Archive for the ‘Cheap Laptop’ Category

Diskusi TIK Des07

Diskusi Akhir Tahun Telematika 2007 diselenggarakan pada hari Kamis, 27 Desember 2007 di Ruang Sawala Gedung Utama Dept. Keuangan R.I. atas prakarsa Bapak Eddy Satiya, Asdep bidang Telematika dan Infrastruktur Menko Perekonomian, dan dibuka oleh Bapak Kemal Stamboel, Wakil Ketua Harian DeTIKNas.

Acara kemudian dilanjutkan dengan penyampaian pandangan oleh dua orang nara sumber, yaitu Bapak Giri Suseno, Ketua MASTEL dan Bapak Eddy Satriya.

Bapak Giri Suseno menyampaikan ulasan tentang filosofi dan pengertian Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), serta mencoba untuk menelaah keberhasilan atau kekurang berhasilan pengembangan TIK di Indonesia sebagai enabler pembangunan perekonomian di Indonesia selama ini.

Selanjutnya dalam acara diskusi dan tanya-jawab, pak Haitan Rahman menyampaikan tentang belum transparannya layanan publik di bidang Telematika, juga tentang belum adanya Repository Knowledge di Indonesia, dengan akibat hilangnya Knowledge ketika para Knowledge Workers ber-migrasi ke L.N. (Malaysia) karena alasan tidak adanya lagi tempat kerja mereka yang sesuai dengan keahlian mereka (contoh, PT Dirgantara Indonresia).

Pak Hartoyo yang dizaman Krismon tahun 1997 pernah sesumbar bahwa beliau bisa meningkatkan Kurs rupiah vs Dollar, US$1=Rp 1000,-, menyatakan bahwa Pemerintah adalah bagian dari permasalahan di Indonesia. Beliau juga meng-kritik ketidak-hadiran Menko Budiono di acara ini, sebagai simbol ke-tidak adanya komitmen untuk beliau atas peran TIK selaku enabler untuk memajukan perekonomiasn Indonesia.

Senada dengan pak Hartoyo, pak Setyanto P Santosa, mantan Diruttel, menyatakan bahwa diperlukan e-Leadership di bidang TIK bila ingin keberhasilan peran TIK dalam memajukan perekonomian bangsa. E-Leadership dalam TIK yang dapat dicontoh adalah sebagaimana ditunjukkan oleh mantan Perdana Menteri Malaysia Mahatir Muhammad, diamana beliau secara pribadi memang memanfaatkan dan menghayati kegunaan TIK dalam meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja. Beliau memiliki visi yang jelas bagaimana mengembangkan TIK di negerinya.

Pak Setyanto juga menyatakan bahwa Proyek Serat Optik Palapa Ring perlu ditinjau ulang, mengingat kita belum mengoptimalkan penggunaan Satelit yang kita miliki. Untuk jarak jauh, Satelit lebih cost-effective dibandingkan dengan Serat Optik, terutama juga mengingat kebutuhan akan bandwidth di Indonesia Timur belum terlalu besar untuk saat ini.

Pak Wahyu yang mewakili APJII menyatakan keheranannya, bahwa ditingkat perencana, BAPPENAS tidak bisa menunjukkan dimana posting-nya dan berapa besarnya anggaran TIK Pemerintah. Rupanya anggaran TIK itu terbenam dalam pos-pos anggaran lainnya, bukan spesifik anggaran TIK.

Perihal masih mahalnya tariff Internet di Indonesia, pak Wahyu menjelaskan bahwa profit margin perusahaan-perusahaan anggota APJII sudah sangat tipis, sehingga penurunan tarif Internet hanya bisa dilakukan oleh para Operator yang memiliki jaringan backbone (dengan profit margin yang besar).

Pak Barata dari INDOWLI menyampaikan keluhannya bahwa sudah lebih dari 2 tahun perijinan baru Jaringan Akses Wireless di-bekukan, sehingga banyak pengusaha yang kehilangan kesempatan berusaha.

Pak Benny Nasution mengingatkan bahwa Rencana Pembangunan Palapa Ring yang ibarat Jalan Toll, belum sinkron dengan rencana pembangunan Feederline-nya, yaitu akses jaringan ke para calon pengguna.

Pak Srijanto mengingatkan agar dalam pelaksanaan Proyek USO, jangan sampai menjurus ke “akal-akalan“, tidak sesuai dengan ketentuan Undang-Undang, sebab menurutnya, Proyek USO 1 dan 2 dianggap gagal.

Pak San Herib dari PT Pos Indonesia menawarkan jaringan fisik PT Pos Indonesia dalam layanan USO, karena menjangkau banyak lokasi-lokasi pedesaan yang terpencil.

Ibu Dayu dari INDOSAT menyarankan agar tarif BHP didasarkan atas pemakaian Bandwidth sesuai perijinannya, sehingga pihak Ditjen Postel tidak teralu di-repotkan dengan survey dan inspeksi lapangan.

Ibu Dayu juga menyarankan agar Regulator Indonesia melakukan Benchmarking dengan negara-negara lain (Australia), contohnya, Perangkat Payphone disediakan dengan menggunakan teknologi baru, bukan teknologi yang lama.

Pak Rahman dari LSM Pejuang Tanpa Akhir, mengingatkan agar berhati-hati dalam menerapkan modernisasi, jangan sampai kita hanya menjadi ajang “pemerasan” asing.

Pak Naswil Idris dari APWKomitel mempertanyakan angka-angka yang sering di-quote para pejabat yang diragukan kebenarannya, seperti tingkat pembajakan yang sebesar 87% dan jumlah pengguna Internet yang 25 juta orang.

Ibu Nies dari XL meminta konfirmasi apakah Peraturan Perundangan tentang kepemilikan Asing berlaku surut atau tidak?

Pak Sunyoto dari UGM menyarankan agar masyarakat dipersiapkan secara matang agar bisa menerima kemajuan TIK. Contohnya, Yogya sudah menerapkan e-Gov, tetapi tetap saja para Pejabat diharuskan baca e-mail lewat sekreataris-nya, karena e-mail itu harus di-arsipkan dulu nomor-nya.

Pak Sumitro Roestam dari MASTEL meneruskan kritik dari Dr. Ir. Taufik Hasan, mantan Kapuslitbangtel, bahwa pemanfaatan TIK di Indonesia sangat lambat, sehingga banyak sekali Opportunity yang hilang untuk memajukan bangsa ini.

Pak Sumitro juga menyarankan agar sinkronisasi dan koordinasi antar Departemen, Instansi dan Lembaga Pemerintahan lebih ditingkatkan, agar tidak terjadi tumpang tindih atau duplikasi dalam pemanfaatan TIK di Indonesia.

Dipertanyakan pula perihal Flagship DeTIKNas yang hanya dilaporkan yang 7-butir saja, padahal yang 9-butir lagi juga cukup penting atau strategis, misalnya Program Cheap PC, yang bila dilaksanakan sebagai produk nasional akan dapat membangkitkan Industri Manufacturing dan Software Dalam Negeri.

Pak Sumitro juga mengimbau agar para Penyelenggara Jaringan Backbone Internet untuk menurunkan tariff jasa mereka, mengingat ROE atau EBITDA mereka sangat tinggi. Ini juga menjadi perhatian KPPU dengan keputusannya agar menurunkan tarif jasa sampai 15%.

Akhirnya pak Sumitro menyarankan agar segera diterapkan budaya bekerja jarak jauh (Telcommuting, Teleworking) atau kerja dari rumah (Home Working), mengingat sudah banyak tersedia berbagai jaringan akses Internet, seperti Broadband Wireless (WiFi, 3G, 3.5G/HSDPA), Broadband Wirelines (Serat Optik, ADSL-Speedy), maupun dial-up Internet di Indonesia dengan tarif yang terjangkau. Disamping itu sudah ada lebih dari 5.000 warnet yang dapat digunakan utuk akses murah Internet. Keuntungannya, jalan-jalan di kota-kota besar menjadi tidak macet lagi, konsumsi BBM menurun, Pemerintah tidak perlu menaikkan harga BBM, lebih banyak lagi waktu untuk bekerja (tidak pelu buang waktu karena macet 3-jam tiap hari), sehingga produktivitas nasional meningkat.

Pak Djiwatampu menyarankan kepada pak Setyanto agar mengikuti Milis Telematika, agar mengetahui perkembangan Proyek Palapa Ring.

Akhirnya pak Kemal Stamboel, Pak Heru, pak Ismail dan pak Cahyana mewakili Pemerintah mencoba menjawab dan menjelaskan posisi Pemerintah/Regulator tentang berbagai masalah dan saran-saran yang disampaikan dari audience.

Diskusi ditutup pada sekitar pukul 14:00 WIB dan dlanjutkan dengan makan siang bersama.
Semoga catatan hasil Diskusi Akhir Tahun Telematika ini dapat memberikan manfaat bagi kemajuan bangsa dan negara.

Proyek OLTP adalah sebuah proyek mulia yang dicetuskan oleh Prof. Nicholas Negroponte dari MIT untuk mendonasikan sebuah Laptop bagi anak2 di negara berkembang dalam rangka pengentasan kemiskinan.

Inisiatif Prof. Negroponte ini diumumkan di World Economic Forum tahun 2005, dengan dukungan dari AMD, Google, Brightstar dan Red Hat. Pada bulan Desember 2005 Quanta Computer bersedia memproduksi OLPC seharga US$200. Produksi massal OLPC baru dimulai November 2007 ini, sebab pencarian dana kurang mendapat response dari banyak negara.

Untuk menanggulangi masalah dana ini Yayasan OLPC (Foundation) membuat program selama bulan November 2007 penjualan OLPC dengan merek XO seharga US$399, dengan cara “Buy One Donate One”, yaitu pembeli beli US$399, dapat satu OLPC XO, dan satu lagi di-donasikan ke seorang anak di negara berkembang. Jadi uang yang US$200 dipakai untuk beli OLPC XO bagi anak miskin di negara2 berkembang. Iklan tentang OLPC XO ini dapat dilihat di website http://youtube.com.

OLPC XO ini telah mendapatkan sertifikasi keamanan dari beberapa negara, dan saat ini dapat dijual secara legal AS, Kanada, Uruguay, Peru dan beberapa negara lainnya. Sertifikasi dari European Union akan didapat pada minggu depan.

Terkait dengan program OLPC Prof. Negroponte ini, melalui forum ini saya ingin menanyakan bagaimanakah kelanjutan dari Flagship DeTIKNas #11 “Cheap PC”? Apakah masih akan dilanjutkan ataukah telah dihapus dari program kerja DeTIKNas?

Kalau dihapus, kami sangat menyayangkan hal ini. Namun kalau masih ada, silahkan di sosialisasikan kepada masyarakat luas, agar bila diperlukan dukungan pendanaan, dapat digalang dari masyarakat mampu atau perusahaan besar, seperti yang dilakukan oleh Yayasan OLPC Prof. Negroponte di AS, dengan cara “Buy One Donate One”

Tentu saja tidak harus pakai produk Quanta Computer merek XO ex Taiwan, tetapi bisa saja produksi Laptop murah karya anak2 bangsa, seperti gPC Everex yang saya posting di milis beberapa hari yang lalu.

Untuk menekan biaya, dapat dipakai Open Source software, seperti gOS yg berbasis Ubuntu v.7.10 dan aplikasi-aplikasi Open Office dan Firefox yang gratis.

Silahkan ditanggapi.

Everex gPC yang berbasiskan Linux Operating System gOS dengan prosesor 1.5GHz, Harddisk 80 Gbytes, RAM 512 Mbytes seharga kurang dari US$200 ternyata sangat laris dijual di supermarket Wal-Mart USA.

Kalau saja sudah tersedia di Indonesia, saya juga kepingin beli, untuk menggantikan PC Travelmate saya model 4000 yg sudah mulai batuk2, screen-nya sudah terbelah dua.

Pada saat ULTAH DeTIKNas minggu lalu, saya sampaikan ke para pimpinan DeTIKNas tentang adanya LapTop seharga kurang dari US$200, dengan maksud agar masuk dalam program Flagship DeTIKNas, yang memang sudah ada, yaitu Program Flagship Nomor 11 “Cheap PC Program”. Harapan saya, anggaran DEPDIKNAS yg ber-Trilyunan itu bisa disiskan sediki untuk beli PC murah ini, dan diberikan gratis kepada 1-juta siswa2 terpilih, agar mereka makin cepat pintar, karena bisa memanfaatkan teknologi TIK. Negara makin maju, dan kemakmuran makin cepat dicapainya.

Sayang sekali, pimpinan DeTIKNas tidak ada tanggapan, munkin karena terbatasnya waktu tanya-jawab.

Sekali lagi saya coba melalui forum ini, mudah2an bisa masuk dan diterima sebagai program nasional.

Tentu saja, kita harus pikirkan, kalau bisa produk PC/Laptop murah itu diproduksi di dalam negeri.

Silahkan dianggapi.