ahli Teknik Konstruksi Sipil (misalnya ahli bendungan air, dam) yang banyak di Indonesia yang sudah berpengalaman.

Silahkan ditanggapi dan semoga bermanfaat.

Android

Menyambung tulisan kami minggu lalu tentang usulan agar Indonesia menerapkan Telecommuting, eWork atau Home Working untuk menanggulangi kemacetan lalulintas di kota-kota besar, serta untuk mencegah kenaikan harga BBM Premium 90, maka kami sampaikan ulasan tentang Android, software stack untuk perangkat mobile, termasuk didalamnya Operating System, Middleware dan Aplikasi2 utama yang semuanya berbasis Open Source, sehingga para pengembang di seluruh dunia boleh ikut membuat apikasi2 baru dengan iming2 hadiah US$10 juta (untuk aplikasi2 yang terbaik). Inilah keunggulan Open Source software dibandingkan dengan Proprietary software, yg hanya dikembangkan oleh perusahaan pemilik software itu sendiri, makanya harga software-nya jadi mahal!

Hadiah sebesar US$10 juta ini disediakan oleh Google dalam kompetisi pembuatan aplikasi bernama “Android Developer Challenge” yang terbagi dalam 2 tahap, tahap Tahap I berakhir pada bulan Maret 2008 dengan hadiah US$25,000.- bagi masing-masing 50 pengembang pertama yang berhasil (total US$1,250,000.-).

Tahap II dimulai pada pertengahan tahun 2008, setelah tersedianya perangkat HP Android, dengan hadiah masing-masing sebesar US$257,000.- bagi 10 pemenang pertama, dan masing-masing sebesar US$100,000.- bagi 10 pemenang ke-dua (runner-up).

Android adalah proyek kelompok 30-an lebih operator dan perusahaan2 teknologi yang bernama Open Handset Alliance, dengan Google sebagai penyedia SDK (Software Developer’s Kit) dan bisa di download melali URL:

http://code.google.com/android/download.html

Aplikasi-aplikasi yang dapat dikembangkan pada platform Android adalah:

  • Social networking
  • Media consumption, management, editing, or sharing, e.g., photos
  • Productivity and collaboration such as email, IM, calendar, etc.
  • Gaming
  • News and information
  • Rethinking of traditional user interfaces
  • Use of mash-up functionality
  • Use of location-based services
  • Humanitarian benefits
  • Applications in service of global economic development
  • Whatever you’re excited about!

Contoh aplikasi Android dapat dilihat melalui tayangan Streaming Video Youtube para URL:

http://code.google.com/android

dimana Sergey Brin, penemu Youtube dan Steve Horowitz mendiskusikan tentang ketersediaan SDK dan contoh-contoh tayangan aplikasi Android pada Handphone.

SDK Android memberikan tools dan API (Aplication Programming Interface) yang diperlukan untuk membangun aplikasi Android menggunakan bahasa pemrograman Java. Feature-feature-nya adalah sbb:

  • Application framework enabling reuse and replacement of components
  • Dalvik virtual machine optimized for mobile devices
  • Integrated browser based on the open source WebKit engine
  • Optimized graphics powered by a custom 2D graphics library; 3D graphics based on the OpenGL ES 1.0 specification (hardware acceleration optional)
  • SQLite for structured data storage
  • Media support for common audio, video, and still image formats (MPEG4, H.264, MP3, AAC, AMR, JPG, PNG, GIF)
  • GSM Telephony (hardware dependent)
  • Bluetooth, EDGE, 3G, and WiFi (hardware dependent)
  • Camera, GPS, compass, and accelerometer (hardware dependent)
  • Rich development environment including a device emulator, tools for debugging, memory and performance profiling, and a plugin for the Eclipse IDE

HP yang terpasang aplikasi Android akan dapat mengakses Internet melalui berbagai medium, yaitu Bluetooth, EDGE, 3G, 3.5G (HSDPA) dan WiFi, sehingga HP ini akan menjadi pilihan pertama para pemakai untuk melakukan Telecommuting, eWork atau Home Working, sebab dengan perangkat mobile tersebut pekerjaan tersebut menjadi sangat mudah dan convenient, dari pada keribetan untuk menenteng Laptop dan menghidupkannya.

Dipersilahkan kepada adik-adik yang kreatif dan innovatif, para anggota JUG (Java User Group) terutama sdr. Frans Thamura untuk mengikuti sayembara pembuatan aplikasi Android ini, sehingga bila menang, dapat memperoleh biaya hidup yang cukup untuk satu tahun.

Silahkan dipelajari dan ditanggapi.

IP04 CaseIP04 CaseBapak2, Ibu2 dan Kawan2 yang saya hormati,

Terlebih dahulu saya ingin memberikan penghargaan yang tinggi kepada Bapak Dr. Onno W. Purbo, yang telah banyak menyumbangkan pemikiran dan hasil karya bagi penerapan TIK yang Pro-Rakyat Kecil, seperti RT-RW Net, Wajanbolik, Open Source Software (Linux), dan lain-lain lagi.Namun sangat disayangkan bahwa pemikiran dan hasil karya beliau lebih banyak mendapat perhatian dan diterapkan di luar negeri, khususnya di Kanada, Eropa dan negara-negara berkembang.

Kali ini beliau menemukan informasi yang dapat menjadi titik balik kebangkitan Industri TIK Nasional, serta yang dapat mempercepat kemajuan teknologi dan perekonomian bangsa Indonesia, sebab yang disampaikan oleh beliau adalah sebuah informasi lengkap untuk memproduksi hardware dan software sistem teleponi (VoIP) baru yang gratis, baik copyright hardware-nya maupun software-nya (Open Source).

Kita bebas untuk meng-copy, memperbanyak dan memproduksi Sistem Free Telephony ini bagi kemajuan dan kesejahteraan bangsa Indonesia, sebab proyek ini, yang dinamakan Free Telephony Project, memang dirancang untuk dibagi (di-share) bagi kemajuan ummat manusia sebagaimana konsep Software Open Source (versus konsep Proprietary Software, yg ingin dinikmati keuntungannya bagi pemiliknya sendiri). Jadi ini sangat cocok bagi negara-negara berkembang seperti Indonesia, untuk dapat mengejar ketertinggalannya dari negara-negara maju.

Hardware sistem ini terdiri dari sebuah Asterik IP-PBX, termasuk multiple analog ports (T1 atau E1), dan tanpa memerlukan lagi Personal Computer. Biaya pembuatannya tidak lebih dari beberapa ratus Dollar.

Produk awal dari Proyek ini dinamakan IP04, yaitu sebuah Sistem Telepon murah yang mampu untuk menyalurkan panggilan telepon dari sistem telpon analog ke sistem telpon VoIP (Internet Telephony). Sistem ini telah dirancang secara professional dan telah dapat diproduksi secara massal saat ini.

Tujuan Proyek ini adalah untuk membuat biaya telpon se-rendah mungkin, sehingga siapa saja manusia di bumi ini bisa melakukan panggilan telpon, karena ini merupakan Hak Azasi Manusia untuk berkomunikasi kepada sesamanya.

Ini sangat cocok dengan tujuan proyek USO, yang mungkin sudah menjadi takdir Illahi, Tender Proyek USO Indonesia saat ini di batalkan. Saran kami agar proyek ini di review kembali dengan diperolehnya informasi tentang tersedianya Sistem Telepon murah IP04 ini. Bila sistim ini diproduksi secara massal, oleh produsen2 Indonesia, dengan dana dari Proyek USO, maka industri TIK nasional dapat segera bangkit kembali.

Mudah-mudahan para pembuat kebijakan TIK Nasional Indonesia bersedia untuk mengakomodasikan info terbaru Sistem Telepon murah IP04 ini, sebagai titik balik kebangkitan Industri TIK Nasional, dan sebagai awal kebangkitan bangsa Indonesia di bidang kemajuan teknologi dan kemajuan perekonomian bangsa Indonesia, sebab akan dapat meningkatkan kemandirian bangsa Indonesia dari ketergantungan pihak asing (vendor asing, hardware dan software asing).

Informasi lengkap tentang Proyek Free Telephony dan Sistem Telepon murah IP04 dapat dilihat dibawah ini.

Semoga mendapat perhatian para pembuat kebijakan nasional di bidang TIK, serta membawa kemajuan teknologi, perekonomian dan kesejahteraan bangsa Indonesia.

===========================================

INFORMASI LENGKAP tentang Proyek FREE TELEPHONY:

Free Telephony Project

 

Introduction

The goal of this project is to provide free hardware designs for telephone systems. Both the hardware and software are open. You are free to copy, modify and re-use the hardware designs. The hardware for a complete embedded Asterisk IP PBX (including multiple analog ports or a T1/E1) can be built for a few hundred dollars. No PC required!

Our first product is the IP04. The IP04 is a low cost phone system that can switch phone calls from analog phones or phone lines over the Internet using VoIP. The IP04 is a professionally designed product that is in volume production today:

 

IP04 in production case

The hardware designs collected on this site have been developed by a dedicated group of telephony professionals. The technology is complex, hence most of this web site is deeply technical. However the goals of the project are easy to understand – we want to lower the cost of telephony for everyone on the planet. Making a phone call should be a human right, not a privilege.

For a non-technical introduction:

  1. NEW We have recently released a white paper outlining the use of the IP04 for VoIP in developing regions.
  2. Open hardware telephony really can “connect the planet”. Here is a article published on Next Billion that describes the possibilities for the developing world.
  3. This blog post introduces the business and social possibilities of Open Hardware.

Why Free Telephony Project?

  1. Our designs are free as in speech, like Open Source software. Anyone is free to copy, modify, manufacture.
  2. Recent breakthroughs mean that free software can now do most of the work in a telephone system, work that was previously done by specialised, expensive hardware. This means a dramatic drop in hardware prices is possible. Thus hardware costs are getting closer and closer to $0. Our job is to help them get there faster – by releasing royalty free designs and encouraging their mass production!

Quickstart

Would you like to experiment with your own embedded Asterisk IP-PBX with multiple analog ports? A good start is to order an IP04 Four Port IP-PBX. This is a fully assembled, hackable IP-PBX based on open hardware and software designs.

The projects on this site are organised along software and hardware lines:

  1. uCasterisk (you-see-Asterisk) is a set of scripts, makefiles and patches to build embedded Asterisk for uClinux. Target hardware is the Blackfin BF533/BF537 STAMP boards. This project is nearing the end of it’s useful life and is being replaced by Astfin.
  2. GPL Hardware is a project to develop open (GPL) telephony hardware for the Blackfin platform. The range of designs includes FXO/FXS analog boards, a BRI ISDN Appliance, single span E1/T1 and a Blackfin BF532 mother board.
  3. Oslec is an open source high performance line echo canceller that outperforms the Zaptel echo cancellers used in Asterisk. Although developed for the Blackfin it is also in wide use on x86 platforms.

There is a project forum here.

There are also several related sites:

  1. The BlackfinOne is a high performance DSP motherboard suitable for embedded telephony. The design is completely open (free as in speech).
  2. Astfin is the latest Blackfin uClinux Asterisk distribution. The authors have used Buildroot to make the very complex embedded build process very simple. Astfin is the successor to uCasterisk, and where Blackfin Asterisk software development is now focused.

Latest News

 

  1. Thursday, November 29: IP08 Prototype. The IP08 has 8 analog ports, two Ethernet ports, and USB. Read all about the bring up of the very first IP08 prototype.
  2. Thursday, November 29: Survey of Asterisk Apppliance products.
  3. Monday, November 12: Mark and the team have made the first phone call on their BRI-ISDN Appliance. Read all about it on the Astfin Blog. I was thrilled so see all the inputs by a variety of people during the debugging stage. This sort of collaboration in hardware development is new and innovative, a real “breath of fresh air”. Also the rate of progress is spectacular compared to traditional “closed” development methods.

     

    BRIAppliance

  4. Wednesday, November 7, 2007: An article on the IP04 has been published in EE times. The article discusses the IP04 design, the open hardware development philosophy, and Oslec.
  5. Monday, November 6, 2007: An article on the Free Telephony Project hardware and software has been published in issue 2008 or Circuit Cellar (November 2007) Magazine.

     

    Circuit Cellar Magazine

  6. Sunday, October 13, 2007: Primary Rate Appliance and Basic Rate ISDN Appliance projects announced! A team of telephony professionals have been working hard on developing some new Blackfin based Asterisk Appliance products. These new products are exciting new developments with BRI-ISDN and E1/T1 line interfaces. Hardware designs are complete, and prototype bring up will commence soon. More details from this post on the Astfin Blog.
  7. Friday, October 12, 2007: IP04s back in stock! If you are interested in an IP04 please be quick – I have already sold half of this batch through back orders. Available from the Free Telephony Project Store.
  8. Friday, September 7, 2007: mISDN support for OSLEC, the high quality open source echo canceller, thanks to Peter Schlaile. Thanks also to Kristijan Vrban for sending me some ISDN hardware so I can help with the ISDN/Oslec testing!
  9. Sunday, August 12, 2007: The first batch of IP04s has sold out! New stock will be available in mid September. Feel free to pre-order now for September delivery. You can read all about the first batch of production IP04’s on my blog post Building an Embedded Asterisk PBX Part 4
  10. Monday July 23, 2007: Production samples of the IP04 are now available for purchase from the Free Telephony Project Store. The production IP04s are fully assembled and tested and can be configured with any combination of FXS/FXO modules.
  11. Saturday June 30, 2007: Diego Serafin has been working on a mISDN port for the Blackfin and other embedded platforms. The code is alpha, but is running on Blackfin hardware using a port of uCasterisk and the CologneChip XHFC chipset. Both kernel mode and user mode mISDN software is available. I am quite excited about this development, as combined with the fourfin ISDN hardware design we are getting close to a free BRI-Appliance!
  12. Wednesday June 27, 2007: The IP04 Wiki has been created for community generated IP04 documentation.
  13. Wednesday June 6, 2007: The Open Source Line Echo Canceller (OSLEC) has been released! This is a free (as in GPL) high performance software echo canceller. It runs on x86 and Blackfin Asterisk/Zaptel systems. It even has it’s own GUI (below)!. See the Oslec home page for more information.

     

    Oslec Control Panel

  14. Monday May 28, 2007: I have stock of bare (unsoldered) IP04 PCBs for those who are interested in building (as in soldering) their own IP04. The PCBs are USD$25 including air mail to anywhere in the world. I also have stock of FXS and FXO modules, they are USD$50 each, plus $10 air mail per package. More information on IP04 PCBs and modules. Thanks to ZhangZQ for helping to obtain these boards at a great price from China.
  15. Saturday May 19,2007: Another Blackfin based Asterisk Appliance/IP04 type product has appeared, the Magiclink Asterisk Appliance. This looks similar in design to the AA and IP04, however has both USB and CF ports. Quantity 100 pricing for 4 FXO ports is a low $299, which is great news. Good work Magiclink.
  16. Saturday May 19,2007: First Blackfin-Asterisk Embedded Primary Rate call! Mark from the PR1 project has proudly to announced that he and Mathieu have made the first successful call using a BlackfinOne and PR1 (single span T1/E1) combo. This call is very likely the first call ever made using digital lines and open source from a to z (software, E1 hardware, DSP motherboard hardware, and source CAD/software tools).
  17. Thursday May 17, 2007: Unfortunately I have sold out of 2 FXS 2 FXO starter kits. At this stage I don’t plan to make any more, as the IP04 will be available in July. However if there is still demand for starter kits please contact me – I can produce another batch in 4-6 weeks.
  18. Sunday April 29, 2007: IP04 Four Port IP-PBX bring up! You can read all about the bring up of the IP04 prototype on my blog post Building an Embedded Asterisk PBX Part 3. The previous Part 1 and Part 2 blog posts in this series are consistently the most popular content on this site.

     

    IP04 load testing

  19. Sunday April 29, 2007: A new Embedded Asterisk product! The TechnoCo Vdex 40 is an Australian product with 4 FXO ports, a multiple ARM/DSP processor architecture and is sampling for US$695, with street price still TBD. Nice product guys – well done.
  20. Monday April 16, 2007: Embedded T1/E1 Hardware! The first prototype of a Blackfin Primary Rate card has been assembled. Layer 1 is up already and the team are close to making their first calls. More on the PR1 project.

     

    PR1 mounted on a BlackfinOne

  21. Sunday April 8, 2007: Astfin released! The latest Blackfin uClinux Asterisk distribution. It runs Asterisk 1.4.2 on STAMP and BlackfinOne platforms, and will soon support the production IP04 hardware. The authors have used Buildroot to make the very complex embedded build process very simple. Astfin is the successor to uCasterisk, and is where intense Blackfin Asterisk software development and testing is now focused. Thanks Mark and Pawel for your tremendous efforts – embedded build systems can be torturous and we really appreciate your efforts!

     

    Astfin top level menu

  22. Saturday, 31 March, 2007: Work has started work on the IP04 Four Port IP-PBX. This design combines a BlackfinOne V2 with the 4fx/FXS/FXO analog hardware. The goal is an assembly cost of $200 in Qty 50, dropping to $100 in Qty 5-10k. I have a spreadsheet that models the costs on volume in IP04 SVN, along with a IP04 README and the sch/PCB files. The design is based on working building blocks like the BlackfinOne V2, the 4fx design, Asterisk, and the Oslec open echo canceller.

     

    IP04 PCB

  23. Thursday, February 22, 2007: The Primary Rate (PR1) card project brings Primary Rate E1/T1/J1 capability to the Blackfin. With this project it is possible to build a tiny, low cost embedded IP-PBX with a primary rate interface for just a few hundred dollars. The hardware design is completely open. More
  24. Saturday, February 10, 2007: An article on this project has been published in the March 2007 edition of Linux Journal.
  25. Saturday, January 20, 2007: Dimitar Penev, Ivan Danov have booted Asterisk on a completely open embedded hardware platform! The system (see photo below) is comprised of the BlackfinOne as the DSP motherboard and the 4fx line interface card with 4 analog ports. Both hardware designs are open and have been developed by a community of people around the world using the gEDA open source CAD tools. This means anyone is free to modify, copy and build these hardware designs. Thanks to Telecom64 for helping support this work.

     

    BlackfinOne and 4fx

  26. Monday, January 8, 2007: I have just blogged on my experience of building and testing a BlackfinOne DSP motherboard. Building (really building as in soldering) your own uClinux machine is a unique experience. The BlackfinOne is an open Blackfin BF532 hardware design that has been developed by a community of people all over the world. Next step is to get uCasterisk running on the board.
  27. Friday, January 5 2007: A three part series on Embedded Asterisk has been published on the Audio DesignLine website, Part 1, Part 2, Part 3.
  28. Saturday December 16 2006: The 2 FXO, 2 FXS analog starter kits for the STAMP are now back in stock and available for immediate shipping. The price is US$299 plus shipping. Information on how to assemble and test your kit is here.
  29. Wednesday December 14 2006: A SVN repository for the project has been set up by Wojciech Tryc. Thanks Wojciech! Music on Hold (using the native Asterisk MOH method) has been checked into SVN, and voicemail has also been successfully tested.

Blogged with Flock