Trend Baru Manajemen: BLOG bagi para CEO Perusahaan dan Organisasi

Posted: April 6, 2008 in Blog CEO, Sinkoronisasi Visi-Misi-Strategi
Tags:

Blog adalah salah satu Aplikasi Web 2.0 untuk Social Networking melalui Jaringan Internet.

CEO adalah figur pilihan yang sangat menentukan maju-mundurnya suatu Perusahaan yang dipimpinnya. Oleh karena itu melalui Blog, para CEO dapat mengkomunikasikan Visi, Misi, Strategi dan Program-program Perusahaan yang dipimpinnya kesdeluruh jajaran Eksekutif dan Karyawan, para Mitra Bisnis, dan Pemerintah/Regulator secara lebih cepat, efisien dan murah.

Melalui Blog CEO ini pula akan dapat dimengerti pandangan2 dan harapan CEO kepada seluruh jajaran Karyawan Perusahaan, serta para Mitra Kerja Perusahaan. Melalui Blog CEO ini pula dapat terjadi komunikasi dua arah yang efektif dan efisien.

Hasilnya dapat dipastikan ada akan ada keharmonisan hubungan kerja Pimpinan dan para Karyawan Perusahaan itu, yang akan menghasilkan kemajuan perusahaan yang dipimpin oleh CEO yang mempunyai Blog khusus tersebut.

Di banyak negara-negara maju, trend BLOG para CEO telah berkembang pesat. Kami ingin memberikan contoh BLOG CEO dari 2 perusahaan tersebut, yaitu:

1. Blog Mr. Jonathan Shwatrz, CEO & President SUN Microsystems, Inc., dengan Biografi sbb:

Jonathan Schwartz is chief executive officer and president of Sun Microsystems, and a member of Sun’s board of directors. He became Sun’s CEO in 2006, succeeding the Company’s co-founder and current chairman of the board, Scott McNealy.

Schwartz was promoted to president and chief operating officer in 2004, and managed all operational functions at Sun – from product development and marketing, to global sales and service. An inveterate communicator, Schwartz has led Sun’s drive to engage the marketplace, and redefine corporate transparency.

A leader behind many of Sun’s open source and standard setting initiatives, Jonathan’s been an outspoken advocate for the network as a utility with more than just value for the computing industry – but as a tool for driving economic, social and political progress.

Prior to his position as COO, Schwartz served as Sun’s executive vice president for software, its Chief Strategy Officer, and held a variety of leadership positions across product and corporate development. He joined Sun in 1996 after the Company acquired Lighthouse Design, where he was CEO and co-founder. Prior to that, Schwartz was with McKinsey Co.

Schwartz received degrees in economics and mathematics from Wesleyan University.

URL Blog Mr. Jonathan Schwatrz dapat dilihat di:

http://www.sun.com/aboutsun/executives/schwartz/bio.jsp

2. Blog Mr. Jim Estill, CEO Perusahaan Distribusi Komputer SYNNEX Ontario, Kanada, dengan Biografi sbb:

Jim Estill

Mengenai Saya

I started a computer distribution company – EMJ Data from the trunk of my car in 1979. With a great team we built the company up to $350,000,000 in sales and sold to SYNNEX in Sept 2004. Now I am CEO of SYNNEX Canada. We sell about a Billion $ in computer products in Canada. We sell all the brands you would recognize like HP, Apple, Intel, Lexmark, Acer, Sony, Microsoft etc through computer resellers and retailers from Future shop and Zellers to Bob’s computer store. We are also a leader in bar code and POS equipment. This blog represents my personal views and not those of SYNNEX or any other company.

Minat

Musik Favorit

Buku Favorit

Blog

Nama Blog Anggota Tim
Lihat  Blog  ini CEO Blog – Time Leadership
Lihat  Blog  ini Name holder for old blogspot

URL Blog Mr. Jim Estill adalah sbb:

http://www.blogger.com/profile/9195253
Kami harapkan artikel/tulisan ini dapat memberikan inspirasi bagi para CEO Indonesia untuk membuat Blog masing-masing demi kelancaran komunikasi Intern Perusahaan maupun dengan para Mitra Kerja mereka, sehingga menghasilkan Perusahaan yang seluruh jajaran eksekutif dan karyawannya bergerak sinkron dan harmonis. Hasilnya, Perusahaan akan makin maju pesat, seperti contoh kedua Perusahaan di Luar Negeri tersebut diatas.
Silahkan pak Rinaldi Firmansyah – CEO TELKOM, pak Johnny Swandi Sjam -CEO INDOSAT, pak Hasnul Suhaimi -CEO EXCEL, pak Indar Atmanto -CEO IM2 dan para CEO Indonesia lainnya untuk segera membuat BLOG CEO masing-masing. Siapa yang lebih dahulu akan menjadi Leader/Panutan bagi yang lainnya.

Untuk membuat sebuah BLOG hanya diperlukan waktu 5 menit, gratis di WordPress, Blogspot, Multiply dan lain-lain.
Di kalangan para Menteri dan Birokat, sudah ada contohnya, yaitu:

a. Blog Bapak MenHankam Joewono Soedarsono, di URL:

http://juwonosudarsono.com/wordpress/index.php

b. Blog Bapak Dr. Ir. Gatot Hari P Direktur SEAMOLEC SEAMEO di URL:

http://gatothp2000.wordpress.com/

c. Blog Bapak Eddy Satiya – Deputy Menko Perekonomian bidang Infrastruktur dan Pembangunan Regional, dengan URL:

http://eddysatriya.blogsome.com/

Semoga membawa kemajuan bagi Perusahaan, Bangsa dan Negara Indonesia.

Comments
  1. (Dikutip dari: Harian RADAR Banjarmasin, Jum’at, 4 Januari 2008, dengan judul asli: Strategi Evaluasi Milenium III – Matinya Ilmu Administrasi & Manajemen).

    Matinya Ilmu Administrasi dan Manajemen
    (Satu Sebab Krisis Indonesia)
    Oleh Qinimain Zain

    FEELING IS BELIEVING. C(OMPETENCY) = I(nstrument) . s(cience). m(otivation of Maslow-Zain) (Hukum XV Total Qinimain Zain).

    INDONESIA, sejak ambruk krisis Mei 1998 kehidupan ekonomi masyarakat terasa tetap buruk saja. Lalu, mengapa demikian sulit memahami dan mengatasi krisis ini?

    Sebab suatu masalah selalu kompleks, namun selalu ada beberapa akar masalah utamanya. Dan, saya merumuskan (2000) bahwa kemampuan usaha seseorang dan organisasi (juga perusahaan, departemen, dan sebuah negara) memahami dan mengatasi krisis apa pun adalah paduan kualitas nilai relatif dari motivasi, alat (teknologi) dan (sistem) ilmu pengetahuan yang dimilikinya. Di sini, hanya menyoroti salah satunya, yaitu ilmu pengetahuan, sistem ilmu pengetahuan. Pokok bahasan itu demikian penting, yang dapat diketahui dalam pembicaraan apa pun, selalu dikatakan dan ditekankan dalam berbagai forum atau kesempatan membahas apa pun bahwa untuk mengelola apa pun agar baik dan obyektif harus berdasar pada sebuah sistem, sistem ilmu pengetahuan. Baik untuk usaha khusus bidang pertanian, manufaktur, teknik, keuangan, pemasaran, pelayanan, komputerisasi, penelitian, sumber daya manusia dan kreativitas, atau lebih luas bidang hukum, ekonomi, politik, budaya, pertahanan, keamanan dan pendidikan. Kemudian, apa definisi sesungguhnya sebuah sistem, sistem ilmu pengetahuan itu? Menjawabnya mau tidak mau menelusur arti ilmu pengetahuan itu sendiri.

    Ilmu pengetahuan atau science berasal dari kata Latin scientia berarti pengetahuan, berasal dari kata kerja scire artinya mempelajari atau mengetahui (to learn, to know). Sampai abad XVII, kata science diartikan sebagai apa saja yang harus dipelajari oleh seseorang misalnya menjahit atau menunggang kuda. Kemudian, setelah abad XVII, pengertian diperhalus mengacu pada segenap pengetahuan yang teratur (systematic knowledge). Kemudian dari pengertian science sebagai segenap pengetahuan yang teratur lahir cakupan sebagai ilmu eksakta atau alami (natural science) (The Liang Gie, 2001), sedang (ilmu) pengetahuan sosial paradigma lama krisis karena belum memenuhi syarat ilmiah sebuah ilmu pengetahuan. Dan, bukti nyata masalah, ini kutipan beberapa buku pegangan belajar dan mengajar universitas besar (yang malah dicetak berulang-ulang):

    Contoh, “umumnya dan terutama dalam ilmu-ilmu eksakta dianggap bahwa ilmu pengetahuan disusun dan diatur sekitar hukum-hukum umum yang telah dibuktikan kebenarannya secara empiris (berdasarkan pengalaman). Menemukan hukum-hukum ilmiah inilah yang merupakan tujuan dari penelitian ilmiah. Kalau definisi yang tersebut di atas dipakai sebagai patokan, maka ilmu politik serta ilmu-ilmu sosial lainnya tidak atau belum memenuhi syarat, oleh karena sampai sekarang belum menemukan hukum-hukum ilmiah itu” (Miriam Budiarjo, Dasar-Dasar Ilmu Politik, 1982:4, PT Gramedia, cetakan VII, Jakarta). Juga, “diskusi secara tertulis dalam bidang manajemen, baru dimulai tahun 1900. Sebelumnya, hampir dapat dikatakan belum ada kupasan-kupasan secara tertulis dibidang manajemen. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa manajemen sebagai bidang ilmu pengetahuan, merupakan suatu ilmu pengetahuan yang masih muda. Keadaan demikian ini menyebabkan masih ada orang yang segan mengakuinya sebagai ilmu pengetahuan” (M. Manullang, Dasar-Dasar Manajemen, 2005:19, Gajah Mada University Press, cetakan kedelapan belas, Yogyakarta).
    Kemudian, “ilmu pengetahuan memiliki beberapa tahap perkembangannya yaitu tahap klasifikasi, lalu tahap komparasi dan kemudian tahap kuantifikasi. Tahap Kuantifikasi, yaitu tahap di mana ilmu pengetahuan tersebut dalam tahap memperhitungkan kematangannya. Dalam tahap ini sudah dapat diukur keberadaannya baik secara kuantitas maupun secara kualitas. Hanya saja ilmu-ilmu sosial umumnya terbelakang relatif dan sulit diukur dibanding dengan ilmu-ilmu eksakta, karena sampai saat ini baru sosiologi yang mengukuhkan keberadaannya ada tahap ini” (Inu Kencana Syafiie, Pengantar Ilmu Pemerintahan, 2005:18-19, PT Refika Aditama, cetakan ketiga, Bandung).

    Lebih jauh, Sondang P. Siagian dalam Filsafat Administrasi (1990:23-25, cetakan ke-21, Jakarta), sangat jelas menggambarkan fenomena ini dalam tahap perkembangan (pertama sampai empat) ilmu administrasi dan manajemen, yang disempurnakan dengan (r)evolusi paradigma TOTAL QINIMAIN ZAIN (TQZ): The Strategic-Tactic-Technique Millennium III Conceptual Framework for Sustainable Superiority, TQZ Administration and Management Scientific System of Science (2000): Pertama, TQO Tahap Survival (1886-1930). Lahirnya ilmu administrasi dan manajemen karena tahun itu lahir gerakan manajemen ilmiah. Para ahli menspesialisasikan diri bidang ini berjuang diakui sebagai cabang ilmu pengetahuan. Kedua, TQC Tahap Consolidation (1930-1945). Tahap ini dilakukan penyempurnaan prinsip sehingga kebenarannya tidak terbantah. Gelar sarjana bidang ini diberikan lembaga pendidikan tinggi. Ketiga, TQS Tahap Human Relation (1945-1959). Tahap ini dirumuskan prinsip yang teruji kebenarannya, perhatian beralih pada faktor manusia serta hubungan formal dan informal di tingkat organisasi. Keempat, TQI Tahap Behavioral (1959-2000). Tahap ini peran tingkah-laku manusia mencapai tujuan menentukan dan penelitian dipusatkan dalam hal kerja. Kemudian, Sondang P. Siagian menduga, tahap ini berakhir dan ilmu administrasi dan manajemen akan memasuki tahap matematika, didasarkan gejala penemuan alat modern komputer dalam pengolahan data. (Yang ternyata benar dan saya penuhi, meski penekanan pada sistem ilmiah ilmu pengetahuan, bukan komputer). Kelima, TQT Tahap Scientific System (2000-Sekarang). Tahap setelah tercapai ilmu sosial (tercakup pula administrasi dan manajemen) secara sistem ilmiah dengan ditetapkan kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukumnya, (sehingga ilmu pengetahuan sosial sejajar dengan ilmu pengetahuan eksakta). (Contoh, dalam ilmu pengetahuan sosial paradigma baru milenium III, saya tetapkan satuan besaran pokok Z(ain) atau Sempurna, Q(uality) atau Kualitas dan D(ay) atau Hari Kerja – sistem ZQD, padanan m(eter), k(ilogram) dan s(econd/detik) ilmu pengetahuan eksakta – sistem mks. Paradigma (ilmu) pengetahuan sosial lama hanya ada skala Rensis A Likert, itu pun tanpa satuan). (Definisi klasik ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur. Paradigma baru, TQZ ilmu pengetahuan adalah kumpulan pengetahuan yang tersusun secara teratur membentuk kaitan terpadu dari kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum yang rasional untuk tujuan tertentu).

    Bandingkan, fenomena serupa juga terjadi saat (ilmu) pengetahuan eksakta krisis paradigma. Lihat keluhan Nicolas Copernicus dalam The Copernican Revolution (1957:138), Albert Einstein dalam Albert Einstein: Philosopher-Scientist (1949:45), atau Wolfgang Pauli dalam A Memorial Volume to Wolfgang Pauli (1960:22, 25-26).

    Inilah salah satu akar masalah krisis Indonesia (juga seluruh manusia untuk memahami kehidupan dan semesta). Paradigma lama (ilmu) pengetahuan sosial mengalami krisis (matinya ilmu administrasi dan manajemen). Artiya, adalah tidak mungkin seseorang dan organisasi (termasuk perusahaan, departemen, dan sebuah negara) pun mampu memahami, mengatasi, dan menjelaskan sebuah fenomena krisis usaha apa pun tanpa kode, satuan ukuran, struktur, teori dan hukum, mendukung sistem-(ilmu pengetahuan)nya.

    PEKERJAAN dengan tangan telanjang maupun dengan nalar, jika dibiarkan tanpa alat bantu, membuat manusia tidak bisa berbuat banyak (Francis Bacon).

    BAGAIMANA strategi Anda?

    *) Qinimain Zain – Scientist & Strategist, tinggal di Banjarbaru – Kalsel, e-mail: tqz_strategist@yahoo.co.id (www.scientist-strategist.blogspot.com)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s