Bagaimanakan menghindarkan korban2 Letusan Gunung Merapi? Bunker tahan Api.

Posted: October 31, 2010 in Bunker tahan api bagi penduduk di kaki gunung api
Tags: , ,

Mbah Maridjan

Mbah Maridjan

Sang Juru Kunci Gunung Merapi yang legendaris, Mbah Maridjan, yang foto-foto iklannya sampai saat ini menghiasi iklan “JOSS” bus-bus kota di Ibukota Jakarta sebagai seorang yang “kuat” atau “rosa” yang dapat mengendalikan perilaku Gunung Merapi agar tidak membahayakan penduduk yang tinggal di kaki gunung itu, akhirnya harus menghadap Sang Maha Kuasa, Allah SWT, setelah perjuangannya yang ingin tetap bertahan di rumah beliau di kaki gunung itu gagal, tidak sanggup menahan panasnya abu gunung itu yang mencapai lebih dari 600 derajat Celsius. Beliau gugur di medan tugas dalam posisi bersujud.

Ada anggota masyarakat yang mengusulkan agar beliau diangkat sebagai seorang pahlawan bangsa, namun ada pula yang menganggap bahwa beliau tidak mematuhi titah Sultan Hamengku Buwono X untuk segera turun gunung untuk menghindarkan panasnya si “Wedus Gembel“, awan panas yang akan segera menerjang desa dimana beliau tinggal. Akibatnya ada 11 orang lagi yang ikut tewas bersama beliau, ketika sedang berupaya untuk membujuk beliau agar segera turun gunung, diantaranya adalah wartawan dari Viva News, anggota Polri dan anggota PMI.

Namun ada pula anggota masyarakat yang menganggap bahwa tindakan beliau adalah gegabah dan sombong, menentang hukum alam. Tetapi anehnya, ada seorang tetangga beliau beserta keluarganya yang selamat tanpa cacad, keluar hidup-hidup dari reruntuhan rumah mereka karena sang istri mendapatkan wahyu atau bisikan Illahi untuk memakai mukenah, bantal dan kasur untuk melindungi diri mereka dari panasnya abu gunung Merapi. Keluarga ini adalah keluarga Bapak Ponimin yang fotonya telah menghias media-media TV dan koran Nasional, sebagai seorang calon pengganti Mbah Maridjan.

Ponimin calon Pemngganti Maridjan

Ponimin calon Jurukunci

Ada sebagian masyarakat menganggap bahwa selamatnya Pak Ponimin sekeluarga dari panasnya abu Gunung Merapi adalah karena suatu mukjizat. Namun dapat pula kejadian ini dijelaskan secara ilmiah, karena abu gunung Merapi yang panas itu setelah menyentuh bumi, atap rumah, batu2an, dan pepohonan, akan mengalirkan panasnya kepada benda-benda itu. Proses ini berlangsung sekitar 15-menit-an, setelah itu secara hukum fisika, abu gunung itu akan turun temperatur-nya ke temperatur udara sekelilingnya kembali, sekitar 25 derajat Celsius atau kurang.

Asalkan atap rumah atau genteng rumah tidak rontok dan jatuh kebawah, maka panas dari abu Merapi itu akan berubah menjadi radiasi yang turun ke bawah. Bila tubuh kita dislimuti oleh mukenah, bantal atau kasur, maka radiasi panas itu tidak akan melukai tubuh kita, sebab radiasi panas itu tertahan oleh bahan2 yang menghambat aliran panas, seperti tersebut diatas.

Jadi kesimpulannya, kita sebenarnya bisa membantu menyelamatkan para penduduk yang tinggal di kaki gunung Merapi itu, dengan meminta mereka untuk membangun bunker dibawah lantai rumah-rumah mereka dengan ukuran 2 meter x 2 meter sedalam 2 meter, dimana dinding-dindingnya dilapisi oleh bahan penghambat radiasi panas, seperti kapas, kain, bantal, kasur atau serat silikon, dll.

Ini sebuah langkah yang tepat, asalkan para penduduk itu tidak tingal lebih dekat dari 3-km dari puncak Gunung Merapi, sebab bila terlalu dekat, maka yang jatuh ke rumah2 mereka bukan “wedus gembel” atau awan panas, melainkan batuan-batuan panas yang dapat menembus genteng dan memecahkannya, kemudian melukai para penghuni rumah itu.

Solusi ini mungkin lebih baik dari pada solusi yang diberikan pada saat ini, dimana semua penduduk yang ada di radius 10-km dari Merapi harus mengungsi untuk jangka waktu yang lama, sekitar 1-bulan, sampai Gunung Merapi benarbenar beristirahat. Ini tentu akan memakan biaya mahal, dan mempersulit kehidupan mereka se-hari-hari, untuk makan, minum, tidur, dan bekerja mencari nafkah.

Dengan solusi membangun bunker-bunker dibawah lantai mereka untuk rumah-rumah diluar radius 3-km, maka mayoritas penduduk masih dapat beraktivitas seperti biasanya, sementara itu mereka sewaktu-waktu juga siap bersembunyi didalam bunker, bila “wedus gembel” tiba menghampiri mereka.

Silahkan ditanggapi dan dicoba dilapangan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s