Archive for the ‘eWork’ Category

Android

Menyambung tulisan kami minggu lalu tentang usulan agar Indonesia menerapkan Telecommuting, eWork atau Home Working untuk menanggulangi kemacetan lalulintas di kota-kota besar, serta untuk mencegah kenaikan harga BBM Premium 90, maka kami sampaikan ulasan tentang Android, software stack untuk perangkat mobile, termasuk didalamnya Operating System, Middleware dan Aplikasi2 utama yang semuanya berbasis Open Source, sehingga para pengembang di seluruh dunia boleh ikut membuat apikasi2 baru dengan iming2 hadiah US$10 juta (untuk aplikasi2 yang terbaik). Inilah keunggulan Open Source software dibandingkan dengan Proprietary software, yg hanya dikembangkan oleh perusahaan pemilik software itu sendiri, makanya harga software-nya jadi mahal!

Hadiah sebesar US$10 juta ini disediakan oleh Google dalam kompetisi pembuatan aplikasi bernama “Android Developer Challenge” yang terbagi dalam 2 tahap, tahap Tahap I berakhir pada bulan Maret 2008 dengan hadiah US$25,000.- bagi masing-masing 50 pengembang pertama yang berhasil (total US$1,250,000.-).

Tahap II dimulai pada pertengahan tahun 2008, setelah tersedianya perangkat HP Android, dengan hadiah masing-masing sebesar US$257,000.- bagi 10 pemenang pertama, dan masing-masing sebesar US$100,000.- bagi 10 pemenang ke-dua (runner-up).

Android adalah proyek kelompok 30-an lebih operator dan perusahaan2 teknologi yang bernama Open Handset Alliance, dengan Google sebagai penyedia SDK (Software Developer’s Kit) dan bisa di download melali URL:

http://code.google.com/android/download.html

Aplikasi-aplikasi yang dapat dikembangkan pada platform Android adalah:

  • Social networking
  • Media consumption, management, editing, or sharing, e.g., photos
  • Productivity and collaboration such as email, IM, calendar, etc.
  • Gaming
  • News and information
  • Rethinking of traditional user interfaces
  • Use of mash-up functionality
  • Use of location-based services
  • Humanitarian benefits
  • Applications in service of global economic development
  • Whatever you’re excited about!

Contoh aplikasi Android dapat dilihat melalui tayangan Streaming Video Youtube para URL:

http://code.google.com/android

dimana Sergey Brin, penemu Youtube dan Steve Horowitz mendiskusikan tentang ketersediaan SDK dan contoh-contoh tayangan aplikasi Android pada Handphone.

SDK Android memberikan tools dan API (Aplication Programming Interface) yang diperlukan untuk membangun aplikasi Android menggunakan bahasa pemrograman Java. Feature-feature-nya adalah sbb:

  • Application framework enabling reuse and replacement of components
  • Dalvik virtual machine optimized for mobile devices
  • Integrated browser based on the open source WebKit engine
  • Optimized graphics powered by a custom 2D graphics library; 3D graphics based on the OpenGL ES 1.0 specification (hardware acceleration optional)
  • SQLite for structured data storage
  • Media support for common audio, video, and still image formats (MPEG4, H.264, MP3, AAC, AMR, JPG, PNG, GIF)
  • GSM Telephony (hardware dependent)
  • Bluetooth, EDGE, 3G, and WiFi (hardware dependent)
  • Camera, GPS, compass, and accelerometer (hardware dependent)
  • Rich development environment including a device emulator, tools for debugging, memory and performance profiling, and a plugin for the Eclipse IDE

HP yang terpasang aplikasi Android akan dapat mengakses Internet melalui berbagai medium, yaitu Bluetooth, EDGE, 3G, 3.5G (HSDPA) dan WiFi, sehingga HP ini akan menjadi pilihan pertama para pemakai untuk melakukan Telecommuting, eWork atau Home Working, sebab dengan perangkat mobile tersebut pekerjaan tersebut menjadi sangat mudah dan convenient, dari pada keribetan untuk menenteng Laptop dan menghidupkannya.

Dipersilahkan kepada adik-adik yang kreatif dan innovatif, para anggota JUG (Java User Group) terutama sdr. Frans Thamura untuk mengikuti sayembara pembuatan aplikasi Android ini, sehingga bila menang, dapat memperoleh biaya hidup yang cukup untuk satu tahun.

Silahkan dipelajari dan ditanggapi.

Advertisements

Telecommuting

Kemacetan lalulintas di kota2 besar sudah menjadi bahagian hidup para Birokrat, Eksekutif dan Karyawan. Naik KA+Ojek adalah salah satu solusi untuk menghindari kemacetan lalulintas di Jakarta dan kota2 besar lainnya.

Namun ketika Jakarta Banjir, dan mulai 1 Jan 2008 Bensin Premium (dari Oktan 88 ke 90) harganya naik ke Rp6.250,-/liter, dan ketika semua orang rame2 naik KA, apakah KA-nya masih bisa menampung muatan penumpang? Kalau bensin naik, tentu Ojeknya juga akan naik sewanya.

Apakah solusi Pemerintah menaikkan harga Bensin Premium dan memindahkan Stasion Pompa Premium bersubsidi (Harga lama) ke luar kota sudah merupakan pilihan yg terbaik? Bagaimana kalau para pemilik/pengemudi mobil berusaha beli bensin murah di luar kota, apakah ini tidak menambah kemacetan lalulintas, serta kehilangan jam kerja/produktivitas kerja secara nasional? Masyarakat akan makin lebih dirugikan!

Solusi yang kami tawarkan untuk mengatasi kemacetan lalulintas, serta untuk mengurangi konsumsi BBM bersubsidi (dengan demikian, tidak perlu menaikkan harga Bensin Premium) adalah melalui perubahan budaya kerja, dari berkantor tiap hari, menjadi berkantor bila diperlukan saja.

Sebagai gantinya, para karyawan harus berkomunikasi atau menyampaikan laporan hasil kerjanya via jaringan Telekomunikasi/Internet yg sudah tergelar luas di banyak kota2 besar (yg sering macet).

  • Kalau tidak punya jaringan Internet, bisa datang ke warnet, biaya Rp3000-5000 per jam.
  • Kalau mau dan tersedia di wilayahnya, bisa sewa Jaringan Broadband Internet Rp250.000,-/bulan, Flat Rate, atau kurang.
  • Lebih baik lagi sewa Jaringan 3G/3.5G/HSDPA dari para Operator Seluler (INDOSAT, TELKOMSEL, XL, 3, Fren) dengan biaya Rp350.000/bulan atau kurang.
  • dan jaringan akses lainnya (ADSL, dialup, serat optik, kabel listrik-power line communications, FWA).

Dengan makin berkurangnya para karyawan yg ber-lalulalang di jalan2 Jakarta/kota besar lain, maka jalan2 menjadi lancar, tidak macet. Perjalanan ke Kantor (bila diperlukan saja) menjadi efisien dalam waktu dan biaya (bensin). Karyawan tidak lagi stress karena lalulintas macet,
dll keuntungan.

Budaya kerja baru ini dinamakan Home Working, atau Telecommuting atau eWork.
Tentu tidak semua pekerjaan bisa dilakukan di rumah, namun mayoritasnya bisa. Marilah kita terapkan terhadap pekerjaan kita sendiri. Kalau mau komunikasi dengan atasan, bisa via VoIP yg gratis (antar komputer), seperti Skype yg softwarenya bisa didownload gratis.

Kalau kita kerja di rumah, jam kerjanya meningkat, sebab tidak perlu lagi waktu untuk perjalanan. Kita kalau mau bisa kerja 24-jam sehari, 7-hari per minggu (bila ada deadline pekerjaan). Jadi produktivitas kerja meningkat.

Berapakah kira2 cost savings yang akan kita peroleh?
Dari sekitar 1-juta karyawan yang melaksanakan Telecommuting, maka akan diperoleh penghematan biaya transport rata2= Rp25.000 x 1-juta = Rp25 Milyar x 300 hari= Rp7,5 Trilyun per Tahun.

Dari penghematan waktu perjalanan pulang-pergi ke kantor rata2 3-jam/hari, maka ada penghematan produktivias karyawan sebesar Rp2000/jam x 3-jam x 300 hari x 1-juta karyawan = Rp 18 Trilyun (asumsi, Upah rata2/per jam/karyawan = Rp2000,-)

Bila Premium 90 tidak naik harganya, maka akan ada pengurangan biaya bagi masyarakat sebesar (Rp6.250-Rp4.500)/liter X 10 liter/karyawan x 1-juta karyawan = Rp17,5 Trilyun.

Total Penghematan adalah sebesar = Rp 7,5 T + Rp 18 T + Rp 17,5 T = Rp 43 Trilyun (EMPATPULUH TIGA TRILYUN RUPIAH)

Mudah2an idee ini bisa dipropagasikan ke jajaran Pimpinan Pemerintahan atau Executive Perusahaan, dan diterapkan mulai 1 Januari 2008 (tanpa menaikkan harga BBM). Rakyat bisa bernafas lega, Citra Kabinet Indonesia Bersatu makin baik.

Di Indonesia, yang sudah menerapkan Telecommuting ini adalah IBM Indonesia, bisa tanya ke Ibu Betty Alisyahbana, Dirut-nya. Juga ada yang lainnya, yaitu CISCO Indonesia dan Ernst & Young Jakarta.

Keuntungan lainnya adalah makin berkembangnya bisnis para Operator/Penyelenggara Jaringan Telekomunikasi/Internet, para Pengelola Warnet, Wartel (traffic telekomunikasi meningkat, revenue meningkat, profit makin besar). Jaringan 3G yang sudah satu tahun lebih menjadi tidak mubazir.

Semoga bermanfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bangsa dan negara.

hujan

Hari Jumat siang tanggal 7 Desember 2007 Jakarta kembali diguyur hujan lebat selama 1-jam, pertanda datangnya musim hujan yang akan berlangsung sampai dengan bulan Maret 2008. Dalam waktu yang relatif singkat ini, kota Jakarta dan sekitarnya tergenang air, karena macetnya selokan-selokan pembuangan air. Jalan Protokol Jl. Thamrin tidak luput dari serangan banjir, didepan Hotel Nikko. Tinggi air mencapai kedalaman sampai 30 centimeter, sehingga banyak mobil sedan terpaksa minggir kekanan yang airnya agak dangkal untuk menghindari mogok di jalan.

Kondisi ini menyebabkan kemacetan di jalan-jalan utama Jakarta, karena sifatnya traffic lalulintas yang saling terkait dari satu ruas jalan dengan jalan lainnya yang terhubung. Ini baru pemulaan musim hujan, karena hujannya hanya sebentar-sebentar, tetapi sudah mampu untuk membuat jalan-jalan di kota Jakarta dan sekitarnya macet total.

Berapakah kerugian masyarakat dan perusahaan-perusahaan karena sebab yang relatif sepele ini? Menurut Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), kerugian akibat kemacetan lalulinas ini bisa mencapai Rp 48 Trilyun, karena maningkatnya penggunaan BBM, hilangnya waktu kerja yang produktif, produktivitas pekerja yang menurun ditinjau dari berkurangnya waktu kerja, kelelahan karyawan setelah menunggu ber-jam-jam di mobil, menambah stress karyawan, dan bisa menimbulkan menurunnya kesehatan karyawan, dan lain-lain lagi efek negatif.

Mengingat musim hujan akan berlangsung selama 3 bulan, maka apakah ada solusi jangka pendek untuk menanggulangi banjir di Jakarta dan sekitarnya? Rasanya tidak ada solusi yang cepat dan efektif untuk menanggulangi banjir di Jakarta dan sekitarnya, sebab upaya-upaya pembangunan fisik untuk mencegah banjir bisa memakan waktu ber-tahun-tahun!

Maukah Pemerintah dan Perusahaan BUMN dan Swasta membiarkan banjir yang akan berlangsung selama 3 bulan ini, dengan dampak yang pasti macetnya lalulintas seperti yang kita alami akhir-akhir ini? Akankah hilangnya jam kerja, produktivitas karyawan, meningkatnya biaya transportasi, keterlambatan penyelesaian pekerjaan/proyek dibiarkan begitu saja?

Kemacetan lalulintas tidak hanya akibat banjr, tetapi seperti kita alami tiap hari, bisa akibat tidak tertibnya pengguna jalan, adanya pembangunan Busway, tidak adanya Polisi Lalulintas/Petugas yang mengatur jalan, demo atau unjuk rasa, dan lain-lain.

Tidak bisakah kita selaku Pimpinan Lembaga/Institusi/Departemen atau CEO Perusahaan melakukan upaya-upaya yang kreatif dan innovatif untuk menanggulangi macetnya lalulintas (akibat dari berbagai kondisi tersebut diatas) di Jakarta dan sekitarnya?

Kerugian akibat macetnya lalulintas akan bertamnbah lagi di-awal tahun 2008, dengan dimulainya pembatasan penggunaan Bensin Premium bagi perorangan, diganti dengan Bensin Premium beroktan tinggi (90-95%), dengan harga yang hampir dua kali lipat (sekitar Rp 7600 per liter).

Salah satu upaya kreatif dalam menanggulangi kemacetan lalulintas adalah dengan melakukan perubahan budaya kerja dari budaya berkantor tiap hari, menjadi berkantor bila diperlukan. Selebihnya, karyawan tetap tinggal di rumah atau tempat lain yang dekat rumah, seperti Lokasi HotSpots WiFI, Warnet, Cybercafe, tempat2 rekreasi/restauran yang ada sarana jaringan telekomunikasi Broadband, dll.

Kami percaya bahwa sudah saatnya untuk menerapkan budaya kerja baru itu yang biasa dikenal dengan nama Telecommuting, atau Home Working atau eWork, sebab sudah tersedianya sarana2 sbb:

  • Warnet di segenap pelosok kota
  • Sarana Jaringan Telekomunikasi Broadband: Telkom Speedy (ADSL), Layanan 3-3.5G Seluler GSM (HSDPA, UMTS), Wideband CDMA (Seuler dan FWA).
  • Sarana Low Speed Internet: GPRS, Dial-up PSTN, Telkomnet Instant, dsb.

Penggunaan Warnet untuk Telecommting dapat dilakukan melalui kerjasama dengan Asosiasi2 Warnet, sperti APWKomitel, AWARI, dan AWALI (Linux).

Sedangkan penggunaan jaringan Broadband dapat dilakukan melalui kerjasama dengan para Operator. Untuk individu, maka cukup yang bersangkutan menjadi pelanggan Operator yang terkait. (GSM, CDMA FWA, operator jaringan optik, jaringan Broadband Wireless, dll).

Perihal jenis-jenis pekerjaan macam apa saja ayng sudah memungkinkan untuk diterapkan cara kerja Telecommuting/Home Working kita serahkan kepada para Pimpinan Departemen/Lembaga/Institusi atau CEO Perusahaan-perusahaan untuk menetapkannya.

Yang terpenting, harus ada komitment untuk memulainya, dengan jadwal penerapan secara bertahap.

Silahkan ditanggapi.

ITU Regional Workshop

ITU Regional Workshop on ICT Applications for Rural Communication Development diselenggarakan di Hotel Sanur Beach, Denpasar, Bali dari tanggal 28 Nov -30 Nov 2007, dihadiri oleh negara2 Asia pasifik, antara lain Jepang, Nepal, Pakistan, Bangladesh, Filipina, Malaysia, Indonesia, Timor Leste, Sekretariat ITU AP Region (Ms. Aurora Rubio), World Bank dan eWorldwide Group (Dr. Salma Abbasi).

Sessi terakhir Workshop tersebut adalah yang paling menarik, sebab merumuskan Kesimpulan dari Sessi2 sebelumnya untuk keberhasilan pengembangan telekomunikasi pedesaan, memberdayakan masyarakatnya (yang ter-marginal-kan) dan mengentaskan kemiskinan, sbb:

  1. Pemerintah masing-masing negara hendaknya mempunyai komitmen yang kuat untuk keberhasilan pelaksanaan Pengembangunan Telekomunikasi Pedesaan (Rural) untuk memajukan masyarakatnya dan mengentaskan kemiskinan.
  2. Pelaksanaannya memerlukan kerjasama yang erat antara berbagai Departemen Pemerintahan/Institusi (kalau Indonesia: DEPKOMINFO, DEPDIKNAS, BAPPENAS, DEPKEU), dengan sektor swasta (Perusahaan Swasta, Suppliers, BUMN), dengan Asosiasi/kelompok Masyarakat (APWKomitel, AWARI, AWALI, APJII, ASPILUKI, APKOMINDO, MASTEL, Asosiasi Content Providers seperti ANIMA, IMOCA, dsb), dengan Organisasi Internasional/Global (ITU, World Bank, UNDP, ADB, eWorldwide. Istilah keren-nya meminjam dari Dr. Salma Abbasi: Multi-Sectoral, Multi-Stakeholders Partnership, atau Public-Private-Partnership (PPP).   Sudah banyak sekali keberhasilan penerapan TIK di pedesaan untuk mentransformasikan masyarakatnya melalui TIK dan mengentaskan kemiskinan yang dipaparkan dalam Workshop, seperti di Pakistan, Bangladesh dan India.
  3. Organisasi yang dianggap paling tepat bagi upaya ini adalah sebuah Superbody yang memiliki kewenangan lintas sektoral dan lintas stakeholders, langsung dibawah kepemimpinan Nasional. Organisasi ini perlu dilengkapi dengan Sekretariat (kalau di Filipina, namanya Executive Council) yang menjadi motor penggerak organisasi yang aktif, proaktif, innovatif dan kreatif dalam menjalankan dan memainkan kewenangan luas yang telah diberikan (kalau di Indonesia adalah organisasi DeTIKNas. Soal belum adanya anggaran tidak bisa menjadi alasan kemandulan organisasi, sebab dengan kewenangan yg diberikan, seperti contoh di beberapa negara, mampu menggalang dana dari sektor swasta/asosiasi/badan-badan Internasional melalui PPP tersebut diatas, untuk menghasilkan hasil-hasil yang nyata) .
  4. ITU diminta untuk mencarikan peluang-peluang bisnis dari negara-negara maju (outsourcing tenaga kerja dalam berbagai bisnis, seperti call center, system analysts, financial analyst, software design and development, webdesign, software support, application support, dsb) untuk ditawarkan kepada tenaga-tenaga muda di negara-negara berkembang uyang memiliki skill, keahlian, kreativitas dan inovasi yang diperlukan. Tujuannya bukan untuk brain drain (mengirim SDM ini ke negara2 maju), namun untuk melakukan kerja jarak jauh (eWork), sehingga biayanya sangat kompetitif dan meningkatkan Devisa negara2 berkembang. Ini hanya bisa dilakukan setelah daerah pedesaan/rural terjangkau layanan TIK, dan masyarakatnya mendapat pendidikan yang sesuai. Selain itu, adanya sarana TIK di pedesaan dapat menghidupkan perekonomiannya, berkembangnya e-commerce DN dan LN (export), mengetahui harga jual produk2 mereka (via Internet), sehingga memotong margin besar yg diperoleh para calo2/mafia.
  5. Masing-masing Negara/Pemerintah agar memberikan kesempatan kerja bagi wanita dan pemuda/pemudi di negara masing2, sebab mereka adalah SDM yang potensial/kreatif/innovatif dan merupakan persentase kependudukan yang cukup substansial (wanita 50% populasi, pemuda/pemudi 35% populasi).
  6. ITU agar mengkoordinasikan penyediaan tenaga2 ahli yang berpengalaman yang diperlukan dalam pemanfaatan TIK di wilayah rural/pedesaan, baik yang berasal dari negara2 maju maupun negara2 berkembang. Pendanaanya melalu sponsorship dari Badan2 Internasional, Negara maju, atau swasta/perusahan besar.
  7. Di masing2 negara agar didakan pemberian penghargaan atau Award bagi individu/organisasi/perusahaan yang sukses dalam pemanfaatan TIK bagi wilayah pedesaan/rural, serta bisa berkesinambungan. Penghargaan ini dalam kerangka sosialasi keberhasilan tsb agar menjadi contoh bagi lokasi-lokasi lainnya.
  8. Saran dari Mr. Yasuhiko Kawasumi, Rapporteur ITU Study Group 2 (Jepang), bahwa saat ini adalah saat untuk melaksanakan program2 secara nyata, bukan terus-menerus berseminar/workshop (mungkin karena gemes/kesel melihat kenyataan di banyak negara, setelah beberapa tahun, masih pada tahap perencanaan, dan ber-putar2 disitu saja).

Semoga informasi ini bermanfaat bagi pembangunan bangsa dan negara, serta sebagai bahan introspeksi di bidang masing-masing.  Silahkan diberikan tanggapan , atau saran-saran yang positif.

Selamat Datang di Blog https://sroestam.wordpress.com.

Blog ini mengkhususkan dalam pertukaran informasi dan diskusi tentang Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK/ICT), serta problem dan solusinya, termasuk problem dan solusi permasalahan Nasional yang menonjol untuk mendapatkan perhatian pimpinan Nasional dan masyarakat yang peduli.

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!