Jarak Tidak Cocok sebagai Energi Alternatif?

Posted: February 8, 2012 in Energi Alternatif
Tags: , , ,

Sekitar enam tahun lalu marak fenomena pencarian energi alternatif untuk mengatasi kekurangan bahan bakar konvesional seperti minyak dan lain-lain. Salah satu sumber energi alternatif adalah jarak pagar atau jatropha curcas. Jarak ini dikatakan berpotensi besar dan ramah lingkungan. Benarkah demikian?

Menurut Henky Widjaja mahasisa S3 di bidang agriculture beyond food atau pertanian non pangan, dua-duanya tidak benar.

Lebih lanjut ia  menjelaskan, sekitar tahun 2005 ada cetak biru pemerintah Republik Indonesia tentang energi alternatif. “Tanaman-tanaman yang dikembangkan itu adalah ubi kayu, jagung, tebu, kelapa sawit dan tanaman jarak, yang menjadi sumber bahan baku pembuatan bahan bakar nabati. Dan tanaman jarak mendapat dukungan utama,” katanya kepada Radio Nederland.

Alasan yang disebut saat itu adalah bahwa tanaman jarak sangat cocok bagi daerah pinggiran atau marginal. “Daerah marginal, daerah yang tanahnya tandus, itu cocok ditanami tanaman jarak,” katanya menirukan ucapan para pendukung jarak sebagai sumber energi alternatif.

Euforia

Bukan hanya pemerintah Indonesia yang mendukung jarak sebagai sumber alternatif, tapi juga dunia internasional. Dukungan global masa itu menjadi semacam euforia. Malah ada yang menyebut tananam jarak sebagai tanaman proletar atau tanaman untuk rakyat miskin, jelas ilmuwan yang melakukan studinya di Belanda ini.

Pada tahun 2006 pemerintah RI menyediakan dana khusus untuk menggalakkan penelitian potensi tanaman jarak sebagai sumber energi nabati. Dan investasi pun digalakkan, sehingga orang berlomba-lomba untuk terlibat. Namun Henky meragukan motif mereka. Ia menilai mereka ikut-ikutan karena mau meraih subsidi, bukan motif komersial yang murni.

“Motif komersial yang murni tidak ada. Dan lebih digerakkan oleh motif untuk mendapat subsidi,” jelasnya.

Henky menambahkan sebagai contoh, pernah ada investor dari Belanda  yang menawarkan MoU di Indonesia, demi uang, bukan  untuk ditindaklanjuti. “Karena MoU itu sendiri sudah menghasilkan uang,” jelas Hengky.

Produktivitas

Menurut para pendukung, tanaman jarak per hektar bisa menghasilkan sampai sembilan ton per tahun. Namun menurut Henky Widjaja, berdasarkan penelitian, bukan hanya di Indonesia, tapi juga di luar negeri, maksimal hasilnya hanya 400 kg.

Ilmuwan asal Sulawesi Selatan ini juga mengkritik cara pihak-pihak terkait menyebar informasi. Menurut dia, baik aktor internasional maupun aktor lokal melakukan manipulasi dan eksploitasi penduduk lokal. Misalnya warga ditawari bibit unggulan dengan harga mahal, padahal bibit unggulan untuk jarak sampai sekarang sebenarnya tidak ada, tambahnya.

Selain itu jarak yang dikampanyekan juga tidak jelas jenisnya. Para petani mengira jarak pagar yang dimaksudkan adalah jarak yang dulu pernah digalakkan Jepang pada akhir masa penjahanan Jepang dulu.

Menurut Henky tidak jelas apakah jarak yang digalakkan ditanam oleh mantan penjajah Indonesia itu jarak pagar atau jenis lain. “Apakah itu jarak pagar atau jarak kastor,” ia bertanya-tanya.

Tidak ramah lingkungan

Terakhir Henky menilai penanaman jarak pagar tidak ramah lingkungan sama sekali. Untuk memenuhi sepuluh persen kebutuhan konsumsi solar di Indonesia diperlukan berhektar-hektar lahan tanaman jarak.

Ini akan ada akibatnya bagi lahan produktif. Karena supaya produktif, jarak juga harus ditanam di lahan produktif. Selain itu, tambah Henky, para petani di daerah marginal banyak tertipu. Setelah mereka ramai-ramai meninggalkan tradisi menanam ubi kayu untuk menggeluti tanaman jarak, beberapa tahun kemudian, ternyata hasilnya tidak memadai.

Sejak tahun 1997 Dr. Robert Manurung dari Institut Teknologi Bandung (ITB) meneliti ektraksi minyak dari tanaman jarak. Sejak tahun 2004, penelitian ini mendapat dukungan dari Mitsubishi Research Institute (Miri) dan New Energy and Industrial Technology Development Organization (NEDO) dari Jepang.

Menghadapi krisis BBM dan kenaikan harga BBM di Indonesia, Pemerintah mulai menggali sumber-sumber energi alternatif. Minyak jarak ini pun mulai mendapatkan perhatian serius dari Pemerintah.

Peluang pasar minyak jarak ini cukup terbuka dengan munculnya pernyataan Direktur Utama Pertamina yang menyebutkan bahwa Pertamina siap menampung minyak jarak dari masyarakat untuk diproses lebih lanjut sebagai Biodiesel.

Bahkan Jepang yang terikat komitmen Protokol Kyoto bersiap-siap membeli produk energi alternatif dari minyak jarak ini.

Sumber: http://www.irwantoshut.net/info_jarak.html

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s