Archive for April, 2009

Perusahaan Pers terbesar di Dunia Assocaited Press mulai melarang akses atas content-nya oleh masyarakat bila mereka belum membayar langganan buanannya. AP mengeluh karena banyak perusahaan lain yang mengeduk untung besar dengan menyebarkan content miliknya yang gratis. Oleh karena itu mulai sekarang AP akan mengharuskan para pelanggannya untuk membiayar biaya keanggotaan sebelum mereka dapat men-dowbload content.

Kebijakan ini bila di-ikuti oleh berbagai penyedia berita lainnya akan menyebabkan konsep bisnis Web 2.0 akan berakhir. Tentu saja di Era Masyarakat Informasi, akan terjadi penyesuaian-penyesuaian bisnis proses agar terjadi keseimbangan baru. Salah satunya adalah akan terjadi model bisnis baru, dimana akan muncul Agregator Berita baru dimana Ia akan memperoleh berita-berita secara gratis dari para Blogger yang tersebar diseluruh dunia, sehingga dapat dimanfaatkan oleh para pencari berita yang memerlukan.

Berikut ini kami lampirkan berita lengkap tentan Associated Press sebagai berikut:

The End of the Web 2.0 Free-for-All

“The latest moves by the Associated Press toward putting a stranglehold on its content online, making it unavailable to other online publications who aren’t paying for it, signals the impending end to the free-for-all that’s defined Web 2.0.”

The backstory is that for months the AP — a cooperative with more than 1,400 U.S. newspaper members — has griped that its content is unfairly used online. The first publicized incident occurred in June when the AP sent the Drudge Retort a cease-and-desist letter for excerpting and linking to its content. The debate was heightened this week when in a statement and at its annual meeting the AP affirmed that it will pursue legal action against online publications that use its material without paying for it or at least sharing revenue.

“We can no longer stand by and watch others walk off with our work under some very misguided, unfounded legal theories,” said Dean Singleton, AP chairman, in a statement. “We are mad as hell, and we are not going to take it anymore.”

The AP’s issue is with publications that excerpt and link to its content, and with search engines, like Google News, which aggregate news stories that may be using the AP’s content without paying for it.

And while we know it’s hard to take seriously anyone who quotes Network in an annual statement, there’s good reason for concern.

Over the last few days there’s been much back and forth contesting the AP’s argument, with Google saying its search engine is good for news organizations, The New York Times questioning whether Yahoo is more of a friend to AP than Google is, and experts like ThinkerNetter Scott Hilton exploring the legal issues.

But regardless of the finger-pointing, the underlying theme is clear: AP does not want to share its content with those who aren’t paying for it, and that changes things drastically.

The news organization is taking a lot of heat for not playing by the rules of the digital age, but it certainly isn’t alone. YouTube has been dealing with similar anger from the large networks who, oddly enough, don’t want their content stolen and uploaded on its site. Despite our collective delusion, the content of the world does not belong to everyone, and, yes, the people who pay for it do mind when you’re making money on it and they aren’t. Crazy, we know.

AP’s harsh tactics and legal threats are out of step with how the Internet works, which is why this is such a big deal. Most organizations operate under the pretense that excerpting and linking back to content is fair game on the Web.

But, despite our cries, the facts are clear: If organizations like the AP take a stand against this whole free-for-all, where what’s mine is yours and what’s yours is ours, it will signal the end of Web 2.0.

We can stomp our feet as we like and call the AP out of touch, but we can’t shun them completely and think the Web can otherwise survive. Without content from the big guys — the news organizations, the networks — the Web as we’ve come to know it does not exist. The large organizations operate as separate entities, and the underdogs who’ve been making some form of money off of them have to figure out how to stand on their own or share the little revenue they have for access.

When the people providing the content wake up to that fact, as the AP has, and start to pull it out from under the rest of us, that’s when reality will settle in for those whose livelihood and business model rely on its availability.

— Nicole Ferraro, Site Editor, Internet Evolution

Dalam 3-bulan mendatang diramalkan akan terjadi Revolusi PC dimana akan marak terjual PC yang tipis dan sangat murah berbasiskan LINUX (disebut Netbook) yang mampu dengan cepat mengakses Internet, Web, Google, Yahoo, YM, Youtube, Facebook, Online-Games dan lain-lain lagi, dengan daya tahan battery yang sekali isi untuk sehari penuh. Netbook yang ada sebelumnya berbasiskan CPU ATOM yang murah tetapi lamban, hanya bagus untuk membuka dan membaca e-mail, namun sangat lelet kalau dipakai untuk aplikasi grafik, youtube, Online-Games dan streaming video. Umumnya Netbook lama masih memakai operating system Windows XP yang sangat membebani kecepatan processing komputer.

Revolusi PC ini dipicu oleh sebuah kombinasi CPU ARM yang canggih yang biasa dipakai di HP dan Smartphone atau PDA dengan Operating System LINUX. Dengan harga CPU ARM sebesar US$20 dan Operating System dan Aplikasi Linux sebesar US$3 (kalau pakai Windows XP harganya US$25), maka kombinasi ini akan memunculkan Netbook baru yang sangat kompetitif. Dibandingkan dengan processor ATOM, maka processor ARM adalah jauh lebih canggih, cepat dan energy-efficient. Oleh karena itu Netbook baru ini akan dapat bertahan selam satu hari tanpa recharging battery. Processor canggih lainnya yang juga berpotensi adalah Snapdragon, yang akan dipakai oleh Acer, Samsung, LG dan Asustek.

Jen-Hsun Huang, CEO vendor sistem grafik Nvidia meramalkan bahwa era PC lama akan mati dan digantikan oleh era Netbook canggih, tipis dan sangat murah, berukuran 10-12 inchi. Cita-cita Nicholas Negroponte, pendiri Asosiasi One LapTop per Child (OLTP) seharga US$99 akan ter-realisir dalam tahun 2009 ini juga.

Raksasa Industri PC yang akan terpengaruh oleh revolusi Netboo kali ini adalah Microsoft dan Intel. Pada Kwartal Akhir tahun 2008 Microsof untuk pertama kali dalam sejarahnya mengalami penurunan penjualan software-nya.

Vendor lainnya yang juga akan terpengaruh adalah Apple dengan 3G iPhone-nya dan Blackberry yang sangat mahal harganya namun dengan fitur grafik terbatas dan layar yang sangat sempit. Perangkat-perangkat ini hanya bagus untuk baca email dan chatting. Hanya bagus untuk prestise dan penampilan sebagai Eksekutif yang tidak Gaptek.

Apa bukti dan tanda-tandanya bahwa Netbook baru ini akan mendominasi pasar?

Operator Telekomunikasi AS AT&T minggu ini menawarkan kepada pelanggannya sebuah Netbook seharga US$50 asalkan mereka mau mem-bundel dengan kontrak layanan jasa Internet. Malah sudah ada satu operator lainya di AS yang menawarkan Netbook gratis asal mereka menandatangani kontrak layana data, seperti yang telah dilakukan oleh operator di Jepang saat ini.

Diramalkan bahwa Netbook baru ini akan menguasai pasar PC sampai 10% dalam tahun 2009.

Munculnya Netbook baru ini juga dapat menjawab keinginan MENDIKNAS Bambang Sudibyo agar para guru dan murid-murid sekolah memiliki masing-masing sebuah Netbook yang murah namun canggih dan bermanfaat dalam mencerdaskan bangsa.

Silahkan ditanggapi.