Archive for October, 2010

Mbah Maridjan

Mbah Maridjan

Sang Juru Kunci Gunung Merapi yang legendaris, Mbah Maridjan, yang foto-foto iklannya sampai saat ini menghiasi iklan “JOSS” bus-bus kota di Ibukota Jakarta sebagai seorang yang “kuat” atau “rosa” yang dapat mengendalikan perilaku Gunung Merapi agar tidak membahayakan penduduk yang tinggal di kaki gunung itu, akhirnya harus menghadap Sang Maha Kuasa, Allah SWT, setelah perjuangannya yang ingin tetap bertahan di rumah beliau di kaki gunung itu gagal, tidak sanggup menahan panasnya abu gunung itu yang mencapai lebih dari 600 derajat Celsius. Beliau gugur di medan tugas dalam posisi bersujud.

Ada anggota masyarakat yang mengusulkan agar beliau diangkat sebagai seorang pahlawan bangsa, namun ada pula yang menganggap bahwa beliau tidak mematuhi titah Sultan Hamengku Buwono X untuk segera turun gunung untuk menghindarkan panasnya si “Wedus Gembel“, awan panas yang akan segera menerjang desa dimana beliau tinggal. Akibatnya ada 11 orang lagi yang ikut tewas bersama beliau, ketika sedang berupaya untuk membujuk beliau agar segera turun gunung, diantaranya adalah wartawan dari Viva News, anggota Polri dan anggota PMI.

Namun ada pula anggota masyarakat yang menganggap bahwa tindakan beliau adalah gegabah dan sombong, menentang hukum alam. Tetapi anehnya, ada seorang tetangga beliau beserta keluarganya yang selamat tanpa cacad, keluar hidup-hidup dari reruntuhan rumah mereka karena sang istri mendapatkan wahyu atau bisikan Illahi untuk memakai mukenah, bantal dan kasur untuk melindungi diri mereka dari panasnya abu gunung Merapi. Keluarga ini adalah keluarga Bapak Ponimin yang fotonya telah menghias media-media TV dan koran Nasional, sebagai seorang calon pengganti Mbah Maridjan.

Ponimin calon Pemngganti Maridjan

Ponimin calon Jurukunci

Ada sebagian masyarakat menganggap bahwa selamatnya Pak Ponimin sekeluarga dari panasnya abu Gunung Merapi adalah karena suatu mukjizat. Namun dapat pula kejadian ini dijelaskan secara ilmiah, karena abu gunung Merapi yang panas itu setelah menyentuh bumi, atap rumah, batu2an, dan pepohonan, akan mengalirkan panasnya kepada benda-benda itu. Proses ini berlangsung sekitar 15-menit-an, setelah itu secara hukum fisika, abu gunung itu akan turun temperatur-nya ke temperatur udara sekelilingnya kembali, sekitar 25 derajat Celsius atau kurang.

Asalkan atap rumah atau genteng rumah tidak rontok dan jatuh kebawah, maka panas dari abu Merapi itu akan berubah menjadi radiasi yang turun ke bawah. Bila tubuh kita dislimuti oleh mukenah, bantal atau kasur, maka radiasi panas itu tidak akan melukai tubuh kita, sebab radiasi panas itu tertahan oleh bahan2 yang menghambat aliran panas, seperti tersebut diatas.

Jadi kesimpulannya, kita sebenarnya bisa membantu menyelamatkan para penduduk yang tinggal di kaki gunung Merapi itu, dengan meminta mereka untuk membangun bunker dibawah lantai rumah-rumah mereka dengan ukuran 2 meter x 2 meter sedalam 2 meter, dimana dinding-dindingnya dilapisi oleh bahan penghambat radiasi panas, seperti kapas, kain, bantal, kasur atau serat silikon, dll.

Ini sebuah langkah yang tepat, asalkan para penduduk itu tidak tingal lebih dekat dari 3-km dari puncak Gunung Merapi, sebab bila terlalu dekat, maka yang jatuh ke rumah2 mereka bukan “wedus gembel” atau awan panas, melainkan batuan-batuan panas yang dapat menembus genteng dan memecahkannya, kemudian melukai para penghuni rumah itu.

Solusi ini mungkin lebih baik dari pada solusi yang diberikan pada saat ini, dimana semua penduduk yang ada di radius 10-km dari Merapi harus mengungsi untuk jangka waktu yang lama, sekitar 1-bulan, sampai Gunung Merapi benarbenar beristirahat. Ini tentu akan memakan biaya mahal, dan mempersulit kehidupan mereka se-hari-hari, untuk makan, minum, tidur, dan bekerja mencari nafkah.

Dengan solusi membangun bunker-bunker dibawah lantai mereka untuk rumah-rumah diluar radius 3-km, maka mayoritas penduduk masih dapat beraktivitas seperti biasanya, sementara itu mereka sewaktu-waktu juga siap bersembunyi didalam bunker, bila “wedus gembel” tiba menghampiri mereka.

Silahkan ditanggapi dan dicoba dilapangan.

Gempa di Kepulauan Mentawai yang menimbulkan lebih dari 400 orang tewas perlu di carikan solusinya agar hal serupa tidak akan terulang kembali. Sebenarnya masyarakat Kepulauan Mentawai sudah memiliki pengamanan dari Tsunami secara tradisional turun-temurun dari Nenek-moyang mereka, yaitu aturan penyelamatan diri, begitu ada gempa, semuanya lari secepat-cepatnya menuju ke bukit atau tanah tinggi didekat desa atau kampung mereka.

Benteng Tsunami

Benteng Tsunami

Tenyata Sistem Peringatan Dini Tradisionil tersebut diatas itu lebih efektif dari pada menunggu pengumuman dari Sistem Tsunami Early Warning System (EWS) yang khabarnya telah dipasang di Pantai Barat Sumatra dengan bantuan asing yang nilainya beberapa juta Dollar AS. Pengumuman EWS ini disalurkan melalui jaringan komunikasi Telpon dan SMS, yang tentunya akan memakan waktu 10-20 menit paling tidak.

Dalam kasus Tsunami di Kepulauan Mentawai, terutama Pulau Pagai Utara dan Pulau Pagai Selatan, gelombang Tsunami datang begitu cepat, sekitar 15 menit setelah terjadinya gempa. Anehnya, BMKG malah mengumumkan setelah 30-menit kemudian, bahwa gempai itu tidak akan menimbulkan bahaya Tsunami, seperti dapat kita saksikan dari tayangan-tayangan TV-One dan Metro TV. Sepertinya ada yang salah dalam Sistem EWS yang ada saat ini.

Dalam kasus Tsunami di Kepulauan Mentawai ini, waktu 15-menit memang tidak cukup untuk memberikan tanda bahaya ke desa-desa terpencil di Kepulauan Mentawai itu, apapun sistem elektronik yang dibangun.

Oleh karena itu Pemerintah hendaknya men-sosialisasikan Sistem Peringatan Dini Tsunami Tradisional saja seperti yang diwariskan Nenek-moyang Penduduk Kepulauan Mentawai itu, dari pada mencoba mengandalkan EWS made in Luar negeri, yang biaya Investasi dan Pemeliharaannya sangat mahal, namun tidak banyak gunanya.

Untuk lokasi-lokasi yang jauh dari perbukitan, kami menyarankan agar Pemerintah membangun Benteng2 Tsunami dengan ukuran 100 meter x 100 meter dan yang ketingginya 10-meter dan bentuknya segi-4 Ketupat, dimana ujung runcing Ketupat itu menghadap kelaut agar mengurangi tekanan gelombang Tsunami terhadap Benteng itu.

Semoga mendapat sambutan yang positif dari Pemerintah dan Pemda di wilayah-wilayah yang rawan Tsunami di Indonesia.