Archive for the ‘Telecommuting’ Category

Diskusi TIK Des07

Diskusi Akhir Tahun Telematika 2007 diselenggarakan pada hari Kamis, 27 Desember 2007 di Ruang Sawala Gedung Utama Dept. Keuangan R.I. atas prakarsa Bapak Eddy Satiya, Asdep bidang Telematika dan Infrastruktur Menko Perekonomian, dan dibuka oleh Bapak Kemal Stamboel, Wakil Ketua Harian DeTIKNas.

Acara kemudian dilanjutkan dengan penyampaian pandangan oleh dua orang nara sumber, yaitu Bapak Giri Suseno, Ketua MASTEL dan Bapak Eddy Satriya.

Bapak Giri Suseno menyampaikan ulasan tentang filosofi dan pengertian Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK), serta mencoba untuk menelaah keberhasilan atau kekurang berhasilan pengembangan TIK di Indonesia sebagai enabler pembangunan perekonomian di Indonesia selama ini.

Selanjutnya dalam acara diskusi dan tanya-jawab, pak Haitan Rahman menyampaikan tentang belum transparannya layanan publik di bidang Telematika, juga tentang belum adanya Repository Knowledge di Indonesia, dengan akibat hilangnya Knowledge ketika para Knowledge Workers ber-migrasi ke L.N. (Malaysia) karena alasan tidak adanya lagi tempat kerja mereka yang sesuai dengan keahlian mereka (contoh, PT Dirgantara Indonresia).

Pak Hartoyo yang dizaman Krismon tahun 1997 pernah sesumbar bahwa beliau bisa meningkatkan Kurs rupiah vs Dollar, US$1=Rp 1000,-, menyatakan bahwa Pemerintah adalah bagian dari permasalahan di Indonesia. Beliau juga meng-kritik ketidak-hadiran Menko Budiono di acara ini, sebagai simbol ke-tidak adanya komitmen untuk beliau atas peran TIK selaku enabler untuk memajukan perekonomiasn Indonesia.

Senada dengan pak Hartoyo, pak Setyanto P Santosa, mantan Diruttel, menyatakan bahwa diperlukan e-Leadership di bidang TIK bila ingin keberhasilan peran TIK dalam memajukan perekonomian bangsa. E-Leadership dalam TIK yang dapat dicontoh adalah sebagaimana ditunjukkan oleh mantan Perdana Menteri Malaysia Mahatir Muhammad, diamana beliau secara pribadi memang memanfaatkan dan menghayati kegunaan TIK dalam meningkatkan efisiensi dan produktivitas kerja. Beliau memiliki visi yang jelas bagaimana mengembangkan TIK di negerinya.

Pak Setyanto juga menyatakan bahwa Proyek Serat Optik Palapa Ring perlu ditinjau ulang, mengingat kita belum mengoptimalkan penggunaan Satelit yang kita miliki. Untuk jarak jauh, Satelit lebih cost-effective dibandingkan dengan Serat Optik, terutama juga mengingat kebutuhan akan bandwidth di Indonesia Timur belum terlalu besar untuk saat ini.

Pak Wahyu yang mewakili APJII menyatakan keheranannya, bahwa ditingkat perencana, BAPPENAS tidak bisa menunjukkan dimana posting-nya dan berapa besarnya anggaran TIK Pemerintah. Rupanya anggaran TIK itu terbenam dalam pos-pos anggaran lainnya, bukan spesifik anggaran TIK.

Perihal masih mahalnya tariff Internet di Indonesia, pak Wahyu menjelaskan bahwa profit margin perusahaan-perusahaan anggota APJII sudah sangat tipis, sehingga penurunan tarif Internet hanya bisa dilakukan oleh para Operator yang memiliki jaringan backbone (dengan profit margin yang besar).

Pak Barata dari INDOWLI menyampaikan keluhannya bahwa sudah lebih dari 2 tahun perijinan baru Jaringan Akses Wireless di-bekukan, sehingga banyak pengusaha yang kehilangan kesempatan berusaha.

Pak Benny Nasution mengingatkan bahwa Rencana Pembangunan Palapa Ring yang ibarat Jalan Toll, belum sinkron dengan rencana pembangunan Feederline-nya, yaitu akses jaringan ke para calon pengguna.

Pak Srijanto mengingatkan agar dalam pelaksanaan Proyek USO, jangan sampai menjurus ke “akal-akalan“, tidak sesuai dengan ketentuan Undang-Undang, sebab menurutnya, Proyek USO 1 dan 2 dianggap gagal.

Pak San Herib dari PT Pos Indonesia menawarkan jaringan fisik PT Pos Indonesia dalam layanan USO, karena menjangkau banyak lokasi-lokasi pedesaan yang terpencil.

Ibu Dayu dari INDOSAT menyarankan agar tarif BHP didasarkan atas pemakaian Bandwidth sesuai perijinannya, sehingga pihak Ditjen Postel tidak teralu di-repotkan dengan survey dan inspeksi lapangan.

Ibu Dayu juga menyarankan agar Regulator Indonesia melakukan Benchmarking dengan negara-negara lain (Australia), contohnya, Perangkat Payphone disediakan dengan menggunakan teknologi baru, bukan teknologi yang lama.

Pak Rahman dari LSM Pejuang Tanpa Akhir, mengingatkan agar berhati-hati dalam menerapkan modernisasi, jangan sampai kita hanya menjadi ajang “pemerasan” asing.

Pak Naswil Idris dari APWKomitel mempertanyakan angka-angka yang sering di-quote para pejabat yang diragukan kebenarannya, seperti tingkat pembajakan yang sebesar 87% dan jumlah pengguna Internet yang 25 juta orang.

Ibu Nies dari XL meminta konfirmasi apakah Peraturan Perundangan tentang kepemilikan Asing berlaku surut atau tidak?

Pak Sunyoto dari UGM menyarankan agar masyarakat dipersiapkan secara matang agar bisa menerima kemajuan TIK. Contohnya, Yogya sudah menerapkan e-Gov, tetapi tetap saja para Pejabat diharuskan baca e-mail lewat sekreataris-nya, karena e-mail itu harus di-arsipkan dulu nomor-nya.

Pak Sumitro Roestam dari MASTEL meneruskan kritik dari Dr. Ir. Taufik Hasan, mantan Kapuslitbangtel, bahwa pemanfaatan TIK di Indonesia sangat lambat, sehingga banyak sekali Opportunity yang hilang untuk memajukan bangsa ini.

Pak Sumitro juga menyarankan agar sinkronisasi dan koordinasi antar Departemen, Instansi dan Lembaga Pemerintahan lebih ditingkatkan, agar tidak terjadi tumpang tindih atau duplikasi dalam pemanfaatan TIK di Indonesia.

Dipertanyakan pula perihal Flagship DeTIKNas yang hanya dilaporkan yang 7-butir saja, padahal yang 9-butir lagi juga cukup penting atau strategis, misalnya Program Cheap PC, yang bila dilaksanakan sebagai produk nasional akan dapat membangkitkan Industri Manufacturing dan Software Dalam Negeri.

Pak Sumitro juga mengimbau agar para Penyelenggara Jaringan Backbone Internet untuk menurunkan tariff jasa mereka, mengingat ROE atau EBITDA mereka sangat tinggi. Ini juga menjadi perhatian KPPU dengan keputusannya agar menurunkan tarif jasa sampai 15%.

Akhirnya pak Sumitro menyarankan agar segera diterapkan budaya bekerja jarak jauh (Telcommuting, Teleworking) atau kerja dari rumah (Home Working), mengingat sudah banyak tersedia berbagai jaringan akses Internet, seperti Broadband Wireless (WiFi, 3G, 3.5G/HSDPA), Broadband Wirelines (Serat Optik, ADSL-Speedy), maupun dial-up Internet di Indonesia dengan tarif yang terjangkau. Disamping itu sudah ada lebih dari 5.000 warnet yang dapat digunakan utuk akses murah Internet. Keuntungannya, jalan-jalan di kota-kota besar menjadi tidak macet lagi, konsumsi BBM menurun, Pemerintah tidak perlu menaikkan harga BBM, lebih banyak lagi waktu untuk bekerja (tidak pelu buang waktu karena macet 3-jam tiap hari), sehingga produktivitas nasional meningkat.

Pak Djiwatampu menyarankan kepada pak Setyanto agar mengikuti Milis Telematika, agar mengetahui perkembangan Proyek Palapa Ring.

Akhirnya pak Kemal Stamboel, Pak Heru, pak Ismail dan pak Cahyana mewakili Pemerintah mencoba menjawab dan menjelaskan posisi Pemerintah/Regulator tentang berbagai masalah dan saran-saran yang disampaikan dari audience.

Diskusi ditutup pada sekitar pukul 14:00 WIB dan dlanjutkan dengan makan siang bersama.
Semoga catatan hasil Diskusi Akhir Tahun Telematika ini dapat memberikan manfaat bagi kemajuan bangsa dan negara.

Taksi Udara

Macet berjam-jam seperti menjadi siksaan rutin pengguna jalan di Ibukota Jakarta. Namun bagi mereka yang berkantong tebal, siksaan itu bisa berganti kenikmatan terbang dengan Taksi Udara. Peminat taksi udara berupa helicopter itu terus bertambah meski tariff angkutnya jutaan rupiah, begitu tulis Novita Amelilawaty, wartawan Jawa Pos pada hari Sabtu, 22 Desember 2007.

Saat ini baru ada satu buah perusahaan Taksi Udara jarak pendek yang ada di Indonesia, yang dimiliki oleh PT Air Pacific yang mulai tahun 1996 membuka layanan taksi udara ini untuk umum. Untuk sistem sewa transportasi udara jarak jauh, sudah ada Pelita Air Service, anak perusahaan Pertamina, memakai pesawat berpenumpang 35 orang atau lebih. Sedangkan Taksi Udara Air Pacifik ini khusus menggunakan Helkopter Bell 407 yang hanya mampu memuat 4-5 orang saja. Oleh karena itu sewa charteran per-jam-nya adalah US$1,400.00 atau Rp 13,6 juta (Tigabelas juta enamratus ribu rupiah saja!).

Memang bagi para Eksekutif Perusahaan Konglomerat seperti Lippo Group, Salim Group, Bakrie Group, dan lainnnya, mengeluarkan biaya transport sebesar Rp 13,6 juta per jam tidak ada artinya bagi mereka, sebab Output dari Meeting yang mereka hadiri yang nilainya bisa Milyar atau Trilyun Rupiah, baik secara langsung atau berupa sebuah Upportunity Bisnis masa depan. Jadi singkat kata, bagi mereka pengeluaran uang sebesar Rp 13,6 juta itu adalah “WELL JUSTIFIED”. Sehingga menurut laporan wartawan Jawa Pos tersebut diatas, terdapat antrean panjang untuk layanan Taksi Udara PT Air Pacific yang melayani rute-rute:

  • Karawaci – Hotel Aryaduta pp
  • Karawaci – Hotel Grand Hyatt pp
  • Karawaci – Hotel Mulia pp
  • Karawaci – Karawaci – Citra Graha pp
  • Karawaci – Bukit Sentul pp
  • Karawaci – Kemang Village pp
  • Rute-rute ke Bandara Sukarno Hatta dan Halim Perdanakusuma

Namun bagaimanakah pertimbangannya kalau uang sewa sebesar Rp 13,6 juta per jam dikeluarkan untuk biaya transport para Pejabat Pemerintahan, para Birokrat, Karyawan atau Eksekutif perusahaan ikan teri seperti kita-kita ini? Tentu jawabannya adalah “TOTALLY NOT JUSTIFIED”.

Sehingga solusi terbaik, paling cost-effective dan paling cepat dilaksanakannya adalah dengan menerapkan Budaya Kerja Baru, yaitu Telecommuting, atau e-Work atau Home Working, sebagaimana kami uraikan dalam posting pada beberapa Milis beberapa waktu yang lalu. Solusi ini dapat secara langsung menghindari terjebak dalam kemacetan lalulintas, menghemat waktu dan biaya transportasi, meningkatkan produktivitas pejabat/birokrat/eksekutif/karyawan yang melaksanakan budaya kerja baru ini. Rincian penjelasannya dapat bapak/ibu simak melalui link dibawah ini

https://sroestam.wordpress.com/2007/12/11/per-1-jan-2008-harga-bensin-premium-naik-ke-rp6250liter-apa-tidak-ada-alternatif-lain/

Variant dari solusi Telecommuting ini adalah dengan selalu membawa Laptop yang dilengkapi dengan DC-to-AC Converter (150 Watt seharga Rp 150.000,-) dan Modem 3.5G dari Indosat-m2, XL, Telkomsel atau Three (sewa perbulan untuk data 1,2 Giga Bytes sebesar Rp 350.000,- atau kurang). Ini biasa dilakukan oleh Ms. Jessica Quantero, Direktur Kemang Village. Saat kita bepergian di Jakarta untuk urusan bisnis dan terjebak kemacetan, maka tidak masalah, kita tetap dapat menyelesaikan pekerjaan kita dengan Laptop, ber-email, ber-Chatting via YM, atau Google Chat, ber-Audioconferencing pakai Skype atau sejenisnya, atau ber-Videoconferencing bila sinyal 3.5G-nya cukup kuat untuk mendukung transmisi HSDPA atau UMTS/EDGE.

Kami saat ini juga sedang melakukan Telecommuting dalam perjalanan saya dari Jember ke Surabaya, menulis artikel ini, serta mengirim ke Milis ini dan Blog saya di:

https://sroestam.wordpress.com

Dengan terlebih dahulu memohon maaf kepada Bapak Eddy Satriya, Asisten Deputi 5/V Menteri Koordinator Perekonomian, kami ingin menanggapi usul beliau untuk memindahkan Kantor2 Pemerintahan Pusat ke beberapa kota di Indonesia untuk menghindari kemacetan lalulintas di Jakarta. Tanggapan kami: usul pak Eddy Satriya kurang praktis, sangat mahal, memakan waktu yang lama, dan bisa menimbulkan masalah kordinasi antar Departemen-departemen Pemerintahan Pusat. Beliau belum mempertimbangkan permasalahan2 yang akan timbul sbb:

  • Memindahkan Pejabat/Staff/karyawan Pemerintahan Pusat ke kota2 lain di Indonesia akan membutuhkan pemindahan rumah y.b.s., membeli rumah baru atau menyewa rumah baru, memindahkan sekolah/kuliah anak2 mereka, perlu ongkos pindah kota, pindah sekolah/kuliah, perlu waktu penyesuaian, ganti KTP, nomor mobil, dsb. Untuk sekitar 1-juta pegawai Pemerintahan Pusat yang dipindahkan ke kota-kota diluar Jakarta, dengan asumsi rata2 biaya pemindahan Rp 10 juta/karyawan, maka perlu dana pemindahan karyawan sebesar Rp 10 Trilyun
  • Untuk menghadiri pertemuan2 Koordinasi Pemerintahan Pusat yang sewaktu-waktu diperlukan, perlu biaya perjalanan jauh yang memakan biaya besar.
  • Untuk integrasi jaringan data Pemerintahan Pusat, diperlukan jaringan Data Nasional yang berbiaya sewa besar perbulannya, karena perlu Bandwith transmisi data yang besar.

Usul Bapak Eddy Satriya ini dapat dilihat pada Blog beliau:

http://eddysatriya.blogspot.com/2007/11/memindahkan-ibukota-membangun-indonesia.html

Tulisan kami ini kami maksudkan sebagai pemanasan untuk:

Diskusi Akhir Tahun Telematika Indonesia” yang akan diselenggarakan pada hari Kamis, 27 Desember 2007, di Ruang Graha Sawala, Gedung Utama Lantai 1, Departemen Keuangan R.I., Jalan Lapangan Banteng Timur No 2-4, Jakarta, 10710.

Silahkan ditanggapi, disanggah, ataupun didukung, sehingga bisa mempercepat solusi penanggulangan masalah kemacetan lalulintas di kota-kota besar.

Bila mungkin, target penerapan Budaya Telecommuting, atau e-Work atau Home working ini adalah saat Fajar menyingsing diufuk timur pada tanggal 1 Januari 2008, dimulai dengan Perintah atau Himbauan dari Presdien R.I. Susilo Bambang Yudhoyono kepada:

  • Para Pimpinan Departemen Pemerintahan, Lembaga dan Institusi Pemerintah
  • Para Pimpinan Universitas
  • Para Eksekutif Perusahaan BUMN, Swasta, Koperasi dan UKM
  • Masyarakat Umum

Semoga upaya ini dapat membawa kemajuan yang pesat bagi bangsa Indonesia.

Android

Menyambung tulisan kami minggu lalu tentang usulan agar Indonesia menerapkan Telecommuting, eWork atau Home Working untuk menanggulangi kemacetan lalulintas di kota-kota besar, serta untuk mencegah kenaikan harga BBM Premium 90, maka kami sampaikan ulasan tentang Android, software stack untuk perangkat mobile, termasuk didalamnya Operating System, Middleware dan Aplikasi2 utama yang semuanya berbasis Open Source, sehingga para pengembang di seluruh dunia boleh ikut membuat apikasi2 baru dengan iming2 hadiah US$10 juta (untuk aplikasi2 yang terbaik). Inilah keunggulan Open Source software dibandingkan dengan Proprietary software, yg hanya dikembangkan oleh perusahaan pemilik software itu sendiri, makanya harga software-nya jadi mahal!

Hadiah sebesar US$10 juta ini disediakan oleh Google dalam kompetisi pembuatan aplikasi bernama “Android Developer Challenge” yang terbagi dalam 2 tahap, tahap Tahap I berakhir pada bulan Maret 2008 dengan hadiah US$25,000.- bagi masing-masing 50 pengembang pertama yang berhasil (total US$1,250,000.-).

Tahap II dimulai pada pertengahan tahun 2008, setelah tersedianya perangkat HP Android, dengan hadiah masing-masing sebesar US$257,000.- bagi 10 pemenang pertama, dan masing-masing sebesar US$100,000.- bagi 10 pemenang ke-dua (runner-up).

Android adalah proyek kelompok 30-an lebih operator dan perusahaan2 teknologi yang bernama Open Handset Alliance, dengan Google sebagai penyedia SDK (Software Developer’s Kit) dan bisa di download melali URL:

http://code.google.com/android/download.html

Aplikasi-aplikasi yang dapat dikembangkan pada platform Android adalah:

  • Social networking
  • Media consumption, management, editing, or sharing, e.g., photos
  • Productivity and collaboration such as email, IM, calendar, etc.
  • Gaming
  • News and information
  • Rethinking of traditional user interfaces
  • Use of mash-up functionality
  • Use of location-based services
  • Humanitarian benefits
  • Applications in service of global economic development
  • Whatever you’re excited about!

Contoh aplikasi Android dapat dilihat melalui tayangan Streaming Video Youtube para URL:

http://code.google.com/android

dimana Sergey Brin, penemu Youtube dan Steve Horowitz mendiskusikan tentang ketersediaan SDK dan contoh-contoh tayangan aplikasi Android pada Handphone.

SDK Android memberikan tools dan API (Aplication Programming Interface) yang diperlukan untuk membangun aplikasi Android menggunakan bahasa pemrograman Java. Feature-feature-nya adalah sbb:

  • Application framework enabling reuse and replacement of components
  • Dalvik virtual machine optimized for mobile devices
  • Integrated browser based on the open source WebKit engine
  • Optimized graphics powered by a custom 2D graphics library; 3D graphics based on the OpenGL ES 1.0 specification (hardware acceleration optional)
  • SQLite for structured data storage
  • Media support for common audio, video, and still image formats (MPEG4, H.264, MP3, AAC, AMR, JPG, PNG, GIF)
  • GSM Telephony (hardware dependent)
  • Bluetooth, EDGE, 3G, and WiFi (hardware dependent)
  • Camera, GPS, compass, and accelerometer (hardware dependent)
  • Rich development environment including a device emulator, tools for debugging, memory and performance profiling, and a plugin for the Eclipse IDE

HP yang terpasang aplikasi Android akan dapat mengakses Internet melalui berbagai medium, yaitu Bluetooth, EDGE, 3G, 3.5G (HSDPA) dan WiFi, sehingga HP ini akan menjadi pilihan pertama para pemakai untuk melakukan Telecommuting, eWork atau Home Working, sebab dengan perangkat mobile tersebut pekerjaan tersebut menjadi sangat mudah dan convenient, dari pada keribetan untuk menenteng Laptop dan menghidupkannya.

Dipersilahkan kepada adik-adik yang kreatif dan innovatif, para anggota JUG (Java User Group) terutama sdr. Frans Thamura untuk mengikuti sayembara pembuatan aplikasi Android ini, sehingga bila menang, dapat memperoleh biaya hidup yang cukup untuk satu tahun.

Silahkan dipelajari dan ditanggapi.

hujan

Hari Jumat siang tanggal 7 Desember 2007 Jakarta kembali diguyur hujan lebat selama 1-jam, pertanda datangnya musim hujan yang akan berlangsung sampai dengan bulan Maret 2008. Dalam waktu yang relatif singkat ini, kota Jakarta dan sekitarnya tergenang air, karena macetnya selokan-selokan pembuangan air. Jalan Protokol Jl. Thamrin tidak luput dari serangan banjir, didepan Hotel Nikko. Tinggi air mencapai kedalaman sampai 30 centimeter, sehingga banyak mobil sedan terpaksa minggir kekanan yang airnya agak dangkal untuk menghindari mogok di jalan.

Kondisi ini menyebabkan kemacetan di jalan-jalan utama Jakarta, karena sifatnya traffic lalulintas yang saling terkait dari satu ruas jalan dengan jalan lainnya yang terhubung. Ini baru pemulaan musim hujan, karena hujannya hanya sebentar-sebentar, tetapi sudah mampu untuk membuat jalan-jalan di kota Jakarta dan sekitarnya macet total.

Berapakah kerugian masyarakat dan perusahaan-perusahaan karena sebab yang relatif sepele ini? Menurut Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI), kerugian akibat kemacetan lalulinas ini bisa mencapai Rp 48 Trilyun, karena maningkatnya penggunaan BBM, hilangnya waktu kerja yang produktif, produktivitas pekerja yang menurun ditinjau dari berkurangnya waktu kerja, kelelahan karyawan setelah menunggu ber-jam-jam di mobil, menambah stress karyawan, dan bisa menimbulkan menurunnya kesehatan karyawan, dan lain-lain lagi efek negatif.

Mengingat musim hujan akan berlangsung selama 3 bulan, maka apakah ada solusi jangka pendek untuk menanggulangi banjir di Jakarta dan sekitarnya? Rasanya tidak ada solusi yang cepat dan efektif untuk menanggulangi banjir di Jakarta dan sekitarnya, sebab upaya-upaya pembangunan fisik untuk mencegah banjir bisa memakan waktu ber-tahun-tahun!

Maukah Pemerintah dan Perusahaan BUMN dan Swasta membiarkan banjir yang akan berlangsung selama 3 bulan ini, dengan dampak yang pasti macetnya lalulintas seperti yang kita alami akhir-akhir ini? Akankah hilangnya jam kerja, produktivitas karyawan, meningkatnya biaya transportasi, keterlambatan penyelesaian pekerjaan/proyek dibiarkan begitu saja?

Kemacetan lalulintas tidak hanya akibat banjr, tetapi seperti kita alami tiap hari, bisa akibat tidak tertibnya pengguna jalan, adanya pembangunan Busway, tidak adanya Polisi Lalulintas/Petugas yang mengatur jalan, demo atau unjuk rasa, dan lain-lain.

Tidak bisakah kita selaku Pimpinan Lembaga/Institusi/Departemen atau CEO Perusahaan melakukan upaya-upaya yang kreatif dan innovatif untuk menanggulangi macetnya lalulintas (akibat dari berbagai kondisi tersebut diatas) di Jakarta dan sekitarnya?

Kerugian akibat macetnya lalulintas akan bertamnbah lagi di-awal tahun 2008, dengan dimulainya pembatasan penggunaan Bensin Premium bagi perorangan, diganti dengan Bensin Premium beroktan tinggi (90-95%), dengan harga yang hampir dua kali lipat (sekitar Rp 7600 per liter).

Salah satu upaya kreatif dalam menanggulangi kemacetan lalulintas adalah dengan melakukan perubahan budaya kerja dari budaya berkantor tiap hari, menjadi berkantor bila diperlukan. Selebihnya, karyawan tetap tinggal di rumah atau tempat lain yang dekat rumah, seperti Lokasi HotSpots WiFI, Warnet, Cybercafe, tempat2 rekreasi/restauran yang ada sarana jaringan telekomunikasi Broadband, dll.

Kami percaya bahwa sudah saatnya untuk menerapkan budaya kerja baru itu yang biasa dikenal dengan nama Telecommuting, atau Home Working atau eWork, sebab sudah tersedianya sarana2 sbb:

  • Warnet di segenap pelosok kota
  • Sarana Jaringan Telekomunikasi Broadband: Telkom Speedy (ADSL), Layanan 3-3.5G Seluler GSM (HSDPA, UMTS), Wideband CDMA (Seuler dan FWA).
  • Sarana Low Speed Internet: GPRS, Dial-up PSTN, Telkomnet Instant, dsb.

Penggunaan Warnet untuk Telecommting dapat dilakukan melalui kerjasama dengan Asosiasi2 Warnet, sperti APWKomitel, AWARI, dan AWALI (Linux).

Sedangkan penggunaan jaringan Broadband dapat dilakukan melalui kerjasama dengan para Operator. Untuk individu, maka cukup yang bersangkutan menjadi pelanggan Operator yang terkait. (GSM, CDMA FWA, operator jaringan optik, jaringan Broadband Wireless, dll).

Perihal jenis-jenis pekerjaan macam apa saja ayng sudah memungkinkan untuk diterapkan cara kerja Telecommuting/Home Working kita serahkan kepada para Pimpinan Departemen/Lembaga/Institusi atau CEO Perusahaan-perusahaan untuk menetapkannya.

Yang terpenting, harus ada komitment untuk memulainya, dengan jadwal penerapan secara bertahap.

Silahkan ditanggapi.

Proyek OLTP adalah sebuah proyek mulia yang dicetuskan oleh Prof. Nicholas Negroponte dari MIT untuk mendonasikan sebuah Laptop bagi anak2 di negara berkembang dalam rangka pengentasan kemiskinan.

Inisiatif Prof. Negroponte ini diumumkan di World Economic Forum tahun 2005, dengan dukungan dari AMD, Google, Brightstar dan Red Hat. Pada bulan Desember 2005 Quanta Computer bersedia memproduksi OLPC seharga US$200. Produksi massal OLPC baru dimulai November 2007 ini, sebab pencarian dana kurang mendapat response dari banyak negara.

Untuk menanggulangi masalah dana ini Yayasan OLPC (Foundation) membuat program selama bulan November 2007 penjualan OLPC dengan merek XO seharga US$399, dengan cara “Buy One Donate One”, yaitu pembeli beli US$399, dapat satu OLPC XO, dan satu lagi di-donasikan ke seorang anak di negara berkembang. Jadi uang yang US$200 dipakai untuk beli OLPC XO bagi anak miskin di negara2 berkembang. Iklan tentang OLPC XO ini dapat dilihat di website http://youtube.com.

OLPC XO ini telah mendapatkan sertifikasi keamanan dari beberapa negara, dan saat ini dapat dijual secara legal AS, Kanada, Uruguay, Peru dan beberapa negara lainnya. Sertifikasi dari European Union akan didapat pada minggu depan.

Terkait dengan program OLPC Prof. Negroponte ini, melalui forum ini saya ingin menanyakan bagaimanakah kelanjutan dari Flagship DeTIKNas #11 “Cheap PC”? Apakah masih akan dilanjutkan ataukah telah dihapus dari program kerja DeTIKNas?

Kalau dihapus, kami sangat menyayangkan hal ini. Namun kalau masih ada, silahkan di sosialisasikan kepada masyarakat luas, agar bila diperlukan dukungan pendanaan, dapat digalang dari masyarakat mampu atau perusahaan besar, seperti yang dilakukan oleh Yayasan OLPC Prof. Negroponte di AS, dengan cara “Buy One Donate One”

Tentu saja tidak harus pakai produk Quanta Computer merek XO ex Taiwan, tetapi bisa saja produksi Laptop murah karya anak2 bangsa, seperti gPC Everex yang saya posting di milis beberapa hari yang lalu.

Untuk menekan biaya, dapat dipakai Open Source software, seperti gOS yg berbasis Ubuntu v.7.10 dan aplikasi-aplikasi Open Office dan Firefox yang gratis.

Silahkan ditanggapi.

Jalan menuju maraknya penggunaan mobile Internet ternyata masih cukup panjang. Ini diperoleh dari kenyataan bahwa revenue layanan ini yang diperkirakan mencapai US$66 milyar pada tahun 2007, ternyata baru mencapai US$9,5 milyar (ref: Yankee Group Study, “Mobile Internet Utopia: Imagine if Supply Could Satisfy Demand”). Angka perkiraan ini masih dianggap konservatif, karena didasarkan atas revenue dari layanan akses Internet saja, belum dari layanan-layanan lainnya.

Lalu layanan-layanan apa saja yang bisa menutup gap antara prediksi dan
realisasi mobile Internet ini? Ada 5 jenis layanan mobile phone yang berpotensi, yaitu:

  • Aplikasi Java Gmail
  • Google Map
  • Opera Mini
  • Fring (free mobile VoIP dan Chat), dan
  • Shozu (upload video dan foto dari HP)

Layanan lainnya yang punya potensi adalah Android dari Google yang gratisan, karena berbasis Linux, untuk memudahkan pelanggan mobile mengakses Internet. Yahoo juga tidak mau kalah, dan meluncukan layanan “OneSearch“, dan telah menjalin kerjasama dengan Indosat.

Bagaimankah sikap operator seluler Indonesia yang lainnya? Ini adalah
sebuah kesempatan untuk mengisi content layanan 3G yang sudah tersedia di Indonesia, serta memanfaatkannya untuk mempercepat pengembalian modal investasi 3G yang begitu mahal.

 Menurut pakar Internet, Tim Berner-Lee, layanan-layanan mobile Internet tersebut adalah standar layanan baru yang digolongkan sebagai:

  • “contextual” content,
  • location-based platform, dan
  • “user awareness” (presence)

Penerapan standar layanan baru ini diharapkan dapat meningkatkan traffic dan revenue mobile Internet (dan juga 3G).

Silahkan ditnggapi.

Pagi tadi pukul 08.30 WIB saya berangkat dari Jakarta ke Bandung untuk menghadiri sebuah rapat pengurus golf PGB di Klub Golf Dago, perjalanan tanpa hambatan berarti, tiba di Bandung dalam waktu  2 Jam.

Saat pulang pukul 17.00 WIB perjalanan melalui jalan toll Bandung-Jakarta berjalan cukup lancar, walaupun diselingi dengan hujan lebat saat lewat Padalarang. Lalulintas tiba-tiba macet setibanya di Toll Pondok Gede. Dari radio saya dengar kemacetan ada diseluruh Jakarta, salah satu sebabnya adalah naiknya air pasang di Pantai Kapuk /Bandara Cengkareng. Untuk mencapai Tebet, memakan waktu lebih dari satu jam.

 Untungnya saya bawa Laptop dan 3.5G modem, sehingga kemacetan ini tidak terasa, sebab saya sibuk baca e-mail dan menulis Blog di Word Press ini.

Jadi kesimpulannya, adanya jaringan 3.5G telah membantu saya menanggulangi kemacetan lalulintas Jakarta. Saya merasa tidak keilangan waktu secara percuma.

Himbauan saya, marilah kita manfaatkan keberadaan jaringan 3.5G untuk meningkatkan produktivitas dan efisiensi kerja kita. Kalau saja budaya kerja baru ini, yang biasa dikenal dengan telecommuting, maka berapa besar penghematan yg diperolehsecara nasional bagi bangsa Indonesia!