Tsunami Early Warning System tidak efektif. Pakai cara tradisionil saja.

Posted: October 30, 2010 in Benteng Tsunami lebih efektif dari EWS
Tags: , ,

Gempa di Kepulauan Mentawai yang menimbulkan lebih dari 400 orang tewas perlu di carikan solusinya agar hal serupa tidak akan terulang kembali. Sebenarnya masyarakat Kepulauan Mentawai sudah memiliki pengamanan dari Tsunami secara tradisional turun-temurun dari Nenek-moyang mereka, yaitu aturan penyelamatan diri, begitu ada gempa, semuanya lari secepat-cepatnya menuju ke bukit atau tanah tinggi didekat desa atau kampung mereka.

Benteng Tsunami

Benteng Tsunami

Tenyata Sistem Peringatan Dini Tradisionil tersebut diatas itu lebih efektif dari pada menunggu pengumuman dari Sistem Tsunami Early Warning System (EWS) yang khabarnya telah dipasang di Pantai Barat Sumatra dengan bantuan asing yang nilainya beberapa juta Dollar AS. Pengumuman EWS ini disalurkan melalui jaringan komunikasi Telpon dan SMS, yang tentunya akan memakan waktu 10-20 menit paling tidak.

Dalam kasus Tsunami di Kepulauan Mentawai, terutama Pulau Pagai Utara dan Pulau Pagai Selatan, gelombang Tsunami datang begitu cepat, sekitar 15 menit setelah terjadinya gempa. Anehnya, BMKG malah mengumumkan setelah 30-menit kemudian, bahwa gempai itu tidak akan menimbulkan bahaya Tsunami, seperti dapat kita saksikan dari tayangan-tayangan TV-One dan Metro TV. Sepertinya ada yang salah dalam Sistem EWS yang ada saat ini.

Dalam kasus Tsunami di Kepulauan Mentawai ini, waktu 15-menit memang tidak cukup untuk memberikan tanda bahaya ke desa-desa terpencil di Kepulauan Mentawai itu, apapun sistem elektronik yang dibangun.

Oleh karena itu Pemerintah hendaknya men-sosialisasikan Sistem Peringatan Dini Tsunami Tradisional saja seperti yang diwariskan Nenek-moyang Penduduk Kepulauan Mentawai itu, dari pada mencoba mengandalkan EWS made in Luar negeri, yang biaya Investasi dan Pemeliharaannya sangat mahal, namun tidak banyak gunanya.

Untuk lokasi-lokasi yang jauh dari perbukitan, kami menyarankan agar Pemerintah membangun Benteng2 Tsunami dengan ukuran 100 meter x 100 meter dan yang ketingginya 10-meter dan bentuknya segi-4 Ketupat, dimana ujung runcing Ketupat itu menghadap kelaut agar mengurangi tekanan gelombang Tsunami terhadap Benteng itu.

Semoga mendapat sambutan yang positif dari Pemerintah dan Pemda di wilayah-wilayah yang rawan Tsunami di Indonesia.

Comments
  1. Joko Sutarto says:

    Saya mendukung. Ini saran yang perlu dipertimbangkan, Pak Roestam. Perlu dievaluasi kembali alert Tsunami EWS yang kita miliki sekarang ini. Sudah pasang mahal-mahal tapi ternyata tetap tak efektif.

    Yang tidak saya dukung saran seperti Pak Marzuki itu, yang menyuruh pindah dari pulau-pulau rawan Tsunami. Ini bukan solusi tapi lari dari masalah.😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s