Archive for the ‘Pengganti Minyak Tanah’ Category

Beberapa hari menjelang Tahun baru 1 Januari 2008, saya heran melihat deretan antrean panjang ratusan Jerrycan Plastik sepanjang Jalan Rempoa Raya, dekat rumah saya. Ketika saya tanyakan, ternyata sudah beberapa hari mereka menunggu penjualan terakhir minyak tanah, sebab ada rumour (apakah rumour atau ada pengumuman resmi?) bahwa mulai 1 Januari 2008 minyak tanah tidak lagi dijual buat masyarakat, sebab sudah ada progam penggunaan tabung gas dan kompor gas sebagai penggantinya.

Kemarin malam saat sedang menonton Siaran Berita TransTV Bandung, saya tersentak kaget melihat sebuah wawancara dengan seorang Wirausahawan di Kota Ciamis, bahwa perusahaannya sudah berhasil membangun Pabrik Pemrosesan Sampah menjadi Briket Arang sebagai pengganti Minyak Tanah seharga Rp 1.600,- per Kilogram. Produksinya cukup besar untuk memenuhi permintaan masyarakat kota Ciamis, sehingga di kota itu tidak diperlukan lagi Minyak Tanah!

Terpikir oleh saya, mengapa solusi atas berbagai permasalah di Indonesia yang direncanakan oleh Pemerintah, selalu akan membuat masyarakat makin repot atau menderita, seperti:

  • Mengganti Distribusi Minyak Tanah dengan tabung-tabung Gas Elpiji yang harganya relatif lebih mahal
  • Untuk menaggulangi kemacetan Lalulintas di kota2 besar, dan untuk mengurang Subsidi BBM, maka dilakukan langkah2 sbb:
    • Penerapan Pola 3-in-1
    • Membangun jaringan Busway di jalur jalan protokol yang membuat jalan2 pinggiran makin macet (menurut pakar, menanggulangi kemacetan dengan kemacetan)
    • Menaikkan harga BBM dengan mengubah Brand Premium 88 menjadi Premium 90 (Rp 6.250/liter)
    • Pompa Bensin Premium 88 dipindahkan ke luar kota, untuk memaksa masyarakat kota membeli bensin yang lebih mahal!

Untuk meningkatkan citra baik Kabinet Indonesia Bersatu, maka kami sarankan agar Pemerintah melakukan langkah-langkah dan himbauan kepada masyarakat , melaui Pidato Kenegaraan oleh Presiden R.I. SBY menyambut Tahun Baru 1 Januari 2008, yang antara lain menyampaikan hal-hal sbb:

  • Menunda Pengumuman Penghentian Distribusi MinyakTanah untuk memberi kesempatan kepada Masyarakat untuk mencari penggantinya yang lebih murah
  • Menghimbau pengusaha swasta/UKM di tiap kota untuk mengikuti jejak pengusaha swasta Kota Ciamis, yaitu membangun Pabrik Pemrosesan Sampah menjadi Briket Arang pengganti Minyak Tanah
  • Menunda Kenaikan Harga BBM Premium 90
  • Menghimbau kepada Perusahaan BUMN/Swasta dan Masyarakat menerapkan secara bertahap Budaya Telecommuting, atau Teleworking atau Home Working dengan memanfaatkan Jaringan Broadband 3G, 3.5G, EDGE, GPRS, CDMA-EVDO, ADSL-Speedy, dial-up Internet, dan Warnet2 yang terdekat, sehingga mengurangi kemacetan di jalan-jalan kota besar, dan mengurangi konsumsi BBM.

Effort yang dibutuhkan oleh Pemerintah untuk hal tersebut diatas adalah sangat minimal, tidak perlu ada investasi apa-apa, sebab semuanya dilakukan oleh Swasta atau Masyarakat sendiri. Keuntungannya adalah meningkatnya CITRA Kabinet Persatuan Indonesia (sebab tidak mengumumkan hal-hal yang membuat Rakyat repot atau menderita) dan tidak ada investasi apapun yang diperlukan, dan Rakyat akan menerima berita awal tahun 2008 ini dengan rasa gembira serta optimisme yang tinggi.

Khusus tentang rincian Swadaya Masyarakat dalam pembuatan Briket Arang dari Sampah, kami cuplikan berita dari koran “Tribun Jabar Online” (sekaligus mohon ijin copyright-nya). Sedangkan untuk Perubahan Budaya Telecommuting, dapat dilihat link sbb:

https://sroestam.wordpress.com/2007/12/11/per-1-jan-2008-harga-bensin-premium-naik-ke-rp6250liter-apa-tidak-ada-alternatif-lain/

———– Cuplikan Berita Tribun Jabar Online ————

GOOD CITIZEN : UJANG SOLICHIN
UJANG SULAP SAMPAH JADI BRIKET

KOPRAL Kepala (Kopka) Ujang Solichin boleh dibilang prajurit rancage (kreatif). Di sela-sela kesibukannya sebagai prajurit TNI ia mampu memanfaatkan waktunya dengan gagasan yang penuh inovatif.
Salah satu diantaranya dengan membuat arang briket berbahan baku sampah. Sampah apa saja, terutama sampah organik kering seperti daun-daun, rumput, serpihan kayu, bongol kayu, serbuk gergaji, kertas dan segala macam sampah yang bisa dibakar jadi arang dan abu. Di tangan bapak empat anak ini, arang dan abu hasil pembakaran sampah tadi dicetak jadi briket arang setelah dipress dengan mesin khusus rancangan sendiri.

Briket arang kemudian dijadikan bahan bakar kompor dengan nyala apinya tak kalah dengan nyala api kompor gas. Satu kilo arang briket buatan Ujang Solichin yang dijual seharga Rp 1.600 itu, setara dengan kekuatan 1 liter minyak tanah yang HETnya Rp 2.235/liter.

Usaha briket arang ini sudah dirintis Ujang sejak bulan Juli 2005 lalu, hanya beberapa hari setelah masyarakat Indonesia diguncang kebijakan kenaikan bahan bakar minyak (BBM) pada bulan April 2005. Saat itu harga minyak tanah melambung dari Rp 900/liter sampai jadi Rp 2.235/liter di tingkat masyarakat umum.

Dengan ide awal untuk mencari energi alternatif, Ujang kini sudah menjadi ‘jendral’ di bidang usaha pembuatan briket arang. Dan penduduk Lingkungan Pasir Angin RT 06 RW 06 Kelurahan Kertasari ini punya markas khusus di jalan raya Ciamis-Banjar Nomor Km 7 (CMS) No 341 Desa/Kecamatan Cijeungjing. Markas yang dikontraknya Rp 10 juta per tahun tersebut sekaligus merupakan kantor APABRIC (Asosiasi Pengusaha Arang Briket Ciamis) yang ketuanya Ujang Solichin sendiri.

Sebagai prajurit TNI yang suka keluyuran dari kampung ke kampung, Ujang mengaku merasakan sekali kesulitan warga akibat kenaikan BBM. Sebagai orang yang pernah mengenyam pendidikan di sekolah teknis, Ujang yang tamat dari STM Dr Sutomo Cilacap tahun 1987 ini merasa mendapat ide saat menyaksikan buruh-buruh penggergajian kayu memanfaatkan serbuk gergaji untuk bahan tungku saat memasak air maupun nasi liwet.

‘Serbuk gergaji tersebut dipadatkan dibakar dalam tungku khusus, apinya biru menyala. Saya pikir kenapa serbuk gergaji tersebut tidak dibikin briket arang saja. Saya mulai mengutak-atik di lantai II rumah saya di Pasir Angin. Akhirnya terciptalah briket arang seperti sekarang, bahan bakunya tidak hanya serbuk gergaji, tetapi dari bermacam-macam sampah,’ tutur Ujang Solichin kepada Tribun Senin (18/9).

Briket arang berbahan baku sampah buatan Ujang ini tidak menimbulkan perih asap dan tidak menyisakan limbah beracun B2 seperti halnya briket batu bara. Briket arang buatan Ujang ini bisa digunakan untuk memasak dengan memakai kompor khusus, dan juga bisa digunakan untuk bahan arang pembakar sate ‘Niat saya sekarang memproduksi briket arang ini bukan untuk menyaingi minyak tanah. Terlebih adalah untuk memanfaatkan sampah yang sekarang menumpuk di TPA Handapherang dan TPA Ciminyak. Ada 40 KK pemulung yang sudah siap dibina untuk menjadi produsen arang dari timbunan sampah di kedua TPA tersebut. Bagaimana pun juga sampah kota, kini menjadi persoalan serius, ingat saja kejadian TPA Leuwigajah atau musibah longsor TPA Bantargebang baru lalu,’ imbuhnya.
Menurut Ujang, tumpukan sampah kota yang dibuang ke TPA tersebut sebenarnya bisa digunakan dan bermanfaat. Salah satu diantaranya dibakar jadi arang dan arangnya kemudian jadi briket.

Dengan bahan baku serbuk gergaji, arang batok, limbah tapas kelapa kini Ujang memproduksi arang briket 1-2 kuintal per hari dengan mempekerjakan sembilan pemuda pengangguran dan putus sekolah.

‘Tiap orang diberi upah secara borongan Rp 300/kg briket. Seorang pekerja mampu mendapatkan upah Rp 15.000/hari, tergantung produktivitasnya,’ ujar Ujang yang melakoni usaha briket arangnya ini setelah meminjam uang dari BRI sebesar Rp 31 juta untuk membeli dan membuat berbagai mesin.

Bila usahanya berkembang, menurut Ujang, pihaknya akan bekerja sama dengan sejumlah SLB yang ada di Ciamis, merekrut pemuda cacat untuk jadi pekerja pembuatan arang briket. ‘Yang penting yang bersangkutan bisa melihat akan kami terima. Pemuda cacat kan susah masuk kerja dimana pun,’ ujarnya.

Ujang sendiri sekarang mengaku pusing karena pesanan briket arang terus mengalir. Misalnya dari Pabrik Peleburan Tima Aki di Leuwigajah sebanyak 10 ton perminggu. Dan dari Perkebunan Teh di Bandung selatan sebanyak 50 ton per bulan.

‘Sementara kami hanya mampu memproduksi briket arang 7 kuintal sampai 1 ton seminggu. Untuk saja mereka mau menampung berapa pun adanya,’ ujar Ujang yang berniat segera menyerahkan usaha arang briketnya kepada yang lebih professional.

‘Saya tentu tetap mengutamakan tugas saya sebagai prajurit. Usaha briket arang akan serahkan kepada yang lebih professional. Saya sekarang, hanya punya keinginan untuk mempaten hak cipta briket arang ini. Cuma biayanya cukup besar, katanya sampai Rp 10 juta,’ tutur Ujang yang setelah tamat STM Dr Sutomo Cilacap tahun 1987 lalu langsung membuat PLTA mini di Curug Panganten Desa Kepel, Cisaga sehingga mampu menerangi dua desa. Tapi PLTA minihidro yang dikelola Ujang ini tersingkir setelah listrik PLN masuk desa tersebut pada tahun 1992. Ujang sendiri memilih masuk jadi prajurit TNI yang kini berdinas di Ciamis.

‘Dari tumpukan sampah masih banyak yang mungkin bisa digunakan. Seperti untuk membuat pavingblock, eternity, keramik, batako dan segala macamnya. Tinggal sekarang bagaimana memilah-milah sampah yang mungkin digunakan,’ ujar Ujang tentang idenya yang masih belum terlaksana dalam pemanfaatan tumpukan sampah di TPA Handapherang. (andri m dhani)

————————–0———————-

Pada kesempatan ini kami ingin mengusulkan agar Pemerintah memberikan penghargaan kepada Pak Ujang atau para inventor Indonesia lainnya, agar makin banyak yang ber-kreasi dan ber-innovasi untuk memajukan bangsa dan negara Indonesia.

Semoga bermanfaat.

Wassalam,

Advertisements